Unjuk rasa anti-pemerintah Burma 2007 dimulai pada 15 Agustus 2007 dan terus berlanjut. Penyebab unjuk rasa adalah keputusan Junta, Majelis Perdamaian dan Perkembangan, untuk membatalkan subsidi bahan bakar dan meningkatkan harga bahan bakar sesuai saran IMF dan Bank Dunia, sebanyak 100%.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

perlu penyesuaian bahasa ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. |
| Bagian dari seri artikel mengenai |
| Gerakan demokrasi di Myanmar |
|---|
| Latar belakang |
| Pasca kemerdekaan Burma |
| Konflik internal di Myanmar |
| Jalan Burma Menuju Sosialisme |
| Dewan Perdamaian dan Pembangunan Negara |
| Unjuk rasa massa |
| Pemberontakan 8888 · Revolusi Safron |
| Konsesi dan reformasi |
|
Peta jalan menuju demokrasi Konstitusi baru Reformasi 2011 |
| Pemilihan umum |
| 1990 · 2010 · 2012 · 2015 |
| Organisasi |
| Liga Nasional untuk Demokrasi · Kelompok Pelajar Generasi 88 · Burma Campaign UK · Koalisi Burma Bebas · U.S. Campaign for Burma · Gelombang Generasi · Front Demokratik Pelajar Seluruh Burma · Kekuatan Ketiga |
| Tokoh |
| U Nu · Aung Gyi · Tin Oo · Aung San Suu Kyi · Min Ko Naing · Thein Sein |
| Topik terkait |
| Hak asasi manusia di Myanmar · Politik Myanmar · Hubungan luar negeri Myanmar |

Unjuk rasa anti-pemerintah Burma 2007 dimulai pada 15 Agustus 2007 dan terus berlanjut. Penyebab unjuk rasa adalah keputusan Junta, Majelis Perdamaian dan Perkembangan, untuk membatalkan subsidi bahan bakar dan meningkatkan harga bahan bakar sesuai saran IMF dan Bank Dunia, sebanyak 100%.
Dipimpin oleh pelajar dan aktivis politik oposisi, unjuk rasa tersebut ditangani dengan cepat oleh junta, dengan menahan lusinan pengunjuk rasa. Pada 18 September aksi unjuk rasa ini dipimpin oleh ribuan biksu Buddha yang tergabung dalam Aliansi Semua Bikkhu Burma, dan protes tersebut diizinkan berlangsung sampai pemerintah mulai menahan pada 26 September. Beberapa laporan berita melaporkan bahwa protes ini disebut sebagai Revolusi Safron.
Frasa "Revolusi Safron" menghubungkan antara diktator militer dengan warna safron yang biasanya dipakai oleh biksu Buddha, yang merupakan pemimpin dari demonstrasi ini. Namun mungkin ada kesalahan penamaan, karena safron biasa dipakai oleh biksu Theravada di negara tetangga, dan biasanya di Myanmar para biksu merupakan anggota mazhab Mahayana dan memakai warna crimson (merah darah).