Abdurrahman al-Ghafiqi, bernama lengkap Abu Sa'id Abdurrahman bin Abdullah bin Bisyr bin ash-Sharim al-Ghafiqi al-Akki, adalah gubernur al-Andalus pada masa Kekhalifahan Umayyah. Abdurrahman al-Ghafiqi berasal dari kabilah Bani Ghafiq, yang merupakan keturunan dari kabilah Bani 'Akk di Yaman. Abdurrahman al-Ghafiqi termasuk dalam kelompok tabi'in dan salah satu murid Abdullah bin Umar, seorang sahabat Nabi Muhammad.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Abdurrahman al-Ghafiqi (bahasa Arab: عبد الرحمن الغافقيcode: ar is deprecated ), bernama lengkap Abu Sa'id Abdurrahman bin Abdullah bin Bisyr bin ash-Sharim al-Ghafiqi al-Akki (أبو سعيد عبد الرحمن بن عبد الله بن بشر بن الصارم الغافقي العكي),[1][2] adalah gubernur al-Andalus pada masa Kekhalifahan Umayyah. Abdurrahman al-Ghafiqi berasal dari kabilah Bani Ghafiq, yang merupakan keturunan dari kabilah Bani 'Akk di Yaman.[1] Abdurrahman al-Ghafiqi termasuk dalam kelompok tabi'in dan salah satu murid Abdullah bin Umar, seorang sahabat Nabi Muhammad.[3][4]

Ia pindah ke Ifriqiyah kemudian Maghreb lalu tinggal di al-Andalus.[5] Ia menjabat sebagai gubernur al-Andalus selama dua periode. Masa jabatan pertamanya pada tahun 721 di mana ia menjadi pengganti sementara as-Samah bin Malik al-Khaulani hingga Anbasah bin Suhaim al-Kalbi diangkat sebagai pengganti resminya.[6] Abdurrahman al-Ghafiqi kembali menjabat untuk masa jabatan keduanya pada tahun 112 H (730 M) dan diangkat oleh Ubaidah bin Abdurrahman as-Sulami.[1][2] Ia terus menjabat hingga terbunuh dalam Pertempuran Balath asy-Syuhada pada tahun 732 di wilayah Tours dekat kota Paris, Prancis..[7][3]
Menurut sejarawan Islam, peristiwa ini terjadi pada 113 Hijriah,[8] dimasa Khalifah Hisyam bin Abdul Malik.[9] Berawal dari pengejaran terhadap pimpinan musuh, Raja Aquatine dan Pangeran Odo di perbatasan wilayah kekuasaan di perbatasan utara, pegunungan Pyrenes, yang melarikan diri masuk ke wilayah Frank (Prancis), Abdurrahman dengan pasukan berkudanya (kavaler) dapat bergerak cepat dalam hitungan pekan mendekati wilayah Tours dekat Prancis. Sementara Charles Martel menggalang pasukan pejalan kaki (infanteri) dari berbagai wilayah dan mengambil posisi di pedataran tinggi sementara pasukan muslim di dataran rendah.[10]
Kedua pasukan saling berhadapan selama 7 hari dengan benturan kecil di mana pasukan berkuda muslimin gagal menembus barisan pasukan Frank yang rapat.[11] Pada hari terakhir, dalam pertempuran besar, pasukan Charles menyusup ke belakang muslimin dan mencoba merampas harta rampasan perang muslimin sehingga memecah konsentrasi pasukan Abdurrahman yang berada di baris depan. Lalu sebuah panah menancap di lehernya menyebabkan kematiannya. Setelah pasukan muslimin mundur menyusun barisan, malam harinya, mereka mundur kembali ke wilayah Andalusia. [12]
Selama puluhan tahun berikutnya, konflik antara Pepin putra dari Charles Martel terus berlanjut dengan muslimin dari penugasa Umayyah di perbatasan.[13]