Topeng Betawi merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Betawi yang berkembang di Jakarta dan sekitarnya. Kesenian ini meliputi pertunjukan tari, musik, komedi, serta drama. Pertunjukan Topeng Betawi menampilkan kisah-kisah kehidupan masyarakat Betawi yang disampaikan melalui bentuk tari dan drama. Disebut tari topeng karena dalam beberapa bagian pertunjukan, penarinya mengenakan topeng saat menari, dan masyarakat Betawi dahulu percaya bahwa topeng memiliki kekuatan magis.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Topeng Betawi merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Betawi yang berkembang di Jakarta dan sekitarnya.[1] Kesenian ini meliputi pertunjukan tari, musik, komedi, serta drama. Pertunjukan Topeng Betawi menampilkan kisah-kisah kehidupan masyarakat Betawi yang disampaikan melalui bentuk tari dan drama. Disebut tari topeng karena dalam beberapa bagian pertunjukan, penarinya mengenakan topeng saat menari, dan masyarakat Betawi dahulu percaya bahwa topeng memiliki kekuatan magis.[2][3]
Topeng Betawi pertama kali diciptakan oleh Mak Kinang binti Kinin dan Kong Djiun bin Dorak pada tahun 1918,[1][4][5] yang terinspirasi dari tari Topeng Cirebon.[1] Bentuk teatrikal drama tari ini awalnya berkembang di kawasan masyarakat Betawi pinggiran Jakarta (Betawi Ora).[1] Mak Kinang dan Kong Djiun mempunyai tiga anak, yaitu Bokir, Dalih, dan Kisam yang kemudian mendirikan sanggar Topeng Betawinya masing-masing: Setia Warga (Bokir), Kinang Putra (Dalih), dan Ratna Sari (Kisam).[1] Hingga kini, para anggota dari sanggar-sanggar Topeng Betawi yang masih ada pada umumnya masih berhubungan kerabat satu sama lain.[1]

Pertunjukan Topeng Betawi tradisional dahulu terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama dimulai dengan musik instrumental yang disebut sebagai tetalu, kemudian dilanjut dengan memainkan lagu-lagu khas topeng betawi. Bagian kedua merupakan tarian. tarian dibuka dengan tari Topeng Tunggal yang ditarikan oleh penari yang mengenakan Kembang Topeng (mahkota penari) serta menggunakan topeng (kedok),[2] yang lalu dilanjutkan dengan Lipet Gandes (tari + lawakan/bodoran).[1] Dalam tari Topeng Tunggal, seorang penari menampilkan tiga tokoh utama dengan mengganti-ganti topeng (kedok). Tiga tokoh tersebut adalah:[1][5][6]
Bagian ketiga berupa drama (lakon) Topeng Betawi yang dapat berlangsung sepanjang malam. Cerita yang dibawakan sering kali menonjolkan kehidupan sehari-hari dan dipentaskan tanpa memakai topeng.[1] Dahulu, ada lakon tambahan yang menampilkan tokoh bernama Jantuk, yang memakai topeng hitam. Isi dari lakon tersebut adalah nasihat-nasihat tentang perkawinan dan kehidupan rumah tangga.[1]
Dalam pertunjukan Topeng Betawi, alat-alat musik yang biasa dimainkan antara lain rebab, gong, kendang, kempul, Kenong tiga, dan kecrek.[1][5][7]
Topeng Betawi dahulu memiliki beberapa fungsi sosial dalam masyarakat Betawi. Masyarakat meyakini bahwa pertunjukan Topeng Betawi dapat menjauhkan diri mereka dari mara bahaya, penyakit, atau musibah.[2] Namun, saat ini Topeng Betawi lebih sering ditampilkan sebagai hiburan untuk mengisi berbagai acara Betawi, seperti pernikahan, khitanan, sedekah bumi, maupun Lebaran.[5]