Jakarta Aktual – 04 Agustus 2026 | Puncak musim panen tekan harga pangan, inflasi Juli 2026 diprediksi melandai. Badan Pusat Statistik (BPS) melihat kondisi deflasi pada Juli 2026 disebabkan oleh panen yang melimpah dan permintaan yang tinggi, terutama pada komoditas pangan. Kepala BPS Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, menjelaskan bahwa faktor pendorong deflasi adalah panen yang melimpah dan bobot kebutuhan yang tinggi pada komoditas-komoditas tertentu.
Menurut data BPS, pada Juli 2026, Bali mengalami deflasi sebesar 0,51 persen secara bulan ke bulan. Kelompok pengeluaran yang memberi andil deflasi terbesar adalah Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan deflasi sebesar 2,34 persen dan memberi andil sebesar 0,75 persen terhadap deflasi. Puncak musim panen tekan harga pangan, inflasi Juli 2026 diprediksi melandai karena pasokan yang melimpah dan permintaan yang stabil.
Sementara itu, Kepala BPS Nusa Tenggara Barat (NTB), Wahyudin, juga menjelaskan bahwa musim panen menekan harga komoditas hortikultura dan memicu deflasi sebesar 0,35 persen secara bulanan di NTB pada Juli 2026. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi dengan penurunan indeks sebesar 1,47 persen dan memberikan andil minus 0,55 persen terhadap deflasi bulanan.
Puncak musim panen tekan harga pangan, inflasi Juli 2026 diprediksi melandai karena fenomena deflasi pada Juli ini berbeda dengan bulan yang sama di tahun-tahun sebelumnya. Pada Juli 2023, terjadi inflasi sebesar 0,34 persen, tahun 2024 inflasi sebesar 0,10 persen, dan 2025 inflasi sebesar 0,32 persen. Puncak musim panen tekan harga pangan, inflasi Juli 2026 diprediksi melandai karena melimpahnya pasokan dan stabilnya permintaan.
Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juli 2026 mencapai 127,84 atau naik 0,15 persen dibandingkan Juni 2026. Kenaikan NTP terjadi karena penurunan indeks harga yang dibayar petani lebih besar dibandingkan penurunan indeks harga yang diterima petani. Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa peningkatan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani turun 0,10 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani turun lebih dalam, yaitu 0,25 persen.
Kesimpulan, puncak musim panen tekan harga pangan, inflasi Juli 2026 diprediksi melandai karena pasokan yang melimpah dan permintaan yang stabil. Fenomena deflasi pada Juli ini berbeda dengan bulan yang sama di tahun-tahun sebelumnya. Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juli 2026 mencapai 127,84 atau naik 0,15 persen dibandingkan Juni 2026. Puncak musim panen tekan harga pangan, inflasi Juli 2026 diprediksi melandai karena melimpahnya pasokan dan stabilnya permintaan.