Suku Badui alias Sunda Badui merupakan sekelompok masyarakat adat Sunda yang mendiami wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Populasi berjumlah 9.558 orang pada tahun 2023.mereka merupakan salah satu kelompok masyarakat yang menutup diri mereka dari dunia luar. Selain itu mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk didokumentasikan, khususnya penduduk wilayah Badui Dalam.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Urang Kanékés | |
|---|---|
Kelompok suku Badui luar | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
| Banten | ca 26.000 jiwa |
| Bahasa | |
| Bahasa Sunda Badui Bahasa Indonesia | |
| Agama | |
| Dominan: Luar dan Dangka: | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Orang Banten • Sunda Priangan | |
Suku Badui alias Sunda Badui (Bahasa Badui: Urang Kanékés, Urang Cibéo,[a] atau kadang hanya sering disebut Badui[1], atau ditulis dalam ortografi latin bahasa Sunda sebagai Baduy) merupakan sekelompok masyarakat adat Sunda yang mendiami wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Populasi berjumlah 9.558 orang pada tahun 2023.mereka merupakan salah satu kelompok masyarakat yang menutup diri mereka dari dunia luar. Selain itu mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk didokumentasikan, khususnya penduduk wilayah Badui Dalam.
Suku Badui termasuk sub-suku dari suku Sunda, mereka dianggap sebagai masyarakat Sunda yang belum terpengaruh modernisasi atau kelompok yang hampir sepenuhnya terasing dari dunia luar.
Masyarakat Badui menolak istilah "wisata" atau "pariwisata" untuk mendeskripsikan kampung-kampung mereka. Sejak 2007, untuk mendeskripsikan wilayah mereka serta untuk menjaga kesakralan wilayah tersebut, masyarakat Badui memperkenalkan istilah "Saba Budaya Badui", yang bermakna "Silaturahmi Kebudayaan Badui".[2]
Sebutan "Badui" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Badui dan Gunung Badui yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo (Garna, 1993).
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, penulisan yang tepat adalah "Badui".[1]

Suku ini bermukim di wilayah di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Permukimannya terpusat di daerah aliran sungai Ci Ujung dan Cikanekes yang berlokasi di sekitar lereng Gunung Kendeng dengan jarak sekitar 65 km sebelah selatan Serang yang merupakan Ibu Kota Banten dan 172 km sebelah barat Jakarta.[3] Secara geografis, desa ini terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” lintang selatan dan 108°3’9” – 106°4’55” bujur timur dengan luas 5.101,85 hektar.[4] Desa ini berada di ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (DPL) dengan topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45%, yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan). Suhu rata-rata pada angka 20 °C.[5]
Wilayah ini juga terbagi menjadi dua bagian dengan luas wilayah Baduy Dalam sebesar 2.749 hektare, sementara wilayah Baduy Luar sedikit lebih kecil, yaitu 2.387 hektare.[6] Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Lebak pada tahun 2017, jumlah penduduknya adalah 11.699 jiwa atau 3.413 keluarga.[7] Namun, pada tahun 2023, jumlah itu telah menurun menjadi hanya 9.558 jiwa.[8]
Tiga permukiman utama Baduy Dalam adalah Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo. Area ini merupakan kawasan lindung yang ditetapkan oleh Peraturan Daerah Lebak Nomor 2 Tahun 2014. Wilayah ini memiliki topografi berbukit dengan ketinggian yang bervariasi, mulai dari 325 meter di atas permukaan laut (dpl) di bagian utara hingga 900 meter dpl di bagian selatan, tempat titik tertinggi ditemukan. Secara geologi, area ini sebagian besar terbentuk dari endapan vulkanik kuarter, khususnya formasi Baduy dan Cimapag, bersama dengan batuan vulkanik dari Gunung Endut, tanah liat, dan tuf Citorek. Formasi-formasi ini membentuk Pegunungan Bayah, yang umumnya tersusun dari pasir, lanau, lumpur, dan sisa-sisa tanaman. Jenis tanah yang dominan adalah latosol.[6]
Iklim di desa tradisional Baduy memiliki suhu rata-rata tahunan 26,5 °C, dengan fluktuasi musiman yang minimal; suhu biasanya berkisar dari minimum 26,1 °C pada bulan Februari hingga maksimum 26,8 °C pada bulan Mei, September, dan Oktober. Curah hujan bulanan rata-rata adalah 171,1 mm, yang dikategorikan sebagai sedang. Curah hujan ini berkontribusi pada kelembaban relatif rata-rata 81% dengan tingkat terendah (76%) terjadi pada bulan Agustus dan September dan tertinggi (85%) pada bulan Februari. Area ini terletak di dalam daerah aliran sungai (DAS) Ci ujung, dengan Sungai Ciujung melintasi wilayah dari hulu yang berhutan di bagian selatan hingga hilir di bagian utara. Penggunaan lahan di Baduy Dalam bervariasi, terdiri dari tujuh kategori yang berbeda: kampung (permukiman), leuit (lumbung padi), huma (lahan kering), jami (kebun campuran), reuma (hutan sekunder tua), leuweung lembur (kebun pekarangan), dan leuweung kolot (hutan lindung).[6]
Wilayah Baduy Luar terdiri dari total 55 desa, meliputi: Cigoel (Kaduketug 3), Cipondok (Kaduketug 2), Kaduketug 1, Kadukaso, Cihulu, Balingbing, Marengo, Gajeboh, Kadujangkung, Babakan Karakal (Kadugede), Karakal, Kaduketer 1, Kaduketer 2, Cikopeng, Cibongkok, Ciwaringin, Binglugemok (Cibitung), Batara, Sorokokod, Panyerangan, Cigula, Cicatang, Cicatang 2, Kadukohak, Cisaban, Babakan Cisaban, Cijanar, Leuwihandam, Cicangkudu, Cisagu Landeuh, Cijengkol, Cikadu 1, Cikadu 2, Cipiit 1, Cilingsuh, Cisagu Pasir, Cipiit 2, Ciranji, Babakan Eurih, Cisadane (Leuwigede), Cibagelut, Batubeulah, Cibogo, Pamoean, Cipaler, Cicakal Muara, Cicakal Tarikolot, Cicakal Girang, Cicakal Girang 2, Cicakal Girang 3 (Leuwibuleud), Cijangkar, Ciranca Kondang, Kanengai, dan Cikulingseng.[5]
Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Sunda dialek Badui. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Kanekes Dalam tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat-istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.
Orang Kanekes tidak mengenal sekolah, karena pendidikan formal berlawanan dengan adat-istiadat mereka. Mereka menolak usulan pemerintah untuk membangun fasilitas sekolah di desa-desa mereka. Bahkan hingga hari ini, walaupun sejak era Soeharto pemerintah telah berusaha memaksa mereka untuk mengubah cara hidup mereka dan membangun fasilitas sekolah modern di wilayah mereka, orang Kanekes masih menolak usaha pemerintah tersebut. Namun masyarakat Kanekes memiliki caranya sendiri untuk belajar serta mengembangkan wawasan mereka hingga sepadan dengan masyarakat di luar suku Badui.

Suku ini terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu, panamping, dan dangka. Sub-kelompok pertama biasanya disebut Tangtu[6], Jero[7], atau Kejeroan[9] atau Baduy Dalam. Namun, subkelompok ini lebih suka disebut berdasarkan tempat asal mereka, seperti Urang Kanekes dengan makna Orang Kanekes, dari nama desa mereka; Urang Girang (secara harfiah, "Orang Hulu") sesuai dengan tempat tinggal mereka di dekat hulu sungai dan Urang Rawayan, diambil dari nama sungai Ci Rawayan, sungai yang mengalir di wilayah tempat tinggal Baduy Dalam. Selain itu, mereka disebut "Urang Tangtu Tilu" (secara harfiah, "Orang Tiga Desa Dalam"), yang mengidentifikasi tiga desa utama mereka.[9]
Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Kanekes Dalam (Badui Dalam), yang paling ketat mengikuti adat, yaitu warga yang tinggal di tiga kampung Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Ciri khas Orang Kanekes Dalam adalah pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua (warna tarum) serta memakai ikat kepala putih. Mereka dilarang secara adat untuk bertemu dengan orang asing.
Kanekes Dalam adalah bagian dari keseluruhan orang Kanekes. Tidak seperti Kanekes Luar, warga Kanekes Dalam masih memegang teguh adat-istiadat nenek moyang mereka.
Sebagian peraturan yang dianut oleh Orang Kanekes Dalam antara lain:
Kelompok masyarakat kedua yang disebut panamping adalah mereka yang dikenal sebagai Kanekes Luar (Badui Luar), yang tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Kanekes Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Masyarakat Kanekes Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna biru gelap (warna tarum).
Kanekes Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Kanekes Dalam. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkannya warga Kanekes Dalam ke Kanekes Luar:
Ciri-ciri masyarakat orang Kanekes Luar
Apabila Kanekes Dalam dan Kanekes Luar tinggal di wilayah Kanekes, maka "Kanekes Dangka" tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai semacam buffer zone atas pengaruh dari luar (Permana, 2001).
Mitos penciptaan suku Baduy menceritakan bahwa Bumi berasal dari sebuah zat kental dan transparan yang mereka sebut ngenclong. Awalnya, zat ini hanya sebesar sebutir nasi, lalu mengeras dan membesar hingga membentuk Sasaka Domas, sebuah struktur megalitikum yang mereka yakini sebagai inti dan pusat Bumi, serta titik awal dari semua kehidupan. Mereka juga percaya bahwa inilah tempat manusia pertama diturunkan ke Bumi, yang kemudian menjadi leluhur bagi seluruh umat manusia.[10] Suku Baduy juga meyakini bahwa ngenclong terpisah menjadi beberapa bagian. Bagian yang naik ke atas membentuk langit disebut Buana Nyungcung, dan bagian yang turun ke bawah dikenal sebagai Buana Larang, yang berfungsi sebagai neraka. Di antara kedua alam tersebut, terletak Buana Tengah, tempat tinggal manusia, pohon, dan hewan serta Buana Suci Alam Padang, tempat bersemayamnya para dewi padi.[11] Buana Suci Alam Padang terdiri dari 18 lapisan. Lapisan tertinggi disebut Bumi Suci Alam Kahiyangan atau Mandala Hiyang, tempat Nyi Pohaci Sanghiyang Asri dan Sunan Ambu tinggal.[12] Menurut sistem kepercayaan mereka, suku Baduy menganggap diri mereka sebagai keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa yang diutus ke Bumi.[13]

Suku Baduy meyakini bahwa mereka telah mendiami wilayah tersebut sejak penciptaan umat manusia,[14] berbeda dengan pandangan para sejarawan. Beberapa sejarawan, termasuk Carl Ludwig Blume dan Cornelis Marinus Pleyte, percaya bahwa suku Baduy adalah keturunan bangsawan dari Kerajaan Sunda Pajajaran yang melarikan diri dari serangan Kesultanan Banten pada tahun 1579, karena penguasa mereka, Prabu Siliwangi, menolak untuk masuk Islam.[7] Hipotesis lain menyatakan bahwa suku ini berasal dari orang-orang di Banten yang melarikan diri dari penyebaran Islam setelah jatuhnya Kerajaan Sunda. Para pengungsi ini diperkirakan pada awalnya menetap di sepanjang Sungai Cibaduy, yang diyakini sebagai asal nama mereka. Meskipun C.A. Kruseman telah mengusulkan bahwa Baduy adalah penduduk asli wilayah Banten, ia juga memperkirakan bahwa mereka pindah lebih dalam ke hutan setelah 1579 M.[7] Orang Baduy sendiri telah menolak klaim bahwa mereka adalah keturunan dari "Pajajaran", karena dalam budaya mereka, kata "Pajajaran"juga merujuk pada arwah jahat, yang mereka usir dengan mantra spesifik.[15]
Teori lain mengemukakan bahwa sebelum kesultanan berdiri, ujung barat Jawa memegang peranan penting bagi Kerajaan Sunda, dengan Banten sebagai pelabuhan niaga utamanya. Beragam jenis perahu masuk ke Sungai Ciujung, yang mayoritas dipakai untuk mengangkut hasil bumi dari daerah pedalaman. Maka dari itu, penguasa setempat, Pangeran Pucuk Umun, meyakini bahwa keberlangsungan sungai harus dipertahankan. Sepasukan prajurit kerajaan yang terlatih diperintahkan untuk menjaga dan mengelola area hutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng, yang diduga menjadi asal-usul Suku Baduy. Teori tersebut dikuatkan oleh tradisi turun-temurun yang disebut seba puun, yaitu tradisi yang dilakukan oleh seorang kepala desa (puun) yang menghadap raja di ibu kota untuk melaporkan keadaan desanya. Kebiasaan ini masih berlanjut sampai sekarang yang sekarang dilaporkan kepada Bupati Lebak.[14]

Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai ajaran Sunda Wiwitan, ajaran leluhur turun temurun yang berakar pada penghormatan kepada karuhun atau arwah leluhur dan pemujaan kepada roh kekuatan alam (animisme). Meskipun sebagian besar aspek ajaran ini adalah asli tradisi turun-temurun, pada perkembangan selanjutnya ajaran leluhur ini juga sedikit dipengaruhi oleh beberapa aspek ajaran Hindu, Buddha, dan di kemudian dari ajaran Islam.
Bentuk penghormatan kepada roh kekuatan alam ini diwujudkan melalui sikap menjaga dan melestarikan alam; yaitu merawat alam sekitar (gunung, bukit, lembah, hutan, kebun, mata air, sungai, dan segala ekosistem di dalamnya), serta memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada alam, dengan cara merawat dan menjaga hutan larangan sebagai bagian dalam upaya menjaga keseimbangan alam semesta. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari 'pikukuh' (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep "tanpa perubahan apa pun", atau perubahan sesedikit mungkin:
Tabu tersebut dalam kehidupan sehari-hari diinterpretasikan secara harfiah. Di bidang pertanian, bentuk pikukuh tersebut adalah dengan tidak mengubah kontur lahan bagi ladang, sehingga cara berladangnya sangat sederhana, tidak mengolah lahan dengan bajak, tidak membuat terasering, hanya menanam dengan tugal, yaitu sepotong bambu yang diruncingkan. Pada pembangunan rumah juga kontur permukaan tanah dibiarkan apa adanya, sehingga tiang penyangga rumah Kanekes sering kali tidak sama panjang. Perkataan dan tindakan mereka pun jujur, polos, tanpa basa-basi, bahkan dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar.
Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Kanekes mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Kalima, yang pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli. Hanya Pu'un atau ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut. Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan. Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih, maka bagi masyarakat Kanekes itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik. Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen (Permana, 2003a).
Bagi sebagian kalangan, berkaitan dengan keteguhan masyarakatnya, kepercayaan yang dianut masyarakat adat Kanekes ini mencerminkan kepercayaan keagamaan masyarakat Sunda secara umum sebelum masuknya Islam.
Masyarakat Kanekes mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem nasional, yang mengikuti aturan negara Indonesia, dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat. Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi benturan. Secara nasional, penduduk Kanekes dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah camat, sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu "Pu'un".

Pemimpin adat tertinggi dalam masyarakat Kanekes adalah "Pu'un" yang ada di tiga kampung tangtu. Jabatan tersebut berlangsung turun-temurun, tetapi tidak otomatis dari bapak ke anak, melainkan dapat juga kerabat lainnya. Jangka waktu jabatan Pu'un tidak ditentukan, hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut.
Sebagaimana yang telah terjadi selama ratusan tahun, maka mata pencaharian utama masyarakat Kanekes adalah bertani Padi huma. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji, serta madu hutan. Bertani merupakan pekerjaan utama masyarakat Badui dan padi adalah tanaman utama yang dibudidayakan. Orang Badui menanam padi ladang atau ngahuma. Mereka pantang menanam di sawah, sehingga tidak pernah menggunakan cangkul untuk mengolah tanah. Alat pertanian yang digunakan yaitu parang dan tunggak untuk memasukkan benih. Di ladang, orang Baduy akan menanam padi satu kali dalam setahun dengan benih lokal. Masa tanam hingga panen membutuhkan waktu selama lima bulan.[16]
Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat-istiadat bukan merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. Berdirinya Kesultanan Banten yang secara otomatis memasukkan Kanekes ke dalam wilayah kekuasaannya pun tidak lepas dari kesadaran mereka. Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba ke Kesultanan Banten (Garna, 1993). Sampai sekarang, upacara seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten (sebelumnya ke Gubernur Jawa Barat), melalui Bupati Lebak di Kecamatan Rangkasbitung. Di bidang pertanian, penduduk Kanekes Luar berinteraksi erat dengan masyarakat luar, misalnya dalam sewa-menyewa tanah, dan tenaga buruh.
Perdagangan yang pada waktu yang lampau dilakukan secara barter, sekarang ini telah mempergunakan mata uang rupiah biasa. Orang Kanekes menjual hasil buah-buahan, madu, dan gula kawung/aren melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.
Pada saat ini orang luar yang mengunjungi wilayah Kanekes semakin meningkat sampai dengan ratusan orang per kali kunjungan, biasanya merupakan remaja dari sekolah, mahasiswa, dan juga para pengunjung dewasa lainnya. Mereka menerima para pengunjung tersebut, bahkan untuk menginap satu malam, dengan ketentuan bahwa pengunjung menuruti adat-istiadat yang berlaku di sana. Aturan adat tersebut antara lain tidak boleh berfoto di wilayah Kanekes Dalam, tidak menggunakan sabun, sampo atau sikat gigi dengan pasta gigi di sungai, tidak boleh membuang sampah sembarangan. Namun, wilayah Kanekes tetap terlarang bagi orang asing (non-WNI). Beberapa wartawan asing yang mencoba masuk sampai sekarang selalu ditolak masuk.
Pada saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak, orang Kanekes juga senang berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan syarat harus berjalan kaki. Pada umumnya mereka pergi dalam rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 orang, berkunjung ke rumah kenalan yang pernah datang ke Kanekes sambil menjual madu dan hasil kerajinan tangan. Dalam kunjungan tersebut biasanya mereka mendapatkan tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup.
| Klik pranala guna melihat gambar | |
|---|---|
| Arca Domas | |