Sayyid Abdullah bin Alwi Alatas adalah seorang pedagang, tuan tanah dan filantropis Hindia Belanda keturunan Arab dari klan Sadah Ba 'Alawi. Alatas juga merupakan pemilik Rumah Cikini setelah tempat tersebut dibeli dari Raden Saleh. Ia juga mewarisi rumah mewah lain, seperti rumah yang dibangun oleh orang Prancis dalam gaya Islam.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Sayyid Abdullah bin Alwi Alatas | |
|---|---|
Alatas pada tahun 1922 di Weltevreden, Batavia | |
| Nama asal | عبدالله بن علوي العطاس |
| Lahir | Sayyid Abdullah 1840 (1840) Pekojan, Tambora, Jakarta |
| Meninggal | 1929 (umur 88–89) Tanah Abang, Jakarta |
| Kebangsaan | Hindia Belanda |
| Nama lain | Sayyid Abdullah |
| Pekerjaan | |
| Gerakan politik | Pan-Islamisme |
| Suami/istri | Syarifah Maryam |
| Anak | Ismail Alatas[1] |
Sayyid Abdullah bin Alwi Alatas (bahasa Arab: عبدالله بن علوي العطاسcode: ar is deprecated , translit. ʻAbdullāh bin ʻAlwī al-Aṭṭās; 1840–1929) adalah seorang pedagang, tuan tanah dan filantropis Hindia Belanda keturunan Arab dari klan Sadah Ba 'Alawi.[2] Alatas juga merupakan pemilik Rumah Cikini (sekarang Rumah Sakit Cikini) setelah tempat tersebut dibeli dari Raden Saleh.[3] Ia juga mewarisi rumah mewah lain, seperti rumah yang dibangun oleh orang Prancis dalam gaya Islam (sekarang museum tekstil).[4]
Alwi Shahab, seorang wartawan Indonesia senior, juga menulis dalam bukunya Saudagar Baghdad dari Betawi (2004) bahwa Alatas adalah kakek dari Ali Alatas, mantan Menteri Luar Negeri Indonesia (1998–1999), dan Haidar Abu Bakr al-Attas, mantan Perdana Menteri Yaman (1990–1994) dan Yaman Selatan (1985–1986).[5][6]