Beluk papua atau punggok papua adalah burung hantu berukuran sedang, ramping, dengan kepala berukuran kecil yang proporsional, berekor panjang, dan bersayap bulat pendek. Lingkaran putih pada wajahnya kecil dan kabur, dengan garis-garis hitam dan alis berwarna putih. Burung ini memiliki bagian atas berwarna kekuning-kuningan dan bagian bawah berwarna hitam dan coklat. Matanya berwarna kuning cerah, dan memiliki paruh abu-abu hingga hitam. Pejantan burung ini bertubuh lebih besar dari betinanya, yang merupakan hal tidak biasa di antara burung hantu.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Beluk papua | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Aves |
| Ordo: | Strigiformes |
| Famili: | Strigidae |
| Genus: | Uroglaux Mayr, 1937 |
| Spesies: | U. dimorpha |
| Nama binomial | |
| Uroglaux dimorpha (Salvadori, 1874) | |
Beluk papua atau punggok papua (Uroglaux dimorpha) adalah burung hantu berukuran sedang, ramping, dengan kepala berukuran kecil yang proporsional, berekor panjang, dan bersayap bulat pendek. Lingkaran putih pada wajahnya kecil dan kabur, dengan garis-garis hitam dan alis berwarna putih. Burung ini memiliki bagian atas berwarna kekuning-kuningan dan bagian bawah berwarna hitam dan coklat. Matanya berwarna kuning cerah, dan memiliki paruh abu-abu hingga hitam. Pejantan burung ini bertubuh lebih besar dari betinanya, yang merupakan hal tidak biasa di antara burung hantu.[3]
Meskipun umumnya ditemukan di hutan hujan dataran rendah atau hutan galeri di sabana dataran rendah, beluk papua kadang-kadang ditemukan di ketinggian hingga 1.500 m (4.900 kaki) di atas permukaan laut.[1] Burung ini mungkin merupakan spesies dengan habitat menetap di daerah jelajahnya yang terbatas, Pulau Papua.
Tidak banyak yang diketahui tentang status spesies ini, karena data yang ada tidak cukup untuk mengukur populasinya.[1] Burung ini jarang terlihat manusia, dan mungkin terancam oleh deforestasi.