Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Betu flores

Betu Flores atau Tikus raksasa flores adalah hewan pengerat dari famili Muridae yang hidup di pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Hewan ini telah tercatat dalam populasi kawasan Hutan Lindung Ruteng. Spesies ini ditemukan di hutan primer, sekunder dan hutan terganggu pada berbagai ketinggian. Hewan ini memiliki ukuran kepala dan tubuh sepanjang 41–45 cm dan ekor sepanjang 33–70 cm. Ukuran-ukuran ini kurang lebih dua kali lebih besar dari tikus got biasa. Hal ini menunjukkan bahwa hewan ini memiliki massa tubuh delapan kali lebih besar dari tikus biasa.

Wikipedia article
Diperbarui 18 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Betu flores
Betu flores
Status konservasi

Hampir Terancam  (IUCN 3.1)[1]
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Animalia
Filum:
Chordata
Kelas:
Mammalia
Ordo:
Rodentia
Famili:
Muridae
Genus:
Papagomys
Spesies:
P. armandvillei
Nama binomial
Papagomys armandvillei
(Jentink, 1892)
Artikel takson sembarang

Betu Flores[2] atau Tikus raksasa flores (Papagomys armandvillei) adalah hewan pengerat dari famili Muridae yang hidup di pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.[3] Hewan ini telah tercatat dalam populasi kawasan Hutan Lindung Ruteng. Spesies ini ditemukan di hutan primer, sekunder dan hutan terganggu pada berbagai ketinggian.[1] Hewan ini memiliki ukuran kepala dan tubuh sepanjang 41–45 cm (16-17,5 inci) dan ekor sepanjang 33–70 cm (13–27,5 inci). Ukuran-ukuran ini kurang lebih dua kali lebih besar dari tikus got biasa (Rattus norvegicus). Hal ini menunjukkan bahwa hewan ini memiliki massa tubuh delapan kali lebih besar dari tikus biasa.[1]

Papagomys armandvillei adalah satu-satunya spesies yang masih ada dalam genus Papagomys. Nama spesies armandvillei diberikan untuk menghormati misionaris Yesuit Belanda yang bernama Cornelis J. F. le Cocq d'Armandville yang ditempatkan di Hindia Belanda, bermula di Jawa, NTT, dan berakhir di Papua.[4]

Guy Musser, seorang ahli zoologi asal Amerika Serikat, menggambarkan tikus raksasa flores memiliki telinga kecil, bulat, tubuh gempal, dan ekor kecil, dan seolah-olah beradaptasi untuk hidup di dalam tanah yang membutuhkan perlindungan di dalam lubang-lubang. Hewan ini memiliki rambut berwarna hitam pekat. Analisis gigi menunjukkan pola makanan berupa dedaunan, kuncup, buah, dan beberapa jenis serangga tertentu sesuai dengan kesimpulan yang diambil berdasarkan gigi geraham berukuran besar.[5]

P. armandvillei terdaftar sebagai spesies yang mendekati terancam punah dalam Daftar Merah IUCN. Ancaman ini terjadi akibat tindakan perburuan subsisten dan pemangsaan oleh karnivora seperti anjing dan kucing.[1] Spesies terkait, P. theodorverhoeveni, diketahui dari sisa-sisa subfosil yang berusia 3.000 - 4.000 tahun yang lalu. Spesies ini dianggap telah punah pada tahun 1996. Namun, para ahli meyakini bahwa spesies ini mati sebelum 1500 Masehi. Nama ilmiahnya merujuk pada Theodor Verhoeven, seorang pendeta dan paleontolog Belanda yang menemukannya pada tahun 1956.[6] Ekskavasi dilakukan di Liang Toge, sebuah gua di dekat desa lama Ola Bula, Nagekeo, Flores.[6] Spesies ini hanya diketahui dari beberapa fragmen subfosil. Saat ini fosil tersimpan di NCB Naturalis, dahulu Rijksmuseum van Natuurlijke Historie, di Belanda.[6]

Lihat pula

  • Gigantisme pulau

Referensi

  1. 1 2 3 4 Aplin, K.; Helgen, K.; Musser, G.; Lunde, D.; Amori, G.; Ruedas, L. (2008). "Papagomys armandvillei". IUCN Red List of Threatened Species. 2008. IUCN: e.T15975A5335512. doi:10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T15975A5335512.en. Diakses tanggal 10 September 2017.}
  2. ↑ Checklist of the mammals of Indonesia : Scientific, English, Indonesian name and distribution area table in Indonesia including CITES, IUCN, and Indonesian category for conservation, third edition (PDF) (dalam bahasa Inggris). Bogor: LIPI. 2019. Diakses tanggal 2026-02-18.
  3. ↑ Musser, G. G.; Carleton, M. D. (2005). "Superfamily Muroidea". Dalam Wilson, D. E.; Reeder, D. M (ed.). Mammal Species of the World (Edisi 3rd). Johns Hopkins University Press. hlm. 1430. ISBN 978-0-8018-8221-0. OCLC 62265494.
  4. ↑ Beolens, Bo; Watkins, Michael; Grayson, Michael (2009). "Armandville". The Eponym Dictionary of Mammals. Baltimore, MD: The Johns Hopkins University Press. hlm. 18. ISBN 978-0-8018-9304-9.
  5. ↑ Musser, G. G. (1981-09-24). "The giant rat of Flores and its relatives east of Borneo and Bali". Bulletin of the American Museum of Natural History. 169: 67–176. hdl:2246/568.
  6. 1 2 3 van der Geer, Alexandra; Lyras, George; de Vos, John; Dermitzakis, Michael (2011). Evolution of Island Mammals: Adaptation and Extinction of Placental Mammals on Islands. John Wiley & Sons. hlm. 192. ISBN 978-1-4443-9128-2, 1444391283.

Pranala luar

Wikispecies mempunyai informasi mengenai Papagomys armandvillei.
Pengidentifikasi takson
Papagomys armandvillei
  • Wikidata: Q1761067
  • Wikispecies: Papagomys armandvillei
  • CoL: 4CJ4X
  • EoL: 1179298
  • GBIF: 2438411
  • iNaturalist: 45127
  • IRMNG: 10764926
  • ITIS: 585450
  • IUCN: 15975
  • MDD: 1003605
  • MSW: 13001634
  • NCBI: 2716773
  • Observation.org: 86328
  • Open Tree of Life: 3610767
  • Paleobiology Database: 231418
  • Xeno-canto: Papagomys-armandvillei
Mus armandvillei
  • Wikidata: Q109646680
  • GBIF: 9551191

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Lihat pula
  2. Referensi
  3. Pranala luar

Artikel Terkait

Betu

genus mamalia

Daftar mamalia di Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Tikus pohon raksasa verhoeven

Verhoeven atau betu kecil (Papagomys theodorverhoeveni) adalah tikus betu yang sudah punah dari upafamili Murinae yang pernah hidup di Flores, Indonesia.

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026