Zamburak adalah bentuk artileri bergerak sendiri dari periode awal modern yang dilengkapi dengan meriam kecil berporos putar yang dipasang dan ditembakkan dari punggung unta. Pengoperasinya disebut zamburakchi.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Zamburak (Persia: زنبورک, zanburak, secara harfiah berarti culverin atau “tawon kecil”) adalah bentuk artileri bergerak sendiri (self-propelled artillery) dari periode awal modern yang dilengkapi dengan meriam kecil berporos putar (swivel gun) yang dipasang dan ditembakkan dari punggung unta. Pengoperasinya disebut zamburakchi.
Senjata ini digunakan oleh kekaisaran-kekaisaran mesiu (gunpowder empires) — khususnya oleh Iran Safawi, Kekaisaran Timurid, Iran Afsharid, dan Kekaisaran Durrani Afganistan — karena medan dataran tinggi Iran yang bergunung dan terjal membuat transportasi meriam berat menjadi sulit.
Pada abad ke-18, zamburak menjadi metode perang yang populer di anak benua India. Pasukan Pashtun menggunakannya dalam Pertempuran Gulnabad, berhasil mengalahkan tentara kekaisaran Safawi yang jumlahnya jauh lebih besar.
Nader Shah, penguasa dan jenius militer Iran, juga memanfaatkan korps zamburak bersama unit meriam konvensional reguler dengan efek yang sangat menghancurkan dalam berbagai pertempuran besar, seperti:
Selain itu, Ahmad Shah Durrani juga menggunakan sejumlah besar zamburak secara efektif selama penyerbuan ke dataran India Utara dalam Pertempuran Panipat Ketiga melawan Konfederasi Maratha, menjadikan senjata ini salah satu inovasi khas dalam sejarah militer Asia Barat dan Selatan.
Zamburak merupakan salah satu unit pengawal kerajaan dalam Angkatan Darat Qajar di Persia. Sebuah resimen zamburak Persia biasanya disertai oleh pemusik yang memainkan genderang besar yang dipasang di atas unta, berfungsi untuk menakut-nakuti musuh dengan suara yang menggelegar.
Selain di Persia, zamburak juga digunakan dalam Perang Anglo-Afgan Pertama serta Perang Anglo-Sikh Pertama dan Kedua.Menjelang abad ke-18, penggunaan zamburak juga menjadi populer di anak benua India. Pada tahun 1761, penakluk dari Durrani, Ahmad Shah Durrani (atau Ahmad Shah Abdali), menggunakan sekitar 2.000 meriam unta dalam Pertempuran Panipat Ketiga melawan pasukan Maratha. Keunggulan taktis dari zamburak terbukti menjadi faktor penentu dalam mengalahkan pasukan Maratha di dekat Panipat.[1]
Sebuah zamburak terdiri dari seorang prajurit yang menunggang unta, dengan meriam kecil berporos putar (falconet) yang diletakkan pada penyangga logam berbentuk garpu menonjol dari pelana unta. Untuk menembakkan meriamnya, unta akan berlutut, memberi kestabilan saat menembak. Nama zamburak berasal dari kata Persia “zambur” (زنبور) yang berarti “tawon”, kemungkinan mengacu pada suara mendengung yang mirip dengan suara yang dihasilkan oleh busur silang unta pada masa sebelumnya.
Mobilitas unta yang tinggi, dikombinasikan dengan fleksibilitas meriam berporos putar serta daya tembaknya yang relatif kuat, menjadikan zamburak unit militer yang menakutkan. Namun, akurasi dan jarak tembaknya terbatas, sehingga tidak efektif terhadap benteng berat atau struktur pertahanan besar.
Kekhanan Dzungar (Dzungar Khanate) juga diketahui menggunakan meriam mini yang dipasang di atas unta dalam pertempuran. Selama Perang Dzungar–Qing, senjata mesiu seperti senapan dan meriam digunakan oleh kedua belah pihak. Setelah penemuan senapan Gatling pada tahun 1861, senjata tersebut juga sempat dipasang di atas unta, melanjutkan tradisi penggunaan artileri unta dalam sejarah militer Asia.[2]