Zona Aman Nanjing atau Zona Aman Nanking adalah sebuah zona demiliterisasi untuk warga sipil Tiongkok yang didirikan menjelang terobosannya pasukan Jepang dalam Pertempuran Nanking.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


| Artikel ini adalah bagian dari sebuah serial tentang |
| Pembantaian Nanking |
|---|
| Kejahatan perang Jepang |
| Historiografi Pembantaian Nanking |
| Film |
| Buku |
Zona Aman Nanjing atau Zona Aman Nanking (Hanzi: 南京安全區; Pinyin: Nánjīng Ānquán Qū; Jepang: 南京安全区code: ja is deprecated , Nankin Anzenku, or 南京安全地帯code: ja is deprecated , Nankin Anzenchitai) adalah sebuah zona demiliterisasi untuk warga sipil Tiongkok yang didirikan menjelang terobosannya pasukan Jepang dalam Pertempuran Nanking (13 Desember 1937).
Pertempuran Songhu terjadi setelah insiden Jembatan Marco Polo, di mana Jepang membombardir Nanjing secara membabi buta, mengakibatkan tewasnya sejumlah besar warga sipil tak bersalah. Untuk mencegah jatuhnya korban tambahan, Hang Liwu dan sejumlah ekspatriat yang tinggal di Nanjing berupaya membentuk sebuah zona netral di dalam kota bagi para pengungsi. Berdasarkan Zona Pengungsi Nanshi (sebuah inisiatif yang dipimpin oleh pastor Jesuit Robert Jacquinot de Besange) di Shanghai, , mereka menetapkan area seluas 3,86 kilometer persegi di wilayah barat kota Nanjing dengan tujuan memanfaatkan pengaruh warga asing untuk menjamin keamanan wilayah tersebut. Komite Internasional untuk Zona Aman secara resmi dibentuk pada 22 November, dengan John Rabe sebagai ketua, serta dibentuk pula komite-komite untuk sanitasi, tempat tinggal, dan makanan guna memastikan operasional zona aman berjalan normal. Selain itu, surat-surat dikirimkan kepada Jepang dan Tiongkok untuk memperoleh pengakuan resmi. Meskipun pihak Tiongkok menerima penetapan Zona Keamanan dan menyerahkan yurisdiksi wilayah tersebut kepada komite, pihak Jepang mempertahankan sikap yang berada di antara ambiguitas dan penolakan terhadap keberadaan Zona Keamanan tersebut.[1]