Willie Salim adalah seorang pembuat konten di media sosial yang berasal dari Indonesia. Ia aktif di platform media sosial sosial TikTok, YouTube dan Instagram.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. (Mei 2025) |
| Willie Salim | |||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Lahir | Willie Salim 27 Mei 2002 Toboali, Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Indonesia | ||||||||||||||
| Pekerjaan | |||||||||||||||
| Informasi akun TikTok | |||||||||||||||
| Pengikut | 71.5 juta | ||||||||||||||
| Jumlah suka | 1.4 miliar | ||||||||||||||
Diperbarui: 19 Juni 2025 | |||||||||||||||
| |||||||||||||||
Willie Salim (lahir 27 Mei 2002) adalah seorang pembuat konten di media sosial yang berasal dari Indonesia. Ia aktif di platform media sosial sosial TikTok, YouTube dan Instagram.[1][2]
Willie Salim mengenyam pendidikan sekolah dasar di kampung halamannya di Kecamatan Toboali, Bangka Selatan, Bangka Belitung. Kemudian saat duduk di bangku SMA, Willie Salim dan orang tuanya pindah ke Jakarta agar Willie bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik di ibu kota. Saat duduk di bangku SMA, Willie diterima di sekolah menengah internasional di Jakarta. Willie Salim awalnya membuat akun YouTube pada tahun 2014, tetapi seiring berkembangnya TikTok, ia beralih ke TikTok pada tahun 2020 dan lebih aktif membuat konten di TikTok. Willie Salim terkenal dengan konten "Ayo Borong" dimana ia membeli banyak produk seperti Indomaret dan Alfamart yang kemudian ia bagikan kepada orang lain. Akun YouTube Willie Salim telah menghasilkan 1400 konten video dan memiliki 37,5 juta pelanggan serta telah dilihat 7 miliar kali.
Pada Maret 2025, kontroversi Willie Salim terkait rendang di Palembang bermula ketika ia mengunggah video memasak 200 kilogram rendang di kota tersebut.[3] Dalam video yang viral tersebut, rendang yang belum selesai dimasak tersebut dikabarkan "hilang" dalam waktu singkat setelah ditinggalkan oleh Willie Salim.Video ini kemudian memicu berbagai reaksi negatif dari warganet dan masyarakat Palembang.[4] Banyak pihak menilai konten tersebut merusak citra kota Palembang dan menimbulkan stereotip negatif, sehingga berujung pada laporan polisi dan tuntutan permintaan maaf secara adat dari Kesultanan Palembang Darussalam. Meskipun ia telah menyampaikan permintaan maaf, kontroversi ini sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial.[5]