Jakarta Aktual – 14 Juni 2026 | FIFA dituding pertaruhkan keselamatan para pesepakbola karena gelar Piala Dunia di suhu ekstrem. Sekelompok akademisi terkemuka memperingatkan induk organisasi sepak bola dunia bahwa siasat mengantisipasi cuaca panas saat Piala Dunia 2026 tidak memadai. Akibatnya, menurut mereka, para pemain yang berlaga akan menghadapi bahaya serius.
Dalam sebuah surat terbuka, pakar kesehatan, iklim, dan olahraga menyebut aturan FIFA tidak sejalan dengan sains, sehingga tidak mungkin dibenarkan. Para akademisi ini mendesak FIFA menerapkan perlindungan terhadap pemain yang berdampak, antara lain jeda yang lebih lama di tengah laga dan protokol yang lebih jelas untuk memundurkan atau menunda pertandingan jika cuaca panas sangat ekstrem.
Cuaca panas diperkirakan akan menjadi masalah di turnamen sepak bola empat tahunan yang akan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Banyak stadion yang akan digunakan memiliki suhu yang melebihi tingkat berbahaya. Suhu rata-rata pada siang hari saat ini adalah sekitar 30 derajat Celsius, dan dapat naik hingga 40 derajat selama musim panas nanti.
Meskipun demikian, FIFA menyatakan bahwa mereka berkomitmen untuk melindungi kesehatan dan keselamatan pemain, wasit, penggemar, sukarelawan, dan staf. Namun, peringatan dari para akademisi tidak dapat diabaikan.
Di sisi lain, di Meksiko, terdapat spesies ikan yang seharusnya sudah punah karena semua populasinya betina. Ikan ini memang bersentuhan dengan ikan jantan dari spesies yang berkerabat dekat. Namun dalam sebuah keanehan evolusi, gen ikan jantan tidak berperan. Fenomena ini disebut ginogenesis, yaitu ketika betina hanya menggunakan sperma jantan untuk memicu perkembangan telur, tetapi segera membuang DNA-nya. Spesies ini hanya menghasilkan ikan betina, masing-masing merupakan klon dari induknya.
Kejadian serupa juga terjadi di Indonesia, dimana demonstrasi mahasiswa dan masyarakat sipil bermunculan di beberapa kota, termasuk Jakarta dan Yogyakarta. Mereka menuntut penghentian proyek Makan Bergizi Gratis yang dianggap rawan korupsi dan minim pengawasan.
Jadi, apakah FIFA akan mendengarkan peringatan dari para akademisi dan menerapkan perlindungan yang lebih baik untuk para pemain? Hanya waktu yang akan menjawab pertanyaan ini.