Toga, pakaian ala Romawi kuno ini adalah sehelai kain sepanjang kira-kira enam meter yang dililitkan ke sekeliling tubuh, dan umumnya dikenakan setelah mengenakan tunik. Toga terbuat dari wol, dan tunik kerap terbuat dari linen. Setelah abad ke-2 SM, toga menjadi busana khusus pria, dan hanya warga negara Romawi yang diizinkan mengenakannya. Karena menjadi busana khusus pria, maka kaum wanita mengenakan stola.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Toga, pakaian ala Romawi kuno ini adalah sehelai kain sepanjang kira-kira enam meter (20 kaki) yang dililitkan ke sekeliling tubuh, dan umumnya dikenakan setelah mengenakan tunik. Toga terbuat dari wol,[1] dan tunik kerap terbuat dari linen. Setelah abad ke-2 SM, toga menjadi busana khusus pria, dan hanya warga negara Romawi yang diizinkan mengenakannya. Karena menjadi busana khusus pria, maka kaum wanita mengenakan stola.
Toga dalam bahasa latin adalah tego yang berarti penutup. Meskipun biasanya dikaitkan dengan bangsa Romawi, toga sebenarnya berasal dari semacam jubah yang dikenakan oleh pribumi Italia, yakni bangsa Etruskan yang hidup di Italia sejak 1200 SM. Toga merupakan busana orang-orang Romawi; sehelai mantel wol tebal yang dikenakan setelah mengenakan cawat atau celemek. Toga diyakini sudah ada sejak era Numa Pompilius, Raja Roma yang kedua. Toga ditanggalkan bila pemakainya berada di dalam ruangan, atau bila melakukan pekerjaan berat di ladang, tetapi toga dianggap sebagai satu-satunya busana yang pantas bila berada di luar ruangan. Hal ini terbukti dalam riwayat Cincinnatus: dia sedang membajak ladangnya tatkala para utusan Senat datang untuk mengabarinya bahwa dia telah dijadikan diktator, dan begitu melihat mereka dia menyuruh isterinya mengambilkan toganya dari rumah untuk dikenakannya sehingga utusan-utusan itu dapat disambut dengan layak.[2] Sekalipun kebenarannya boleh diragukan, riwayat itu tetap memperlihatkan sentimen Romawi terhadap toga.
Seiring berlalunya waktu, gaya berbusana pun berganti. Bangsa Romawi mengadopsi baju (tunica, atau khiton dalam bahasa Yunani) yang dikenakan orang-orang Yunani dan Etruskan, membuat toga menjadi makin berisi, sehingga lilitannya perlu agak dilonggarkan bila dikenakan. Akibatnya toga menjadi tidak berguna dalam aktivitas-aktivitas yang memerlukan kegesitan, misalnya dalam perang. Oleh karena itu toga digantikan oleh sagum (mantel wol) yang lebih ringan dalam semua kegiatan militer. Pada masa-masa damai sekalipun toga akhirnya tergeser oleh laena, lacerna, paenula, dan macam-macam mantel berkancing atau tertutup lainnya. Meskipun demikian, toga tetap menjadi pakaian sidang kekaisaran sejak sekitar tahun 44 SM.[3]

Proses yang telah menggeser toga dari kehidupan sehari-hari itu, juga telah mengangkat derajat toga menjadi pakaian seremonial, sebagaimana yang sering terjadi dalam dunia busana. Toga dapat pula dikenakan untuk menunjukkan jenjang-jenjang kekuasaan. Seawal abad ke-2 SM, dan mungkin sekali bahkan sebelumnya, toga (beserta calceus) dipandang sebagai lambang Kewarganegaraan Romawi. Toga terlarang bagi orang asing,[4] dan bahkan bagi orang-orang Romawi yang diasingkan.[5] Toga dikenakan oleh para magistratus dalam setiap kesempatan sebagai lambang jabatan mereka. Seorang magistratus yang tampil mengenakan mantel Yunani (pallium) dan kasut akan terlihat sangat tidak sopan di mata semua orang, jika tidak dianggap melakukan tindakan kriminal.[6] Augustus, misalnya, saking murkanya menyaksikan sebuah pertemuan warga tanpa toga, sambil mengutip kata-kata angkuh Virgilus, "Romanos, rerum dominos, gentemque togatam" ("Orang-orang Romawi, para penguasa dunia, ras pemakai toga"), dia bertitah kepada para aedile agar kelak tak seorang pun boleh tampil di Forum atau Sirkus tanpa mengenakan toga.
Karena tidak dikenakan oleh para serdadu, maka toga dipandang sebagai simbol perdamaian. Warga sipil kadang-kadang disebut togatus, "pemakai toga", bertolak belakang dengan para serdadu pemakai-sagum. De Officiis karya Cicero berisi frasa cedant arma togae: secara harfiah berarti, "biarlah lengan takluk pada toga", maksudnya "biarlah perdamaian menggantikan perang", atau "biarlah kekuatan militer takluk pada kekuasaan sipil."

Ada bermacam-macam toga, penggunaannya pun berbeda-beda.

Di beberapa negara, tradisi pesta toga (bahasa Inggris: toga party) telah populer dalam beberapa dekade terakhir, umumnya di kolose-kolose dan universitas-universitas, yang digambarkan dengan sangat bagus dalam (jika tidak terinspirasi oleh) film Animal House.
Kebiasaan ini practice trades on the exaggerated legend of Roman debauchery, dan para undangan yang mengenakan "toga", yang biasanya dibuat dari seprai. "Toga-toga" semacam ini hanya sedikit kemiripannya dengan toga Romawi kuno karena lebih sederhana dan pendek.

Di Indonesia, jubah yang dikenakan para imam Katolik (bahasa Inggris: Cassock, bahasa Prancis: Soutane, bahasa Italia: Abito talare) jubah para pendeta Protestan (bahasa Inggris: Geneva gown), jubah akademik atau jubah wisuda (bahasa Inggris: Academic dress), serta jubah yang dikenakan dalam persidangan (bahasa Inggris: Court dress), disebut juga Toga, meskipun berbeda-beda pola dan bahannya.