Ursula Franklin adalah seorang metalurgis, fisikawan, dan dosen berkebangsaan Jerman-Kanada. Dia telah mengajar di Universitas Toronto selama lebih dari 40 tahun. Berkat penelitiannya, 135 negara menandatangani Traktat Pelarangan Sebagian Uji Coba Nuklir. Ursula juga adalah seorang aktivis yang banyak memperjuangkan hak-hak wanita dan manusia secara umum. Dia mendapat banyak penghargaan atas kegiatan akademik maupun kegiatan aktivisnya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Ursula Franklin CC OOnt FRSC | |
|---|---|
Franklin di peluncuran The Ursula Franklin Reader pada tahun 2006 | |
| Lahir | Ursula Maria Martius (1921-09-16)16 September 1921 München, Jerman |
| Meninggal | 22 Juli 2016(2016-07-22) (umur 94) Toronto, Ontario, Kanada |
| Kebangsaan | Jerman-Kanada |
| Kewarganegaraan | Kanada |
| Almamater | Universitas Teknik Berlin Universitas Toronto |
| Dikenal atas | Arkeometri Pasifisme Feminisme Teori teknologi |
| Suami/istri | Fred Franklin (m. 1952) |
| Penghargaan | Governor General's Award (1991) Medali Perdamaian Pearson (2001) |
| Karier ilmiah | |
| Bidang | Metalurgis, fisikawan |
| Institusi | Universitas Toronto |
| Terinspirasi | Jacques Ellul Lewis Mumford C. B. Macpherson E. F. Schumacher Vandana Shiva |
Ursula Franklin adalah seorang metalurgis, fisikawan, dan dosen berkebangsaan Jerman-Kanada. Dia telah mengajar di Universitas Toronto selama lebih dari 40 tahun.[1] Berkat penelitiannya, 135 negara menandatangani Traktat Pelarangan Sebagian Uji Coba Nuklir.[2] Ursula juga adalah seorang aktivis yang banyak memperjuangkan hak-hak wanita dan manusia secara umum. Dia mendapat banyak penghargaan atas kegiatan akademik maupun kegiatan aktivisnya.
Ursula Maria Martius Franklin lahir di München, Jerman pada 16 September 1921. Ibunya, Ilse Maria Martius (née Sperling), adalah seorang sejarawan seni berkebangsaan Yahudi dan ayahnya, Albrecht Martius, adalah seorang arkeolog berkebangsaan Jerman. Keluarganya adalah penganut Protestan. Pada tahun 1940, Ursula memulai studi sarjana di Berlin. Namun, pada tahun 1943, dia dan keluarga besarnya dipenjara di kamp kerja paksa Nazi karena latar belakang keluarga ibunya.[3] Delapan belas bulan kemudian, dia dan orang tuanya berhasil keluar dan selamat dari holokaus, meskipun anggota keluarganya yang lain banyak yang tidak selamat.[4] Setelah Perang Dunia Kedua berakhir, Ursula melanjutkan studinya di Universitas Teknik Berlin, mendapatkan gelarnya pada tahun 1946. Dia memilih untuk belajar fisika dan matematika karena mata pelajaran tersebut tidak disensor oleh negara. Pada tahun 1948, ia menerima gelar PhD bidang fisika eksperimental dari Universitas Teknik Berlin.[5]
Pada tahun 1949, Ursula mendapat beasiswa post doctoral di Universitas Toronto dan berimigrasi ke Kanada. Tak lama setelah kedatangannya, dia bertemu dengan calon suaminya, Fred Franklin yang juga seorang imigran Jerman dan seorang insinyur. Mereka bergabung dengan perkumpulan Quaker yang cinta damai dan menikah pada tahun 1952.[6] Mereka memiliki dua anak, Martin dan Monica.[7]
Ursula bekerja di Ontario Research Foundation sebagai ilmuwan riset dari tahun 1951 hingga 1967 dengan spesialisasi logam dan paduan.[8] Dia banyak melakukan penelitian terbesarnya dengan dampak internasional. Penelitian yang dilakukannya antara lain pengujian nuklir berkecepatan tinggi.[6] Dia menyelidiki apakah isotop radioaktif yang dihasilkan oleh tes senjata atmosfer diserap oleh manusia. Dia menemukan bahwa sejumlah besar senyawa strontium-90 di nuklir meningkatkan risiko kanker darah dan tulang. Penelitian ini menyebabkan negara-negara pemilik nuklir membuat Traktat Pelarangan Sebagian Uji Coba Nuklir yang melarang peledakan nuklir di darat, di atmosfer, dan di luar angkasa dan selanjutnya ditandatangani oleh 135 negara.[2]
Pada tahun 1967, Franklin mulai mengajar di Departemen Metalurgi dan Ilmu Material di Universitas Toronto. Ia mengembangkan bidang arkeometri, studi artefak arkeologis menggunakan teknik modern analisis bahan. Hal ini memungkinkan penanggalan artefak perunggu, tembaga, logam dan keramik dari budaya prasejarah.[9] Franklin meneliti bagaimana peradaban kuno membuat alat, bagaimana mereka menggunakan alat untuk berinteraksi dengan lingkungan mereka dan bagaimana penggunaan alat tersebut membentuk budaya manusia.[10] Dia mulai mengajar di Institut Toronto untuk Sejarah dan Filsafat Sains dan Teknologi dan menerbitkan lebih dari 70 makalah ilmiah dan buku tentang struktur dan sifat logam dan paduan dan sejarah serta dampak sosial dari teknologi.[5] Dia diangkat sebagai profesor tetap wanita pertama di Departemen Metalurgi dan Ilmu Material pada tahun 1973. Pada tahun 1984, dia menjadi Profesor Universitas dari Departemen Teknik.[11] Dia kemudian menjabat sebagai Direktur Studi Museum dari 1987 hingga 1989 dan pada 1989 bergabung dengan Massey College sebagai fellow.[7]
Selama tahun 1970-an, dia adalah anggota Science Council of Canada, tempat dia mendalami konservasi sumber daya alam. Dia turut mengembangkan penelitian untuk kebijakan sains lewat Science Council of Canada dan Natural Sciences and Engineering Research Council of Canada.[5] Dia juga berontribusi untuk program radio CBC, termasuk: Demokrasi, Teknologi, dan Terorisme (1979), Perdamaian Nuklir (1982), Front Utara (1986), dan Kompleksitas dan Manajemen (1987).[11] Ceramah Massey 1989 Ursula Franklin telah diterbitkan dalam bukunya, The Real World of Technology.[12]
Sebagai seorang Quaker, Ursula aktif terlibat dalam kegiatan perdamaian dan keadilan, pemahaman internasional, dan masalah-masalah yang berkaitan dengan perempuan. Dia adalah anggota aktif dan dewan nasional Voice of Women, salah satu organisasi advokasi sosial terkemuka Kanada.[12][13]
Franklin aktif dalam Voice of Women (VOW), yang kini dikenal sebagai Canadian Voice of Women for Peace, salah satu organisasi advokasi sosial terkemuka di Kanada. Pada tahun 1968, bersama presiden nasional VOW, Muriel Duckworth, Franklin mengajukan pernyataan kepada komite House of Commons yang menyoroti bagaimana Kanada dan Amerika Serikat telah menandatangani perjanjian perdagangan militer tanpa adanya debat publik yang memadai. Mereka berpendapat bahwa perjanjian tersebut membatasi kemampuan Kanada untuk mengambil kebijakan luar negeri yang independen, seperti menyerukan penarikan segera pasukan Amerika Serikat dari Vietnam Selatan.[14]
Pada tahun 1969, Franklin dan Duckworth mendesak sebuah komite Senat Kanada agar merekomendasikan penghentian penelitian senjata kimia dan biologi oleh pemerintah. Mereka berargumen bahwa dana yang digunakan untuk penelitian militer sebaiknya dialokasikan untuk penelitian lingkungan dan pengobatan preventif. Pada tahun yang sama, Franklin juga menjadi bagian dari delegasi VOW yang mendesak pemerintah federal untuk keluar dari North Atlantic Treaty Organization (NATO) serta membentuk badan khusus yang bertanggung jawab atas perlucutan senjata Kanada.[15]
Pada tahun 1980-an, Franklin berpartisipasi dalam kampanye yang memperjuangkan hak bagi individu yang menolak ikut serta dalam peperangan (conscientious objectors) untuk mengalihkan sebagian pajak penghasilan mereka dari pendanaan militer ke tujuan yang lebih damai. Dalam makalah yang ia tulis pada tahun 1987 untuk mendukung kampanye ini, Franklin berargumen bahwa hak untuk menolak dinas militer atas dasar hati nurani harus diperluas hingga mencakup hak untuk menolak membayar pajak yang digunakan untuk persiapan perang.[16] Ia mengklaim bahwa ketentuan kebebasan hati nurani dalam Canadian Charter of Rights and Freedoms mendukung bentuk penolakan ini.[17] Makalah tersebut merupakan bagian dari upaya banding ke Mahkamah Agung Kanada, setelah pengadilan tingkat lebih rendah memutuskan bahwa menahan sebagian pajak melanggar Income Tax Act. Namun, pada tahun 1990, Mahkamah Agung menolak untuk mendengar banding tersebut.[17]
Setelah pensiun, Franklin bekerja sama dengan Phyllis Grosskurth, Blanche Lemco van Ginkel, Cicely Watson, dan pengacara mereka, Mary Eberts, untuk mengajukan gugatan perwakilan kelompok (class action) terhadap University of Toronto. Mereka menuduh universitas tersebut mendapatkan keuntungan secara tidak adil dengan membayar gaji yang lebih rendah kepada dosen perempuan dibandingkan rekan laki-laki mereka yang memiliki kualifikasi setara.[18] Pada tahun 2002, kasus ini diselesaikan setelah universitas mengakui bahwa banyak dosen perempuan menghadapi hambatan gender serta diskriminasi gaji selama karier mereka. Sebagai hasilnya, sekitar 60 dosen perempuan yang telah pensiun menerima kompensasi atas ketidakadilan dalam gaji dan tunjangan pensiun mereka.[19]
Franklin tetap memiliki hubungan erat dengan Massey College di University of Toronto sebagai senior fellow dan senior resident. Ia aktif dalam berbagai kegiatan, termasuk mendorong perempuan muda untuk mengejar karier di bidang sains, mempromosikan perdamaian dan keadilan sosial, serta berbicara dan menulis tentang dampak sosial dari sains dan teknologi. Banyak artikel dan pidatonya tentang pasifisme, feminisme, teknologi, dan pendidikan dikumpulkan dalam buku The Ursula Franklin Reader yang diterbitkan pada tahun 2006. Ia juga menulis The Real World of Technology, yang didasarkan pada kuliah Massey Lectures-nya tahun 1989 yang disiarkan di CBC Radio.[20]
Dalam tulisannya berjudul Letter to a Graduate Student, Franklin memberikan dorongan kepada seorang mahasiswa bernama "Marcia" yang tertarik pada fisika tetapi merasa kesulitan menghubungkan minatnya dengan feminisme. Dalam surat tersebut, Franklin menyoroti pentingnya pemikiran ilmiah dalam feminisme, merujuk pada rekannya Maggie Benston yang mengintegrasikan sains dan pemikiran feminis. Ia mengutip pandangan Benston bahwa efek samping pil kontrasepsi sering kali dianggap dapat diterima karena sistem medis masih dipengaruhi oleh bias patriarki. Franklin menekankan bahwa diperlukan metodologi baru yang lebih inklusif dan non-reduksionis.[21]
Dengan nada yang ringan dan optimis, Franklin menyarankan agar Marcia menghadapi tantangan akademiknya dengan sikap seperti seorang penjelajah yang tengah mengamati suku asing. Ia juga mengamati bahwa penelitian tentang materi organik padat masih sangat awal dibandingkan dengan fisika keadaan padat yang lebih berkembang, dan berspekulasi bahwa kurangnya perhatian terhadap bidang ini mungkin disebabkan oleh nilai praktisnya yang lebih bermanfaat bagi masyarakat dibandingkan kepentingan militer.[21]
Menurut Ursula Franklin, teknologi adalah rangkaian praktik yang dilakukan oleh manusia, tidak bergantung pada mesin atau gawai.[22] Teknologi didefinisikan sebagai praktik yang menunjukkan kepada kita hubungan budaya. Seperti halnya demokrasi, teknologi adalah entitas yang memiliki banyak segi. Ini termasuk kegiatan pengetahuan, struktur, serta tindakan penataan. Bahasa yang ada kurang cocok untuk menggambarkan kompleksitas interaksi teknologi. Kita harus dapat mengartikan kata-kata seperti 'globalization,' competitiveness,' downsizing' dan 'labour-saving technology' untuk dapat membangun masyarakat yang kuat.[23]
Pada April 2013, Franklin menyumbangkan koleksi tulisannya yang luas mengenai budaya dan sejarah Tiongkok kepada Confucius Institute di Seneca College, Toronto. Koleksi ini mencakup lebih dari 220 teks, buku, publikasi, dan jurnal yang menafsirkan budaya serta sejarah Tiongkok dari perspektif para akademisi Barat. Selain itu, koleksi ini juga berisi berbagai makalah kerja dan arsip pribadi Franklin sendiri. Saat ini, koleksi tersebut dikelola oleh Seneca Archives and Special Collections, yang merupakan bagian dari layanan Perpustakaan Seneca.[24]
Selain itu, Franklin juga menyumbangkan arsip yang mendokumentasikan kehidupan pribadi, profesional, dan publiknya kepada University of Toronto. Koleksi ini mencakup korespondensi dengan rekan kerja, keluarga, teman, serta aktivis, termasuk lebih dari 575 halaman dokumen pengawasan terhadap Franklin yang dilakukan oleh Royal Canadian Mounted Police. Tak hanya itu, ia juga mendonasikan koleksi bukunya yang berkaitan dengan feminisme dan studi perempuan ke perpustakaan University of Toronto Mississauga (UTM).[25]
Pada tahun 1987, Ursula dianugerahi Elsi Gregory McGill Memorial Award untuk kontribusinya dalam pendidikan, sains, dan teknologi. Pada tahun 1989, ia menerima Wiegand Award, penghargaan kepada orang Kanada yang telah memberikan kontribusi luar biasa pada pemahaman manusia dalam bidang sains dan teknologi.[12] Dia juga menerima gelar kehormatan dari banyak universitas Kanada. Pada 1984, Ursula Franklin menjadi wanita pertama yang diberi gelar “Profesor Universitas” oleh Universitas Toronto. Selain kontribusinya yang signifikan sebagai ilmuwan, Dr. Franklin telah dan terus dikenal karena kegiatannya dalam kemanusiaan melalui kegiatan komunitas.[26] Dia menerima Award of Merit for the City of Toronto pada tahun 1982, terutama untuk kontribusinya dalam perencanaan lingkungan.[27] Dia memberikan saran teknis kepada kelompok masyarakat tentang masalah seperti polusi dan radiasi.[12] Pada tahun 1991, dia menerima Governor General's Award dalam memperingati advokasi persamaan hak terhadap perempuan di Kanada.[28] Pada tahun yang sama, dia memperoleh Sir John William Dawson Medal. Dia memperoleh Pearson Medal of Peace 2001 atas perjuangannya terhadap hak asasi manusia. Sebuah sekolah di Toronto juga dinamai seperti namanya, Ursula Franklin Academy.[29]
Rebick, Judy (2005). Ten thousand roses : the making of a feminist revolution. Penguin Canada. OCLC 1036887790. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Franklin, Ursula (2007). The Ursula Franklin reader : pacifism as a map. Between the Lines. ISBN 1-897071-18-3. OCLC 1015925553. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)