Troso adalah sebuah desa di Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Desa ini secara luas dikenal sebagai pusat industri kreatif Tenun Ikat Troso, yang produknya telah menembus pasar mancanegara hingga ke Eropa dan Amerika.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Troso | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Tengah | ||||
| Kabupaten | Jepara | ||||
| Kecamatan | Pecangaan | ||||
| Kode pos | 59462 | ||||
| Kode Kemendagri | 33.20.02.2006 | ||||
| Luas | 711,49 ha | ||||
| Jumlah penduduk | - | ||||
| Kepadatan | - | ||||
| |||||
Troso adalah sebuah desa di Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Desa ini secara luas dikenal sebagai pusat industri kreatif Tenun Ikat Troso, yang produknya telah menembus pasar mancanegara hingga ke Eropa dan Amerika.[1]
Asal-usul Desa Troso tidak lepas dari sosok Mbah Senu (Ki Senu) dan istrinya, bangsawan dari Mataram yang memilih menetap di wilayah ini karena kesuburan tanahnya. Mbah Senu, yang juga merupakan keturunan ke-14 Sunan Muria, menyebarkan agama Islam di wilayah ini bersama Datuk Gurnardi (ulama asal Singaraja, Bali).[2] Keterampilan menenun di desa ini awalnya diajarkan oleh Mbah Senu kepada warga sebagai aktivitas sampingan yang kemudian berkembang menjadi komoditas ekonomi utama desa. Mbah Senu dimakamkan di Makam Dowo, yang terletak di sebelah selatan pemakaman Nogosari.[3]
Desa Troso merupakan pusat ekonomi kreatif terbesar di Kabupaten Jepara dengan fokus utama pada produksi Tenun Ikat.
Desa Troso memiliki luas wilayah mencapai 711,49 ha yang terbagi menjadi 10 RW dan 82 RT.[6] Batas wilayah administratifnya adalah:
| Utara | Desa Ngabul |
| Timur | Desa Rengging |
| Selatan | Desa Pecangaan Kulon |
| Barat | Desa Ngeling |
Sebagai desa industri, Troso memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung kualitas SDM dan kesehatan warga:
Masyarakat Troso sangat religius dengan keberadaan 6 masjid dan 92 mushola. Tradisi keagamaan seperti Mawakiban, yasinan, dan pertemuan selasanan rutin diselenggarakan sebagai sarana silaturahmi antar-pengrajin dan warga.[8]
Masjid Datuk Ampel merupakan salah satu masjid tertua dan paling bersejarah di Kabupaten Jepara yang terletak di Desa Troso. Masjid ini didirikan oleh Mbah Datuk Singorojo (Idha Gurnandhi), seorang ulama asal Singaraja, Bali, yang juga merupakan sahabat dari Mbah Senu. Menurut catatan sejarah lokal, masjid ini diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1421 M, menjadikannya saksi bisu awal penyebaran Islam di wilayah Pecangaan.[9]
Setiap tahunnya, masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan besar, termasuk penyelenggaraan Haul Mbah Datuk yang dihadiri oleh ribuan peziarah dari berbagai daerah, termasuk dari Kerso, Semat, dan Singorojo (Mayong). Keberadaan masjid ini menegaskan identitas Troso sebagai "Desa Santri" sekaligus sentra industri tenun yang religius.[10]