Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat adalah seorang penulis dan penceramah serta lulusan LIPIA. Ia dianggap sebagai salah satu tokoh Salafi yang berpengaruh di Indonesia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Abdul Hakim bin Amir Abdat | |
|---|---|
Abdul Hakim di Jawa Barat, 2017 | |
| Kehidupan pribadi | |
| Lahir | Abdul Hakim 1959 (1959) |
| Orang tua |
|
| Almamater | Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab |
| Nama lain | Abdul Hakim Abdat |
| Pekerjaan |
|
| Kehidupan religius | |
| Agama | Islam |
| Denominasi | Sunni |
| Gerakan | Salafiyah |
| Muslim leader | |
Influenced by | |
Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat (lahir 05 April 1959)[1]: 92 adalah seorang penulis dan penceramah[2] serta lulusan LIPIA.[3] Ia dianggap sebagai salah satu tokoh Salafi yang berpengaruh di Indonesia.[4][5]
Ia hanya sekolah sampai SMP kelas 2. Sebab, orang tuanya telah mengarahkannya guna bisa lebih konsentrasi menggeluti bidang agama. Pada tahun 1980-an LIPIA baru dibuka, Ia ikut mendaftar tapi ditolak karena ketiadaan ijazah. Atas upaya keras dan bantuan dari Ibundanya yang sampai menemui pendiri lembaga tersebut yang ternyata masih ada hubungan keluarga, maka diterimalah Abdul Hakim di LIPIA walaupun tanpa ijazah sekolah resmi.[6]
Abdul Hakim pernah belajar kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin saat Ia ke Arab Saudi. Ia Juga pernah menceritakan pengalaman ia duduk di majelis Syaikh 'Utsaimin sekitar tahun 1998.[4]
Di perpustakan LIPIA menjadi tempat pertemuan awal Ia dengan Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Mereka pernah sama-sama berdiskusi dengan beberapa kiyai Aswaja yang diadakan di Jakarta untuk membahas masalah manhaj dan dakwah salafiyah.[4]
Abdul Hakim baru-baru (2018) ini menemani Yazid ketika Masjid Imam Ahmad bin Hanbal di Bogor, tempat di mana Yazid sering mengadakan kajian, diusik oleh sebagian orang.[4]
Guru-guru Abdul Hakim salah satunya adalah Kiyai Abdullah Syafi'i yang berasal dari suatu pesantren di Jakarta. Namun ayahnya tidak mengizinkan untuk berasrama di pesantren tersebut. Menurut sang ayah, pulang saja agar bisa mengurus keperluan lain dengan lebih baik.[4] Beberapa guru diantaranya adalah salah seorang pakar Tafsir Al-Quran yaitu ustaz Muhammad bin Idris.[4]