Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiTumabicara butta
Artikel Wikipedia

Tumabicara butta

Tumabicara butta merupakan jabatan tertinggi kedua dalam tatanan birokrasi dalam persekutuan Kerajaan Gowa-Kerajaan Tallo. Tumabicara butta secara etimologi berarti "jurubicara negeri". Jabatan ini secara tradisi dipegang oleh Karaeng (penguasa) Kerajaan Tallo yang wilayahnya disatukan dalam federasi bersama Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan raja Gowa Tumapaqrisiq Kallonna. Posisi tumabicara butta dapat disamakan dengan mangkubumi atau mahapatih.

Wikipedia article
Diperbarui 28 September 2021

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Tumabicara butta merupakan jabatan tertinggi kedua dalam tatanan birokrasi dalam persekutuan Kerajaan Gowa-Kerajaan Tallo. Tumabicara butta secara etimologi berarti "jurubicara negeri". Jabatan ini secara tradisi dipegang oleh Karaeng (penguasa) Kerajaan Tallo yang wilayahnya disatukan dalam federasi bersama Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan raja Gowa Tumapaqrisiq Kallonna. Posisi tumabicara butta dapat disamakan dengan mangkubumi atau mahapatih.[1]

Wewenang dan tugas

Jabatan tumabicara butta berada setingkat di bawah sombaya atau maharaja, gelar yang digunakan oleh para Karaeng Gowa dalam konteks kepemimpinan Kerajaan Gowa-Kerajaan Tallo.[1] Jika putra mahkota Gowa belum mencapai usia dewasa, seorang tumabicara butta juga dapat merangkap menjadi pelaksana tugas sombaya; seperti ketika Karaeng Matoaya memimpin Makassar atas nama I Manngarangi (nantinya masuk Islam dan menjadi Sultan Ala'uddin) yang saat itu masih berusia tujuh tahun.[2]

Secara umum, tumabicara butta merupakan penasihat bagi sombaya. Ia juga memiliki wewenang untuk memperingati sombaya apabila ia tidak mengikuti hukum adat dalam memerintah dan memberi hukuman.[2] Tugas seorang tumabicara butta, selain dari memberi nasihat, adalah mengawasi pemerintahan dan memberi pendidikan bagi anak-anak raja dan anaknya sendiri, agar mereka memahami hukum adat dan mampu menjadi pemimpin yang baik kelak.[2]

Lihat juga

  • Karaeng Matoaya
  • Karaeng Pattingalloang

Catatan

  1. 1 2 (Sewang 2005, hlm. 127)
  2. 1 2 3 (Sewang 2005, hlm. 128)

Referensi

  • Sewang, Ahmad M. (2005). Islamisasi Kerajaan Gowa: abad XVI sampai abad XVII. Yayasan Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-530-0. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Wewenang dan tugas
  2. Lihat juga
  3. Catatan
  4. Referensi

Artikel Terkait

Alauddin I dari Gowa

saat itu masih berusia tujuh tahun diangkat menjadi Karaeng Gowa oleh tumabicara butta Makassar Karaeng Matoaya. Datuk ri Bandang, seorang pendakwah Minangkabau

Sejarah awal Gowa dan Tallo

Sejarah kerajaan Gowa-Tallo sejak berdirinya hingga akhir abad ke-16

Tunipasulu

merupakan raja ketigabelas Gowa menggantikan ayahnya, Tunijalloq. Oleh tumabicara butta Karaeng Matoaya, Tunipasuluq diangkat sebagai raja Gowa tiga malam

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026