Tomegorō Yoshizumi adalah seorang wartawan dan mata-mata Jepang yang membelot berpihak ke Indonesia. Pada awalnya, ia bekerja sebagai wartawan untuk Nichiran Shogyo Shinbun dari 1935. Ia kemudian ditugaskan untuk menjadi mata-mata di Hindia Belanda dengan menyamar sebagai pekerja di Toko San’yo. Di Indonesia, ia kemudian membentuk surat kabar Tohindo Nippo, sebuah surat kabar hasil perpaduan dari Nichiran Shogyo Shinbun dan Jawa Nippo, dalam rangka menggalang persatuan orang-orang Jepang di Hindia Belanda.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Tomegorō Yoshizumi | |
|---|---|
![]() | |
| Nama asal | 吉住 留五郎 |
| Lahir | (1911-02-09)9 Februari 1911 Oizumi-mura, Nishitagawa, Yamagata, Kekaisaran Jepang |
| Meninggal | 8 Oktober 1948(1948-10-08) (umur 37) Blitar, Jawa Timur, Hindia Belanda |
| Kewarganegaraan | Jepang |
| Pekerjaan | Jurnalis, Mata-mata |
| Tempat kerja | Angkatan Laut Kekaisaran Jepang |
| Dikenal atas | Membelot ke Indonesia selama Revolusi Nasional Indonesia |
Tomegorō Yoshizumi (吉住 留五郎code: ja is deprecated , Yoshizumi Tomegorō, 9 Februari 1911 – 10 Agustus 1948 ) adalah seorang wartawan dan mata-mata Jepang yang membelot berpihak ke Indonesia. Pada awalnya, ia bekerja sebagai wartawan untuk Nichiran Shogyo Shinbun dari 1935. Ia kemudian ditugaskan untuk menjadi mata-mata di Hindia Belanda dengan menyamar sebagai pekerja di Toko San’yo.[1] Di Indonesia, ia kemudian membentuk surat kabar Tohindo Nippo, sebuah surat kabar hasil perpaduan dari Nichiran Shogyo Shinbun dan Jawa Nippo, dalam rangka menggalang persatuan orang-orang Jepang di Hindia Belanda.[1]
Ia kemudian membelot dan berpihak ke Indonesia dengan bergabung dengan kelompok Tan Malaka di mana ia dipanggil dengan sebutan Arif.[1] Tomegoro Yoshizumi gugur saat bergerilya sebagai Komandan Pasukan Gerilya Istimewa[2] di Blitar, Jawa Timur pada 10 Agustus 1948 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Blitar, Jawa Timur.[1]
Kisahnya kemudian dibukukan dalam sebuah buku berjudul Jejak intel Jepang: kisah pembelotan Tomegoro Yoshizumi oleh Wenri Wanhar.[3]