Gerakan Word of Faith, atau gerakan Firman Iman, merupakan gerakan dalam Kristen karismatik yang mengajarkan bahwa orang Kristen dapat memperoleh kuasa dan kemakmuran finansial melalui doa dan bahwa mereka yang percaya pada kematian dan kebangkitan Yesus berhak atas kesehatan fisik. Gerakan tersebut diinisiasi oleh penginjil Amerika Serikat, Kenneth Hagin, pada tahun 1960-an. Meski demikian, akar dari ajaran ini telah lama diajarkan sebagai ajaran dari E. W. Kenyon.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini berisi referensi yang terlalu bergantung pada sumber buatan sendiri. (November 2015) |
| Penggolongan | Protestan |
|---|---|
| Teologi | Gerakan Neokarismatik, Teologi kemakmuran, Reformasi Apostolik Baru |
| Pendiri | Kenneth Hagin |
Gerakan Word of Faith, atau gerakan Firman Iman, merupakan gerakan dalam Kristen karismatik yang mengajarkan bahwa orang Kristen dapat memperoleh kuasa dan kemakmuran finansial melalui doa dan bahwa mereka yang percaya pada kematian dan kebangkitan Yesus berhak atas kesehatan fisik.[1]: 8 Gerakan tersebut diinisiasi oleh penginjil Amerika Serikat, Kenneth Hagin, pada tahun 1960-an. Meski demikian, akar dari ajaran ini telah lama diajarkan sebagai ajaran dari E. W. Kenyon.[1]: 5–6
Beberapa ciri khas dari gerakan ini telah menuai banyak kritik.
Inti ajaran dari gerakan Word of Faith berasal dari pendeta Gereja Baptis, E. W. Kenyon (1867–1948). Tulisan-tulisan Kenyon memengaruhi pengajar dalam gerakan karismatik, termasuk Kenneth Hagin Sr., yang diakui sebagai "bapak" gerakan Word of Faith.[2]: 76 Hagin mulai menyebarkan pandangannya di majalah Word of Faith pada tahun 1966, dan kemudian mendirikan sebuah seminari yang melatih para pendeta, yang nantinya akan berperan dalam membentuk gerakan Word of Faith.[1]: 6–7
Ajaran yang unik dalam gerakan Word of Faith mencakup penyembuhan fisik, emosional, finansial, relasional, dan spiritual bagi mereka yang memelihara perjanjian mereka dengan Tuhan.[butuh rujukan] Gerakan ini mendorong orang percaya untuk mengucapkan apa yang mereka inginkan, sesuai dengan janji dan ketentuan Alkitab, sebagai penegasan rencana dan tujuan Tuhan. Mereka percaya inilah yang dimaksud Yesus ketika Ia berkata dalam Markus 11:22–24[3] bahwa orang percaya akan memperoleh apa pun yang mereka katakan dan doakan dengan iman. Istilah "Word of Faith" ("firman iman") sendiri berasal dari Roma 10:8[4] yang isinya mencakup "...Itulah firman iman, yang kami beritakan".[5]
Ajaran Gerakan Word of Faith mengajarkan bahwa penyembuhan menyeluruh (roh, tubuh, dan jiwa) merupakan hadiah dari penebusan Kristus dan oleh karena itu tersedia segera bagi semua orang yang percaya. Pengikut gerakan Word of Faith memahami ajaran ini dengan mengutip Yesaya 53:5[6] ("...yang oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh") dan Matius 8:17,[7] yang mengatakan bahwa Yesus menyembuhkan orang sakit sehingga "genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: 'Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita'."
Karena Yesaya berbicara dalam bentuk waktu sekarang ("kita menjadi sembuh"; "we are healed"), gerakan Word of Faith mengajarkan bahwa orang percaya harus menerima kenyataan penyembuhan yang sudah menjadi milik mereka, pertama-tama dengan memahami bahwa penyembuhan fisik adalah bagian dari janji keselamatan dalam Perjanjian Baru. Hal ini diperkuat dengan mengakui ayat-ayat Alkitab yang menegaskan penyembuhan ini dan mempercayainya sambil menolak keraguan. Menurut Kenneth Hagin, hal ini tidak berarti menyangkal rasa sakit, penyakit, atau penderitaan yang dialami, tetapi menyangkal hal-hal tersebut untuk menggantikan karunia keselamatan sesuai dengan ajaran Alkitab.[8] Jerry Savelle, seorang pendeta gerakan Word Faith, percaya akan hal ini, dengan menambahkan bahwa penyakit merupakan upaya Setan untuk merampas hak ilahi orang beriman untuk memiliki kesehatan yang sempurna.[9]
Ajaran Word of Faith menyatakan bahwa para pengikutnya memiliki hak ilahi untuk makmur di semua bidang kehidupan, termasuk keuangan, kesehatan, pernikahan, dan hubungan. Dalam ajaran ini, kemakmuran tidak dimaksudkan untuk menimbun harta, tetapi sebagai jalan yang digunakan Tuhan untuk mendanai misi penyebaran Injil dan membantu orang-orang yang membutuhkan.[butuh rujukan]
Para pengkhotbah Word of Faith seperti Creflo Dollar dan Kenneth Copeland mengklaim bahwa Yesus kaya, dan mengajarkan bahwa orang percaya saat iniberhak atas kekayaan finansial.[1]: 30 [10]
Dalam ajaran Word of Faith, elemen sentral mengenai penerimaan dari Tuhan adalah "pengakuan", yang sering disebut sebagai "pengakuan positif" atau "pengakuan iman" oleh para pengajarnya. Pengajar dan pengikut gerakan ini umumnya akan mengklaim dan menegaskan bahwa mereka memiliki penyembuhan, kesejahteraan, kemakmuran, atau janji-janji lain dari Tuhan, sebelum benar-benar mengalami hasil tersebut. Mereka melakukannya sebagai demonstrasi iman mereka, yang mereka yakini pada akhirnya akan menghasilkan pemenuhan kata-kata mereka. Ajaran ini serupa dengan filosofi berpikir positif yang dikembangkan oleh Norman Vincent Peale, kendati filosofi tersebut lebih berfokus pada individu.[butuh rujukan] Para pengajar gerakan Word of Faith yang terkenal, seperti Hagin dan Charles Capps, berpendapat bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dengan berfirman, dan bahwa Tuhan telah menganugerahi orang percaya dengan kekuatan ini. Dengan demikian, membuat "pengakuan positif" akan janji Allah dan mempercayai firman Allah membangkitkan kuasa kebangkitan yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati dan membawa janji itu kepada penggenapan.[a] Untuk menegaskan peran iman tersebut, pengajar gerakan Word of Faith juga menyebut iman sebagai "kekuatan".[11] Sebaliknya, "pengakuan negatif" diyakini oleh pengajar gerakan Word of Faith sebagai hal yang berbahaya, sehingga mereka mengajarkan bahwa orang percaya harus menjaga ucapan mereka.[b]
Banyak keyakinan mendasar gerakan ini dikritik oleh umat Kristen lainnya. Salah satu kritikus awal ajaran gerakan Word of Faith adalah profesor Universitas Oral Roberts, Charles Farah, yang menerbitkan From the Pinnacle of the Temple pada tahun 1979. Dalam buku tersebut, Farah mengungkapkan kekecewaannya terhadap ajaran tersebut, yang menurutnya lebih banyak tentang kesombongan daripada iman.[12] Pada tahun 1982, salah satu murid Farah, Daniel Ray McConnell, menuliskan tesisnya, Kenyon Connection, di mana ia menelusuri asal-muasal ajaran tersebut kembali melalui Hagin ke Kenyon dan akhirnya ke Pemikiran Baru, dan menyebut keyakinan khas Word of Faith sebagai "Kuda Troya" yang sesat dalam gereja Kristen. McConnell juga mengulangi argumen ini dalam bukunya, A Different Gospel, pada tahun 1988. Sementara itu, rekan McConnell, Dale H. Simmons, menerbitkan penelitian doktoralnya sendiri di Universitas Drew, yang berpendapat bahwa Kenyon dipengaruhi oleh gerakan metafisika heterodoks dan gerakan Penyembuhan Iman abad kesembilan belas. Pada tahun 1990, The Agony of Deceit meneliti kritik terhadap doktrin Word of Faith. Salah satu penulisnya, pendiri Christian Research Institute, Walter Martin, mengeluarkan penilaian pribadinya bahwa Kenneth Copeland adalah nabi palsu dan bahwa gerakan tersebut secara keseluruhan adalah sesat.[13]
Penginjil Justin Peters, seorang kritikus vokal gerakan Word of Faith, menulis dalam tesisnya yang mengkritisi Benny Hinn dan menjadi pakar gerakan Word of Faith dalam film dokumenter dan berita TV. Dalam seminarnya "Clouds Without Water", ia menelusuri asal-usul gerakan tersebut ke Pemikiran Baru yang diajarkan oleh Phineas Quimby dan Pengakuan Positif (Positive Confession) dari E. W. Kenyon pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.[14] Sementara itu, Joe McIntyre, yang menjabat sebagai kepala Gospel Publishing Society milik Kenyon di Washington, berpendapat bahwa pengaruh utama Kenyon adalah A.B. Simpson[15] dan A.J. Gordon yang mengajarkan Penyembuhan Iman dalam gerakan Evangelikalisme. Versi McIntyre diceritakan dalam biografi resmi, E. W. Kenyon: The True Story.
Pada tahun 1993, buku Christianity in Crisis karya Hank Hanegraaff menuduh gerakan Word of Faith sebagai bidah dan menuduh gereja yang mengajarkan teologi tersebut sebagai "sekte." Ia menuduh para pengajar teologi tersebut "merendahkan" Tuhan dan Yesus, dan "mendewakan" manusia dan Setan.[16] Kritikus lain, seperti Norman Geisler, Dave Hunt, dan Roger Oakland, juga mengecam teologi Word of Faith sebagai menyimpang dan bertentangan dengan ajaran Alkitab.
Sementara itu, John Macarthur dari Grace Community Church menuduh Benny Hinn, Marilyn Hickey, Joyce Meyer, Kenneth Copeland, Kenneth Hagin, Robert Tilton, Oral Roberts, Paul Crouch, Joel Osteen, dan pendeta lainnya memangsa "orang-orang lemah dan putus asa" melalui ajaran Word of Faith, yang ia sebut "kebohongan yang menghujat". Dalam khotbahnya, ia mengatakan bahwa teologi ini merupakan bentuk penipuan dan skema Ponzi yang "membuat orang-orang di puncak rantai makanan menjadi kaya, memangsa keinginan duniawi materi" dari jemaatnya yang telah dijanjikan akan menerima kekayaan dan kemakmuran, sesuai dengan ajaran teologi tersebut.[17]
Banyak pengajar Word of Faith menggunakan frasa seperti "dewa-dewa kecil" untuk menggambarkan orang yang telah percaya. Kenneth Hagin menulis bahwa Tuhan telah menciptakan manusia "dalam kelas makhluk yang sama dengan Dia sendiri,"[18] dan beralasan bahwa jika manusia diciptakan menurut gambar Allah, mereka "setara dengan Allah,"[19] dan dengan demikian menjadikan mereka "dewa".[19][20] Hal ini senada seperti pendahulunya, E. W. Kenyon, yang menulis, "Setiap orang yang telah 'lahir kembali' adalah Inkarnasi, dan Kekristenan adalah sebuah mukjizat. Orang percaya sama halnya dengan Inkarnasi seperti Yesus dari Nazaret."[21] Banyak kritikus Injili telah mengutuk ajaran "dewa-dewa kecil" sebagai kultus. Hank Hanegraaff, misalnya, berpendapat bahwa doktrin 'dewa-dewa kecil' setara dengan ajaran Maharishi Mahesh Yogi dan Jim Jones.[22]