Yosakoi (よさこい) adalah gaya tari khas Jepang yang energik dan dinamis, ditampilkan dalam berbagai festival dan acara di seluruh negeri. Festival Yosakoi pertama digelar pada tahun 1954 di Kōchi, Pulau Shikoku. Sejak itu, gaya tari ini telah menyebar luas ke hampir seluruh Jepang. Yosakoi memadukan gerakan tari tradisional Jepang dengan iringan musik modern, biasanya dipentaskan oleh kelompok besar dengan koreografi yang terkoordinasi. Selain didukung oleh sekolah tari profesional dan tim kota, Yosakoi juga menjadi acara favorit dalam festival olahraga sekolah dasar, SMP, dan SMA. Pesertanya mencakup pria dan wanita dari berbagai rentang usia, sering kali tampil dalam satu tim yang sama.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Yosakoi (よさこい) adalah gaya tari khas Jepang yang energik dan dinamis, ditampilkan dalam berbagai festival dan acara di seluruh negeri. Festival Yosakoi pertama digelar pada tahun 1954 di Kōchi, Pulau Shikoku. Sejak itu, gaya tari ini telah menyebar luas ke hampir seluruh Jepang. Yosakoi memadukan gerakan tari tradisional Jepang dengan iringan musik modern, biasanya dipentaskan oleh kelompok besar dengan koreografi yang terkoordinasi. Selain didukung oleh sekolah tari profesional dan tim kota, Yosakoi juga menjadi acara favorit dalam festival olahraga sekolah dasar, SMP, dan SMA. Pesertanya mencakup pria dan wanita dari berbagai rentang usia, sering kali tampil dalam satu tim yang sama.
Kostum yang dikenakan oleh para penari Yosakoi menunjukkan beragam gaya, mulai dari pakaian tradisional seperti mantel happi dan yukata, hingga busana bertema modern atau futuristik dengan warna-warna terang dan aksesori tambahan seperti bendera, kipas, serta alat musik. Biasanya, semua anggota tim mengenakan kostum yang serupa.[1] Ciri paling menonjol dari tarian ini adalah penggunaan naruko, alat kecil dari kayu yang dibunyikan untuk menciptakan irama, yang asalnya merupakan perkakas petani untuk menakuti burung di sawah.[2] Penggunaan naruko diharuskan dalam tarian yosakoi tradisional, tetapi banyak kelompok juga menggunakan instrumen atau alat peraga genggam lainnya, seperti drum, alat musik perkusi lainnya, bendera, tongkat, dan kendaraan hias mereka.
Walaupun dalam tarian yosakoi setiap tim memiliki kebebasan dalam berkreasi, terdapat sejumlah prinsip dasar yang tetap harus diikuti, seperti kewajiban penari untuk memegang naruko dan terus bergerak maju selama pertunjukan.[3] Dasar gerakannya berakar pada tarian rakyat Jepang serta festival tradisional seperti Awa Odori, tetapi Yosakoi juga memadukan unsur modern seperti musik pop, rok, dan hip-hop, sehingga menghasilkan perpaduan gaya klasik dan kontemporer.[4] Gerakan tradisional menjadi fondasi utama, tetapi tiap tim biasanya menambahkan improvisasi, variasi, dan nuansa kompetitif yang membuat koreografinya semakin beragam.[3] Dalam Yosakoi, fokus utama bukan pada pakem gerakan, melainkan pada sinkronisasi dan kekompakan tim selama menari.
Tarian Yosakoi muncul dalam berbagai macam budaya populer seperti film dan manga. Contoh tarian yosakoi dapat dilihat dalam film The Harimaya Bridge, yang difilmkan di Prefektur Kōchi.[5] Serial manga Hanayamata tahun 2011, yang diadaptasi menjadi anime pada Juli 2014, juga berfokus pada yosakoi.[6]