Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Sultan Syarif Ali dari Siak

Sultan Assaidis Asyarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi bin Sayyid Usman Syahabuddin, atau Tengku Udo Said Ali ditabalkan menjadi Sultan Siak Sri Indrapura ke-7 pada tahun 1784, menggantikan Sultan Yahya dengan gelar : Sultan Assayyidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin. Beliau memerintah sampai tahun 1810.

Pahlawan Revolusi Kemerdekaan
Diperbarui 7 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Sultan Syarif Ali dari Siak
Tengku Said Ali
Yang Dipertuan Besar Siak Sultan Syarif Ali ibni Syekh Sayyid Usman Syahabuddin
Raja Kesultanan Siak Sri Inderapura ke-7
Berkuasa1784 – 1810
PendahuluSultan Yahya
PenerusSultan Syarif Ibrahim
KelahiranTengku Udo Said Ali
Pasangan
  • Tengku Wak Saidah binti Tengku Musa
  • Tok Dalam Halimah binti Mahraja Dewa
Keturunan
  • Sultan Syarif Ibrahim
  • Tengku Syarifah Mandak
  • Tengku Syarifah Sibah
Nama lengkap
Sultan Assayyidis Syarif Ali Abdul Jalil Saifuddin
Nama anumerta
Marhum Koto Tinggi
WangsaSyarif Banahsan
DinastiSiak
AyahSayyid Usman Syahabuddin bin Abdurrahman Banahsan
IbuTengku Embung Badariyah binti Sultan Alamuddin Syah

Sultan Assaidis Asyarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi [1] bin Sayyid Usman Syahabuddin, atau Tengku Udo Said Ali ditabalkan menjadi Sultan Siak Sri Indrapura ke-7 pada tahun 1784, menggantikan Sultan Yahya dengan gelar : Sultan Assayyidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin. Beliau memerintah sampai tahun 1810.

Sultan Syarif Ali merupakan sultan pertama di Kerajaan Siak Sri Indrapura yang memiliki darah Sayyid. Dan sejak itu pula keturunan Raja-Raja Siak, Pelalawan dan Yang Dipertuan Tebing Tinggi memakai gelar Tengku Said untuk lelakinya dan Tengku Syarifah untuk perempuannya.

Manakala seorang Tengku Said naik menjadi raja, mereka akan bergelar Sultan Syarif.

Biografi

Tengku Udo Said Ali merupakan putra dari Sayyid Usman Syahabuddin dengan Tengku Embung Badariyah binti Sultan Alamuddin Syah, yang berarti ia adalah cicit Raja Kecil, pendiri Kesultanan Siak Sri Indrapura, dan juga merupakan keturunan dari Raja-Raja Johor, Melaka, Singapura, Bentan, Malayupura dan Bukit Siguntang Sriwijaya dari pihak ibunya.

Dalam hikayat Melayu beliau dikenal sebagai sosok raja yang progresif, berjiwa sufi, jujur dan adil. Ia berhasil meningkatkan kemakmuran kerajaan secara umum dan ahli dalam menata organisasi kemiliteran. Organisasi, disiplin serta kemampuan di bidang militer terus-menerus disempurnakannya. Beberapa panglima terkenal di masanya adalah Panglima Besar Tengku Said Abdurrahman, adik beliau yang kelak menjadi Sultan Pelalawan I), Tengku Busu Said Ahmad dan Datuk Laksmana Raja Dilaut.[2]

Kemajuan Siak

Bermulanya dari dirinya, muncul dalam pemerintahan Siak dinasti Arab-Melayu yang memerintah dengan gelar Assayyidis Syarif. Pusat pemerintahan dipindahkan dari Mempura ke seberang sungai yaitu Kota Tinggi yang kelak dikenal dengan kota Siak Sri Inderapura. Di ibukota baru ini dibangun benteng sebagai persiapan menghadapi segala kemungkinan dengan Belanda.[2]

Makam Sultan Syarif Ali di Kompleks Makam Koto Tinggi Siak

Perluasan Wilayah

Setelah merasa kuat, beliau berencana untuk memperluas daerah kekuasaan Siak. Kemudian terjadilah penaklukan terhadap wilayah-wilayah di pantai timur Sumatra yang dikenal dengan jajahan 12 meliputi: Kota Pinang, Pagarawan, Batubara, Bedagai, Kualuh, Panai, Bilah, Asahan, Serdang, Langkat, Temiang, dan Deli. Selain itu beliau juga berhasil mengembalikan Kubu, Bangko dan Tanah Putih ke dalam kekuasaan Siak sebagaimana pada masa Raja Kecik. Kemudian persekutuan Tapung Kiri dan Tapung Kanan memilih berdamai dan mengakui kedaulatan Sultan Siak karena tidak mungkin bagi mereka untuk menandingi superioritas Siak.[2]

Di samping itu, Sultan Syarif Ali juga memimpin penyerangan ke Kesultanan Sambas di Kalimantan Barat dan berhasil menaklukkan ibukotanya tetapi tidak diduduki untuk waktu yang lama. Sebagai bukti penaklukan tersebut, di Sambas sekarang masih ditemukan sebuah perkampungan yang bernama Kampung Siak. Selain itu, di Siak terdapat barang-barang yang dibawa dari Sambas seperti piring-piring, senjata dan lain-lain. Ditemukan juga bahwa ada kesamaan antaran Tenunan Siak dengan Sambas. Semenjak itu, Sambas membayar upeti tahunan kepada Siak berupa bunga perak.[2]

Sepulang dari Sambas, dikerahkanlah armada Siak untuk menyerang Kesultanan Pelalawan. Adiknya, Panglima Besar Sayid Abdurrahman dinobatkan sebagai sultannya disamping sebagai Raja Muda di Siak. Adiknya yang lain Sayyid Achmad diangkat sebagai panglima besar berkedudukan di Tebing Tinggi untuk menguasai daerah-daerah sekitarnya, selanjutnya ia dikenal dengan Tengku Panglima Besar Tebing Tinggi.[2]

Akhir Hayat

Sultan Syarif Ali mengundurkan diri sebagai sultan pada tahun 1811, lalu secara sukarela menyerahkannya kepada putranya Tengku Ibrahim. Setelah mangkat beliau bergelar Marhum Kota Tinggi[2]

Rujukan

  1. ↑ KESBANGPOL Provinsi RIAU: Kesultanan Siak Sri Inderapura
  2. 1 2 3 4 5 6 Muchtar Luthfi, Sejarah Riau, Percetakan Riau - Pekanbaru (1977), pp. 251-253.

Daftar kepustakaan

  • Donald James Goudie, Phillip Lee Thomas, Tenas Effendy, (1989), Syair Perang Siak: a court poem presenting the state policy of a Minangkabau Malay royal family in exile, MBRAS.
  • Christine E. Dobbin, (1983), Islamic revivalism in a changing peasant economy: central Sumatra, 1784-1847, Curzon Press, ISBN 0-7007-0155-9.
  • Journal of Southeast Asian studies, Volume 17, McGraw-Hill Far Eastern Publishers, 1986.
Didahului oleh:
Raja Yahya
Sultan Siak Sri Inderapura
1791 - 1811
Diteruskan oleh:
Raja Sayyid Ibrahim
  • l
  • b
  • s
Kerajaan di Sumatra
Aceh
  • Aceh
  • Daya
  • Jeumpa
  • Lamri
  • Linge
  • Pedir
  • Peureulak
  • Samudera Pasai
  • Tamiang
Bengkulu
  • Pat Petulai
  • Selebar
Jambi
  • Jambi
  • Kantoli
  • Koying
Lampung
  • Keratuan Balaw
  • Keratuan Di Puncak
  • Keratuan Darah Putih
  • Keratuan Melinting
  • Keratuan Semaka
  • Tulang Bawang
  • Sekala Bekhak
Kepulauan Riau
  • Bintan
  • Johor
  • Riau-Lingga
Riau
  • Indragiri
  • Kampar Kiri
  • Kandis
  • Koto Alang
  • Kuantan
  • Kuntu Kampar
  • Melaka
  • Pelalawan
  • Rokan IV Koto
  • Siak
  • Tambusai
Sumatera Barat
  • Pasumayan Koto Batu
  • Bungo Satangkai
  • Dusun Tuo
  • Minanga
  • Dharmasraya
  • Pagaruyung
  • Inderapura
  • Samaskuta
  • Siguntur
  • Sontang
  • Sungai Pagu
Sumatera Selatan
  • Kerajaan Palembang
  • Kesultanan Palembang Darussalam
  • Sriwijaya
Sumatera Utara
  • Aru
  • Asahan
  • Barus
  • Batu Bara
  • Deli
  • Dolog Silou
  • Kota Pinang
  • Langkat
  • Padang
  • Panei
  • Pannai
  • Purba
  • Raya
  • Serdang
  • Siantar
  • Silimakuta
  • Tanah Jawa

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Biografi
  2. Kemajuan Siak
  3. Perluasan Wilayah
  4. Akhir Hayat
  5. Rujukan
  6. Daftar kepustakaan

Artikel Terkait

Pahlawan nasional Indonesia

Gelar penghargaan resmi tingkat tertinggi di Indonesia

Revolusi Nasional Indonesia

konflik bersenjata dan perjuangan diplomatik antara Indonesia dan Kerajaan Belanda

Soeprapto

Perwira TNI AD (1920 – 1965)

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026