Wadian/Balian/Belian adalah upacara pengobatan pada suku Dayak Bawo, Dusun, Maanyan, Lawangan, Benuaq dan Suku Bukit yang menganut agama Kaharingan. Suku-suku serumpun ini hidup bertetangga di sekitar wilayah yang berbatasan di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Sedangkan pada suku Melayu pedalaman disebut Bulian. Sering kali juga dipakai sebagai sebutan untuk orang yang mengobati (tabib) dalam upacara pengobatan tradisional Dayak tersebut yang dinamakan balian dalam berbagai dialek seperti bolin, boretn, baliatn.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Wadian/Balian/Belian adalah upacara pengobatan pada suku Dayak Bawo, Dusun, Maanyan, Lawangan, Benuaq dan Suku Bukit yang menganut agama Kaharingan. Suku-suku serumpun ini hidup bertetangga di sekitar wilayah yang berbatasan di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Sedangkan pada suku Melayu pedalaman (Suku Melayu Petalangan/Suku Talang mamak) disebut Bulian. Sering kali juga dipakai sebagai sebutan untuk orang yang mengobati (tabib) dalam upacara pengobatan tradisional Dayak tersebut yang dinamakan balian dalam berbagai dialek seperti bolin (Dayak Pesaguan), boretn (Dayak Simpakng), baliatn (Dayak Jalai).
Wadian adalah salah satu upacara adat suku Dayak (Dusun, Maanyan, Lawangan, Bawo) yang menganut Kaharingan [1] di antaranya dalam rangka pengobatan terhadap orang sakit. Zaman dahulu kala, saat pengobatan medis tidak semaju sekarang, orang-orang Dayak memanfaatkan jasa wadian untuk mengobati sakit yang mereka derita. Lama atau tidaknya ritual pengobatan tergantung dari parah tidaknya penyakit yang diderita, Upacara Wadian dapat berlangsung selama 1 minggu lebih. Jenis wadian antara lain: Wadian Pangunraun (Pangunraun Jatuh, Pangunraun Jawa), Wadian Dapa, Wadian Tapu Unru, wadian dadas, wadian bawo, wadian bulat.
Dewasa ini, selain untuk pengobatan, wadian juga telah dikembangkan sedemikian rupa menjadi salah satu kesenian daerah yang dapat dinikmati sebagai sebuah atraksi kesenian yang sangat menarik. dan juga digunakan pada waktu upacara kawin yang biasa disebut wurung jue.
Instrumen dari perangkat musik wadian terdiri dari satu set gong, sebuah sarun besi, 3 buah gendang bermembran tunggal. Gong terdiri dari 3 pencon yang ditabuh dengan penabuh khusus untuk membentuk ritme dan pemberat tekanan. Sarun besi berupa 8 bilah besi sebagai resonator. Adapun, tiga gendang satu sisi untuk membentuk ritme dengan jalinan satu sama lain ditabuh dengan tangan.[2]
Belian atau beliatn adalah sebutan wadian dalam bahasa Benuaq dan Tunjung di Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Orang yang memimpin upacara ini disebut dukun atau Pembelian. Dalam menjalankan tugasnya, dukun terlebih dahulu memanggil roh agar masuk ke dalam dirinya. Setelah dirasuki, dukun biasanya memegang daun tertentu sebagai bagian dari ritual. Daun yang digunakan bisa berupa daun kayu sejenis kana atau palem, yang memiliki warna hijau dan ungu, atau pucuk daun kelapa muda.[3]
Upacara Belian dilakukan sebagai sarana pengobatan alternatif untuk menyembuhkan orang sakit, melindungi bayi dari kekuatan jahat, serta mengusir roh-roh pengganggu. Dalam pelaksanaannya, pemimpin upacara juga memohon bantuan kepada Dewa Gentar, yaitu Nayun Gantar, sebagai bagian dari proses penyembuhan dan perlindungan.[3]
Seiring perkembangan waktu, upacara Belian tidak hanya berfungsi sebagai pengobatan, tetapi juga sebagai seni pertunjukan hiburan hiburan. Pertunjukan ini juga turut dikombaniasik dengan tarian lainnya seperti Tari Kenyah.[3]
Pertunjukan Belian memiliki beberapa bentuk pelaksanaan yang berbeda sesuai tujuan dan konteksnya, yang dibedakan menjadi Baraga Bagantar, Tari Serupai, Tari Belian Bawo, dan Tari Kuyang.[3]
Baraga Bagantar ditujukan untuk menjaga keselamatan bayi dengan memohon bantuan kepada Nayun Gantar. Dahulu, pelaksanaannya dilakukan ketika bayi berusia enam hingga delapan malam setelah tali pusarnya terlepas, tetapi kini biasanya dilaksanakan saat bayi berumur tiga hingga empat bulan. Seiring waktu, bentuk ritual ini berkembang menjadi tarian yang diciptakan oleh Lelaang Roah dari Tasik Kemang Nyarung. Baraga Bagantar diiringi dengan lagu Erek Boneh.[3]
Tari Serupai ditujukan untuk menolak wabah penyakit serta mengobati orang yang digigit anjing rabies. Tari ini dinamai sesuai dengan alat musik pengiringnya yang berupa seruling bambu (serupai).[3]
Belian Bawo adalah salah satu upacara pengobatan oleh Suku Dayak Benuaq dan Suku Dayak Tunjung. Belian Bawo berasal dari daerah Bawo Kiring Kincol, yang kini termasuk wilayah Kabupaten Pasir dekat Lawangan. Pertunjukan ini ditujukan untuk mencegah penyakit, menyembuhkan orang sakit, serta memenuhi nazar. Seiring perkembangannya, tarian Belian Bawo juga ditampilkan dalam acara penyambutan tamu maupun perayaan seni dan budaya. Tarian ini diiringi dengan lagu Belian Bawo (Kiring Konco).[3]
Tari kuyang ditujukan untuk mengusir roh atau makhluk halus (kuyang) yang diyakini menjaga pohon-pohon besar seperti karet, meranti, atau beringin. Tarian ini memiliki beberapa variasi sesuai dengan lagu pengiring yang digunakan. Lagu pengiring yang dimainkan antara lain: lagu bontong, lagu tunoung burung, atau lagu berangkut data putang.[3]
Balian adalah sebutan upacara pengobatan pada Suku Dayak Balangan (bagian dari Suku Dayak Maanyan) di Kabupaten Balangan dan Suku Dayak Bukit di Kalimantan Selatan. Suku Dayak Balangan memiliki upacara balian bulat. Tradisi balian ini dibuat menjadi suatu atraksi kesenian yang disebut Tari Tandik Balian.
Bulian adalah sebutan upacara pengobatan pada suku Melayu pedalaman Riau yang disebut Suku Melayu Petalangan/Suku Talang Mamak di Kabupaten Indragiri Hulu. Tradisi bulian ini dibuat menjadi suatu atraksi kesenian yang disebut Tari Rentak Bulian. Nilai-nilai yang terkandung pada pengobatan tradisional Melayu Riau ini sangat cenderung kepada hal-hal gaib dikarenakan pada zaman dahulu belum mengenal pengobatan medis atau pengobatan serba canggih. Dan kebudayaan ini lama kelamaan mulai pudar.