Xanthippe adalah seorang perempuan warga kota Athena, istri dari Socrates dan ibu dari ketiga anaknya: Lamprocles, Sophroniscus, dan Menexenus. Arti nama Xenthippe, berasal dari kata Yunani bergender feminin, "Ξανθιππος" (Xanthippos), yang artinya "kuda kuning": terdiri dari kata "ξανθος" (xanthos) "kuning" dan "‘ιππος" (hippos) "kuda". Ia berusia 40 tahun lebih muda dari Socrates, dan berasal dari keluarga Pericles. Xanthippe terkenal memiliki watak yang judes, cerewet, dan pemarah. Menurut cerita, Socrates menikahinya dengan maksud untuk melatih disiplin diri, melatih kesabaran, dan mengendalikan karakter buruknya, tetapi bukti keberhasilannya tidak ada. Menurut orang-orang di sekitarnya, Socrates menikahi "nenek sihir". Sebuah anekdot terkenal tentang kemarahan Xanthippe, bahwa ketika ia begitu marah kepada suaminya, kemudian ia melemparkan seember air cucian pada Socrates. Sang filsuf kemudian menjawab: "Setelah petir datang hujan". Socrates juga mengatakan "Menikah atau tidak menikah, dalam hal apapun Anda akan menyesal".
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia



Xanthippe (/zænˈθɪpi/; bahasa Yunani: Ξανθίππηcode: el is deprecated ; Abad 5 – 4 SM) adalah seorang perempuan warga kota Athena, istri dari Socrates dan ibu dari ketiga anaknya: Lamprocles, Sophroniscus, dan Menexenus.[1][2] Arti nama Xenthippe, berasal dari kata Yunani bergender feminin, "Ξανθιππος" (Xanthippos), yang artinya "kuda kuning": terdiri dari kata "ξανθος" (xanthos) "kuning" dan "‘ιππος" (hippos) "kuda".[3] Ia berusia 40 tahun lebih muda dari Socrates, dan berasal dari keluarga Pericles.[2] Xanthippe terkenal memiliki watak yang judes, cerewet, dan pemarah.[4] Menurut cerita, Socrates menikahinya dengan maksud untuk melatih disiplin diri, melatih kesabaran, dan mengendalikan karakter buruknya, tetapi bukti keberhasilannya tidak ada.[2] Menurut orang-orang di sekitarnya, Socrates menikahi "nenek sihir".[1] Sebuah anekdot terkenal tentang kemarahan Xanthippe, bahwa ketika ia begitu marah kepada suaminya, kemudian ia melemparkan seember air cucian pada Socrates.[1] Sang filsuf kemudian menjawab: "Setelah petir datang hujan".[1] Socrates juga mengatakan "Menikah atau tidak menikah, dalam hal apapun Anda akan menyesal".[1]