Abdurrahman bin Abi Laila adalah ulama besar termasuk golongan tabiin, ia termasuk keturunan kaum Anshar (Madinah). la lahir di masa khilafah Abu Bakar. Ia meriwayatkan hadits dari Umar, Ali, Abu Dzar, Ibnu Mas’ud, Bilal, Ubay bin Ka’ab, Shuhaib, Qais bin Sa’d, Al-Miqdad, Abu Ayyub, Abu Laila, Muadz bin Jabal.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Abdurrahman bin Abi Laila adalah ulama besar termasuk golongan tabiin, ia termasuk keturunan kaum Anshar (Madinah). la lahir di masa khilafah Abu Bakar.[1] Ia meriwayatkan hadits dari Umar, Ali, Abu Dzar, Ibnu Mas’ud, Bilal, Ubay bin Ka’ab, Shuhaib, Qais bin Sa’d, Al-Miqdad, Abu Ayyub, Abu Laila (ayahnya sendiri), Muadz bin Jabal.[2]
Muhammad bin Sirin berkata,"Aku bermajlis kepada Abdurrahman bin Abi Laila, dan aku lihat sahabat-sahabatnya memuliakannya seolah-olah ia seorang pemimpin". Suatu kali Abdurrahman bin Abi Laila berkata,"Aku pernah bertemu dengan 120 orang sahabat Nabi dari kaum Anshor. Apabila salah seorang dari mereka ditanya tentang suatu perkara, maka mereka sangat berharap seandainya sahabat yang lain yang menjawabnya."
Tsabit Al-Banani berkata,"Abdurrahman bin Abi Laia apabila selesai shalat Shubuh maka ia akan membuka mushaf dan terus membacanya sampai terbit matahari." Cucunya bernama Ibnu Abi Laila, menjadi ulama di Kufah sezaman dengan Imam Abu Hanifah. Pada rumahnya banyak mushaf sehingga banyak ahli Qira'ah belajar di rumahnya, ia biasa solat sampai subuh dengan membaca mushafnya.[2] Abdurrahman mengikuti pertempuran Nahrawan bersama Ali menghadapi kaum Khawarij di Irak.
Abdurrahman pernah dipukul Hajjaj bin Yusuf karena ia dekat dan belajar Quran pada Ali. Ia juga pernah ikut bergabung dengan pemberontakan Abdurrahman bin Asy'ats.[2]
Abdurrahman bin Abi Laila wafat pada perang Jamajim tahun 82 H.