Yokosuka P1Y Ginga adalah Pesawat pengebom basis-darat bermesin ganda yang dikembangkan untuk Angkatan Laut Kekaisaran Jepang dalam Perang Dunia II. Ini adalah versi pemutakhiran dari Mitsubishi G4M dan dilaporkan dari Pihak Sekutu dengan nama Frances.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Yokosuka P1Y Ginga (銀河, "Galaksi/Jagat") adalah Pesawat pengebom basis-darat bermesin ganda yang dikembangkan untuk Angkatan Laut Kekaisaran Jepang dalam Perang Dunia II. Ini adalah versi pemutakhiran dari Mitsubishi G4M dan dilaporkan dari Pihak Sekutu dengan nama Frances.
P1Y dirancang oleh Yokosuka Naval Air Technical Arsenal kepada Angkatan Laut dengan spesifikasi 15-Shi, sebuah panggilan untuk pengebom cepat dengan kecepatannya menandingi atau menyamai kecepatannya dengan Zero, dengan jarak menandingi pesawat G4M, pembopong bom seberat 907 kg (2,000 lb), dan kemampuan untuk membom-tukik saat ketika membawa torpedo. Sebagai hasilnya, konstruksinya menderita kompleksitas yang berlebihan, terlalu sulitnya pembuatan, dan potensi perbaikan yang buruk. Masalah dari ketersediaan mesin Nakajima Homare yang memadai berakhir dengan menukarnya dengan mesin Mitsubishi Kasei yang sudah ada di P1Y2-S versi petempur-malam.
Desain ramping Ginga dikaitkan dengan Miki Tadanao, seorang insinyur yang dimana setelah Perang Dunia II, beliau kemudian menciptakan desain Aerodinamis yang serupa untuk kereta peluru pertama Jepang (Shinkansen) saat bekerja dengan Kereta Api Nasional Jepang.

Penerbangan pertamanya dimulai pada bulan Agustus 1943. Nakajima memproduksi 1,002 contoh, yang dimana dikendalikan oleh lima Kōkūtai, dan berperan sebagai pengebom sedang dan pengebom torpedo basis darat dari lapangan udara di China, Taiwan Kepulauan Mariana, Filipina, the Kepulauan Ryukyu, Pulau Shikoku, dan Pulau Kyūshū. Selama tahap akhir Perang, P1Y digunakan sebagai pesawat kamikaze melawan Angkatan Laut Amerika Serikat selama Kampanye Okinawa dalam Operasi Tan Nomor 2.
Takashige Egusa (江草 隆繁 , Egusa Takashige) ialah salah satu pilot penguji pesawat P1Y. Ia menjadi pilot uji coba untuk pesawat baru Jepang yaitu P1Y Ginga. Egusa ditempatkan di Grup Udara ke-521 yang bermarkas di Guam dan nantinya di Saipan. Egusa yang memiloti sebuah P1Y bersama Grup Udara ke-521 melancarkan serangan serangan di wilayah Mariana Barat. Egusa tewas pada tanggal 15 Juni 1944 di usia 34 tahun setelah pesawatnya terkena VT fuze dari meriam anti-pesawat USS Lexington dan tertembak jatuh.

| P1Y Ginga | |
|---|---|
| Jenis | Pesawat serang |
| Pembuat | Yokosuka (3 prototip saja) Nakajima Kawanishi (P1Y2 series saja) |
| Penerbangan perdana | Agustus 1943 |
| Diperkenalkan | Oktober 1944 |
| Dipensiunkan | 1945 |
| Pengguna utama | Pasukan Udara Angkatan Laut Kekaisaran Jepang |
| Jumlah | 1,102 |
| Januari | Februari | Maret | April | Mei | Juni | Juli | Agustus | September | Oktober | November | Desember | Sub total | |
| 1943 | 2 | 4 | 4 | 10 | 25 | 45 | |||||||
| 1944 | 11 | 20 | 35 | 46 | 46 | 51 | 47 | 48 | 69 | 75 | 88 | 84 | 620 |
| 1945 | 90 | 52 | 52 | 63 | 64 | 53 | 40 | 20 | 434 | ||||
Sebuah P1Y1 berhasil menyintas pada Fasilitas restorasi Paul E. Garber Smithsonian dari bagian Museum Dirgantara Nasional Amerika Serikat. Ketika hanya fusi bahan bakar yang telah dipotret beberapa kali dan bisa ditemukan di Internet, sayap dan mesinnya telah dikonfirmasikan nyata keberadaannya. Ini adalah satu dari tiga P1Y yang dibawa kembali ke Amerika Serikat pasca Perang Dunia II untuk dievaluasi.

Data from Japanese Aircraft of the Pacific War
General characteristics
Performance
Armament