Thomas Cranmer adalah seorang teolog, pemimpin dari Reformasi Inggris, dan Uskup Agung Canterbury selama masa pemerintahan Henry VIII, Edward VI dan, untuk waktu yang singkat, Mary I. Ia dihormati sebagai seorang martir dalam Gereja Inggris.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Thomas Cranmer | |
|---|---|
| Uskup Agung Canterbury | |
Lukisan oleh Gerlach Flicke, 1545[1] | |
| Gereja | Gereja Inggris |
| Keuskupan | Canterbury |
Awal masa jabatan | 3 Desember 1533[2] |
Masa jabatan berakhir | 4 Desember 1555 |
| Pendahulu | William Warham |
| Penerus | Reginald Pole |
| Imamat | |
Tahbisan uskup | 30 Maret 1533 oleh John Longland |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 2 Juli 1489 Aslockton, Nottinghamshire, Inggris |
| Meninggal | 21 Maret 1556 (umur 66) Oxford, Inggris |
| Denominasi | Protestantisme (Anglikanisme) |
| Almamater | Kolese Yesus, Cambridge |
| Tanda tangan | |
| Orang kudus | |
| Hari peringatan | 21 Maret |
| Venerasi | Persekutuan Anglikan |
Thomas Cranmer (2 Juli 1489 – 21 Maret 1556) adalah seorang teolog, pemimpin dari Reformasi Inggris, dan Uskup Agung Canterbury selama masa pemerintahan Henry VIII, Edward VI dan, untuk waktu yang singkat, Mary I. Ia dihormati sebagai seorang martir dalam Gereja Inggris.
Cranmer membantu membangun dasar hukum bagi anulasi pernikahan Henry dengan Catherine dari Aragon, yang menjadi salah satu penyebab perpisahan Gereja Inggris dari persatuannya dengan Tahta Suci. Bersama Thomas Cromwell, ia mendukung prinsip supremasi raja, di mana raja dianggap berdaulat atas Gereja dalam wilayah kekuasaannya dan menjadi pelindung bagi rakyatnya dari penyalahgunaan kekuasaan oleh Roma. Selama masa jabatan Cranmer sebagai Uskup Agung Canterbury, ia menetapkan struktur doktrinal dan liturgikal pertama dari Gereja Inggris yang telah direformasi. Di bawah pemerintahan Henry, Cranmer tidak melakukan banyak perubahan radikal di dalam Gereja karena adanya perebutan kekuasaan antara kaum konservatif dan para reformator. Ia menerbitkan kebaktian vernakular (bahasa Inggris) pertama yang disahkan secara resmi, Anjuran dan Litani.
Ketika Edward, yang saleh dan dibesarkan dalam ajaran Gereja yang telah direformasi, naik takhta, Cranmer mampu melakukan perubahan-perubahan dengan lebih cepat. Ia menulis dan menyusun dua edisi pertama dari Kitab Doa Bersama, sebuah liturgi lengkap untuk Gereja Inggris menggunakan bahasa rakyat. Dengan bantuan beberapa reformator Eropa daratan yang mendapat perlindungan darinya, Cranmer mengubah doktrin atau tata cara di bidang-bidang seperti perjamuan kudus, selibasi klerus, peran gambar dalam tempat ibadah, dan venerasi orang kudus. Cranmer mempromulgasikan doktrin-doktrin baru melalui Kitab Doa Bersama, Homili dan publikasi-publikasi lainnya.
Setelah Mary I yang beragama Katolik naik takhta, Cranmer diadili atas tuduhan pengkhianatan dan ajaran sesat. Ia dipenjara selama lebih dari dua tahun, dan di bawah tekanan dari pihak berwenang negara maupun Gereja, ia beberapa kali mencabut keyakinan Protestannya dan berdamai dengan Gereja Katolik. Meskipun tindakan ini biasanya akan membebaskannya dari tuduhan ajaran sesat, Mary tetap menghendaki bahwa ia dieksekusi atas tuduhan pengkhianatan, dan ia dibakar di tiang pancang pada tanggal 21 Maret 1556. Pada hari eksekusinya, ia secara terbuka menarik kembali pencabutannya, sehingga ia mati sebagai seorang bidat di mata orang-orang Katolik dan seorang martir bagi prinsip-prinsip Reformasi Inggris. Kematian Cranmer diabadikan dalam Kitab Para Martir karya John Foxe dan warisannya tetap hidup dalam Gereja Inggris melalui Kitab Doa Bersama dan Tiga Puluh Sembilan Pasal, sebuah pernyataan iman Anglikan yang berasal dari karya-karyanya.

Cranmer lahir pada tahun 1489 di Aslockton, Nottinghamshire, Inggris.[4] Ia adalah putra kedua dari Thomas Cranmer dan istrinya, Agnes Hatfield. Thomas Cranmer memiliki kekayaan yang cukup tetapi berasal dari keluarga bangsawan bergelar yang sudah mapan, yang mengambil nama mereka dari manor milik Cranmer di Lincolnshire.[5] Sebuah batu nisan salah satu kerabatnya di Gereja St John dari Beverley, Whatton, dekat Aslockton bertuliskan sebagai berikut: Hic jacet Thomas Cranmer, Armiger, qui obiit vicesimo septimo die mensis Maii, anno d(omi)ni. MD centesimo primo, cui(us) a(n)i(ma)e p(ro)p(i)cietur Deus Amen ("Di sini disemayamkan Thomas Cranmer, Esquire, yang meninggal pada hari ke-27 bulan Mei pada tahun Tuhan kita 1501, yang atas jiwanya kiranya Allah berbelas kasihan"). Lambang keluarga Cranmer dan Aslockton ditampilkan. Sosok yang digambarkan adalah sebuah pria dengan rambut panjang yang mengenakan jubah dan membawa kantong di sisi kanannya.[6] Anak sulung mereka, John Cranmer, mewarisi tanah keluarga, sedangkan Thomas dan adiknya, Edmund, diarahkan untuk memiliki karier gerejawi.[7]
Para sejarawan tidak mengetahui secara pasti pendidikan awal Cranmer. Ia kemungkinan besar bersekolah di sebuah sekolah tata bahasa di desanya. Saat berusia 14 tahun, dua tahun setelah kematian ayahnya, ia dikirim ke Kolese Yesus, Cambridge yang baru saja didirikan.[8] Ia membutuhkan delapan tahun untuk mendapatkan gelar Sarjana Humaniora, dengan kurikulum logika, literatur klasik, dan filsafat. Selama masa ini, ia mulai mengumpulkan buku-buku skolastik abad pertengahan, yang ia simpan dengan cermat seumur hidupnya.[9] Untuk gelar magisternya, ia mempelajari para humanis, Jacques Lefèvre d'Étaples dan Erasmus. Ia menyelesaikan program tersebut dalam tiga tahun.[10] Tidak lama setelah menerima gelar Magister Humaniora-nya pada tahun 1515, ia dipilih menjadi rekan di Kolese Yesus.[11]
Beberapa waktu setelah Cranmer meraih gelar magisternya, ia menikahi seorang wanita bernama Joan. Meskipun ia belum menjadi seorang imam, ia diharuskan untuk melepas jabatannya sebagai rekan, sehingga kehilangan tempat tinggalnya di Kolese Yesus. Untuk menghidupi dirinya dan istrinya, ia bekerja sebagai pembaca (jabatan setara lektor kepala) di Aula Buckingham (kemudian direformasi menjadi Kolese Magdalene).[12] Ketika Joan meninggal saat melahirkan anak pertamanya, Kolese Yesus menunjukkan rasa hormatnya kepada Cranmer dengan mengembalikan jabatannya sebagai rekan. Ia mulai mempelajari teologi, dan pada tahun 1520, ia telah ditahbiskan, dan universitas tersebut telah menunjuknya sebagai salah satu pengkhotbah mereka. Ia mendapatkan gelar Doktor Divinitas-nya pada tahun 1526.[13]
Tidak banyak yang diketahui mengenai pemikiran dan pengalaman Cranmer selama tiga dekade ia berada di Cambridge. Secara tradisional, ia digambarkan sebagai seorang humanis yang antusiasmenya untuk kesarjanaan biblika mempersiapkannya untuk menerima gagasan-gagasan Lutheran, yang menyebar selama tahun 1520-an. Sebuah kajian terhadap marjinalianya menunjukkan bahwa ia pada awalnya memiliki antipati terhadap Martin Luther dan kekaguman terhadap Erasmus.[14] Ketika Kardinal Wolsey, Tuan Kanselir Raja, memilih beberapa sarjana Cambridge, termasuk Edward Lee, Stephen Gardiner dan Richard Sampson, untuk mengemban tugas diplomatik di berbagai penjuru Eropa, Cranmer dipilih untuk mengikuti misi diplomatik kepada Karl V, Kaisar Romawi Suci. Dugaan keterlibatannya dalam misi diplomatik sebelumnya, yang disebutkan dalam literatur lebih lama, terbukti tidak benar.[15]

Pernikahan pertama Henry VIII terjadi akibat kematian kakak laki-lakinya, Arthur, pada tahun 1502. Ayah mereka, Henry VII, mempertunangkan janda Arthur, Catherine dari Aragon, dengan Henry yang kelak menjadi raja. Pernikahan tersebut segera menimbulkan pertanyaan mengenai larangan Alkitab (dalam Imamat 18 dan 20) terhadap menikahi istri saudara laki-laki. Pasangan tersebut menikah pada tahun 1509, dan setelah mengalami serangkaian keguguran, seorang putri, Mary, lahir pada tahun 1516. Hingga tahun 1520-an, Henry masih belum mempunyai putra untuk dijadikan ahli waris. Ia menganggap hal ini sebagai tanda yang pasti dari murka Allah dan mulai mengajukan permohonan kepada Vatikan mengenai anulasi.[16] Ia memberikan Kardinal Wolsey tugas untuk menangani kasusnya. Wolsey memulai dengan berkonsultasi dengan para ahli di universitas. Sejak tahun 1527, Cranmer membantu dalam proses anulasi selain menjalankan tugasnya sebagai dosen di Cambridge.[17]
Pada pertengahan tahun 1529, Cranmer singgah di tempat kerabatnya di Salib Suci Waltham untuk menghindari wabah pes yang terjadi di Cambridge. Dua rekannya dari Cambridge, Stephen Gardiner dan Edward Foxe, turut menemaninya. Ketiganya mendiskusikan masalah anulasi, dan Cranmer mengusulkan untuk mengesampingkan proses hukum di Roma dan beralih pada pengumpulan pendapat para teolog universitas di berbagai penjuru Eropa. Henry sangat tertarik dengan ide tersebut ketika Gardiner dan Foxe menyampaikan rencana ini kepadanya. Tidak diketahui apakah sang Raja atau Tuan Kanselirnya yang baru, Thomas More, secara tersurat menyetujui rencana tersebut. Pada akhirnya, rencana itu dilaksanakan, dan Cranmer diminta untuk bergabung dengan tim kerajaan di Roma untuk mengumpulkan pendapat-pendapat universitas.[18] Edward Foxe mengepalai upaya riset tersebut dan tim kerajaan menghasilkan Collectanea satis copiosa ("Koleksi yang Cukup Melimpah") dan Keputusan-Keputusan, dukungan historis dan teologis bagi argumen bahwa Raja memiliki kewenangan tertinggi di wilayah kekuasaannya.[19]

Kontak pertama Cranmer dengan seorang reformator Eropa daratan adalah dengan Simon Grynaeus, seorang humanis yang tinggal di Basel, Swiss, dan seorang pengikut dari para reformator Swiss, Ulrich Zwingli dan Johannes Oecolampadius. Pada pertengahan tahun 1531, Grynaeus melakukan kunjungan yang cukup lama ke Inggris untuk menawarkan dirinya sebagai penghubung antara Raja Inggris dan para reformator Eropa daratan. Ia menjalin persahabatan dengan Cranmer dan sekembalinya ke Basel, ia menulis tentang Cranmer kepada reformator Jerman Martin Bucer di Strasbourg. Kontak awal Grynaeus menjadi titik awal dari hubungan Cranmer yang akan terjadi dengan para reformator Strasbourg dan Swiss.[20]
Pada bulan Januari 1532, Cranmer ditunjuk sebagai duta tetap di istana Kaisar Romawi Suci, Karl V. Saat sang Kaisar melakukan perjalanan ke seluruh wilayah kekuasaannya, Cranmer harus mengikutinya ke kediamannya di Regensburg.[21] Ia melewati kota Nürnberg yang beragama Lutheran dan untuk pertama kalinya menyaksikan dampak dari Reformasi. Ketika Dewan Kekaisaran dipindahkan ke Nürnberg, ia bertemu dengan perancang utama dari reformasi di Nürnberg, Andreas Osiander. Mereka menjadi sahabat baik, dan pada bulan Juli tersebut Cranmer mengambil langkah yang mengejutkan dengan menikahi Margarete, kemenakan dari istri Osiander. Ia tidak mengambil Margarete sebagai gundiknya, sebagaimana kebiasaan yang dilakukan para imam yang merasa selibasi terlalu keras. Para sarjana memperhatikan bahwa Cranmer telah bergerak, meskipun pada tahap ini masih moderat, menjadi lebih selaras dengan prinsip-prinsip Lutheran tertentu.[22] Perkembangan dalam kehidupan pribadinya ini tidak tercerminkan dalam kehidupan politiknya karena ia tidak mampu meyakinkan Karl, kemenakan Catherine, untuk mendukung anulasi dari pernikahan bibinya.[23]
Ketika Cranmer sedang mengikuti Karl melewati Italia, ia menerima surat kerajaan tertanggal 1 Oktober 1532 yang memberi tahunya bahwa ia telah ditunjuk menjadi Uskup Agung Canterbury yang baru, menyusul kematian Uskup Agung William Warham. Cranmer diperintahkan untuk kembali ke Inggris. Penunjukan tersebut telah diupayakan oleh keluarga Anne Boleyn, yang pada saat itu sedang dipersunting oleh Henry. Ketika berita mengenai pengangkatan Cranmer tersebar di London, hal itu mengejutkan banyak orang karena Cranmer sebelumnya hanya menempati jabatan-jabatan minor di Gereja.[24] Anne Boleyn dan keluarganya telah mendukung Cranmer yang menjadi Uskup Agung Canterbury.[25] Cranmer meninggalkan Mantua pada tanggal 19 November dan tiba di Inggris pada awal bulan Januari.[26] Henry secara pribadi membiayai bulla-bulla kepausan yang diperlukan untuk pengangkatan Cranmer sebagai uskup agung. Bulla-bulla tersebut diperoleh dengan mudah karena nunsius kepausan diberi perintah dari Roma untuk menyenangkan pihak Inggris demi mencegah keretakan terakhir. Bulla-bulla tersebut tiba sekitar tanggal 26 Maret 1533 dan Cranmer ditahbiskan sebagai uskup pada tanggal 30 Maret di Kapel St Stephen, oleh John Longland, Uskup Lincoln; John Vesey, Uskup Exeter; dan Henry Standish, Uskup St Asaph.[27] Bahkan ketika mereka sedang menantikan bulla-bulla dikeluarkan, Cranmer terus mengerjakan proses anulasi, yang menjadi jauh lebih mendesak setelah Anne mengumumkan kehamilannya. Henry dan Anne menikah secara diam-diam pada tanggal 24 atau 25 Januari 1533 di hadapan beberapa saksi.[28] Cranmer tidak mengetahui pernikahan tersebut hingga 14 hari setelahnya.[29]

Selama beberapa bulan kemudian, Cranmer dan sang Raja mengerjakan penetapan prosedur hukum tentang bagaimana pernikahan raja akan diputuskan oleh klerus paling seniornya. Beberapa draf dari prosedur tersebut telah disimpan dalam bentuk surat-surat yang ditulis antara keduanya. Setelah prosedur tersebut disetujui, Cranmer membuka sesi pengadilan pada tanggal 10 Mei, mengundang Henry dan Catherine dari Aragon untuk tampil. Gardiner mewakili sang Raja; Catherine tidak tampil maupun mengirimkan wakil. Pada tanggal 23 Mei, Cranmer menyatakan putusan bahwa pernikahan Henry dengan Catherine melawan hukum Allah. Ia bahkan mengeluarkan ancaman ekskomunikasi jika Henry tidak menjauhi Catherine.[30] Henry sekarang bebas untuk menikah dan, pada tanggal 28 Mei, Cranmer mengesahkan pernikahan Henry dan Anne. Pada tanggal 1 Juni, Cranmer sendiri memahkotai dan menobatkan Anne sebagai ratu dan memberikannya tongkat kerajaan.[31] Paus Klemens VII sangat marah atas pembangkangan ini, tetapi ia tidak dapat mengambil tindakan yang tegas karena ia mendapat tekanan dari raja-raja lainnya untuk menghindari keretakan yang tidak dapat diperbaiki dengan Inggris. Pada tanggal 9 Juli ia secara sementara mengekskomunikasi Henry dan para penasihatnya (termasuk Cranmer) kecuali jika ia melepaskan Anne sebelum akhir September. Henry menyimpan Anne sebagai istrinya dan, pada tanggal 7 September, Anne melahirkan Elizabeth. Cranmer langsung membaptisnya dan menjadi salah satu wali baptisnya.[32]
Sulit untuk menilai bagaimana pandangan-pandangan teologis Cranmer telah berkembang sejak masa-masa ia berada di Cambridge. Ada bukti bahwa ia terus mendukung humanisme; ia memperbarui tunjangan Erasmus yang sebelumnya telah diberikan oleh Uskup Agung Warham.[33] Pada bulan Juni 1533, ia dihadapkan dengan tugas yang sulit untuk bukan hanya mendisiplin seorang reformator, tetapi juga menyaksikannya dibakar di tiang pancang. John Frith dihukum mati karena pandangan-pandangannya mengenai ekaristi: ia menyangkali kehadiran nyata. Cranmer sendiri berusaha untuk membujuknya untuk mengganti pandangan-pandangannya, tetapi ia tidak berhasil.[34] Meskipun ia menolak radikalisme Frith, pada tahun 1534 ia dengan jelas menunjukkan bahwa ia telah memutuskan hubungan dengan Roma dan menetapkan arah teologis yang baru. Ia mendukung perjuangan reformasi dengan secara bertahap mengganti kelompok lama dalam provinsi gerejawinya dengan orang-orang seperti Hugh Latimer yang mengikuti pemikiran baru.[35] Ia turut campur tangan dalam perselisihan keagamaan, mendukung para reformator, sehingga mengecewakan kaum konservatif agama yang berharap untuk mempertahankan hubungan dengan Roma.[36]

Cranmer tidak secara langsung diterima oleh para uskup di provinsinya. Ketika ia berusaha melakukan kunjungan kanonik, ia harus menghindari daerah-daerah di mana uskup konservatif setempat dapat mengajukan tantangan pribadi yang memalukan terhadap otoritasnya. Pada tahun 1535, Cranmer memiliki pertemuan yang sulit dengan beberapa uskup, di antaranya adalah dengan John Stokesley, John Longland, dan Stephen Gardiner. Mereka menentang kekuasaan dan gelar Cranmer dan mengemukakan bahwa Undang-Undang Supremasi tidak mendefinisikan perannya. Hal ini menyebabkan Thomas Cromwell, menteri utama Raja, untuk mengaktifkan dan mengambil jabatan sebagai wakil raja,[37] wakil kepala tertinggi dalam urusan gerejawi. Ia mendirikan beberapa rangkaian lembaga lainnya yang memberikan struktur yang jelas terhadap supremasi raja. Maka, peran uskup agung tertutupi oleh Wakil Raja Cromwell dalam hal kewenangan rohani Raja.[38] Tidak ada bukti bahwa Cranmer membenci jabatannya sebagai rekan yang lebih rendah.[39] Meskipun ia adalah seorang sarjana yang luar biasa, ia tidak memiliki kemampuan politik untuk menghadapi lawan-lawan gerejawi. Tugas-tugas tersebut diserahkan kepada Cromwell.[40]
Pada tanggal 29 Januari 1536, ketika Anne keguguran seorang putra, sang Raja mulai merenungkan lagi larangan-larangan Alkitab yang menghantuinya semasa pernikahannya dengan Catherine dari Aragon.[41] Tidak lama setelah keguguran tersebut, sang Raja mulai tertarik pada Jane Seymour. Pada tanggal 24 April, ia telah menugaskan Cromwell untuk mempersiapkan dasar hukum untuk perceraian.[42] Cranmer yang tidak mengetahui rencana-rencana ini terus menulis surat kepada Cromwell mengenai perkara-perkara kecil hingga tanggal 22 April. Anne dikirim ke Menara London pada tanggal 2 Mei, dan Cranmer dipanggil dengan segera oleh Cromwell. Pada hari berikutnya, Cranmer menulis surat kepada Raja untuk menyatakan keraguannya terhadap kebersalahan Ratu, menunjukkan rasa hormat pribadinya terhadap Anne. Setelah surat itu dikirimkan, Cranmer pasrah terhadap kenyataan bahwa akhir dari pernikahan Anne tidak terhindarkan.[43] Pada tanggal 16 Mei, ia menemui Anne di Menara London dan mendengarkan pengakuannya dan pada hari berikutnya, ia menyatakan pernikahan tersebut tidak sah dan batal. Dua hari kemudian, Anne dihukum mati. Cranmer merupakan salah satu dari beberapa orang yang secara terbuka meratapi kematiannya.[44]
Perwakilan raja membuat laju reformasi di bawah kendali sang Raja. Sebuah keseimbangan dibentuk antara kaum konservatif dan para reformator dan hal ini dapat dilihat dalam Sepuluh Pasal, upaya pertama dalam merumuskan kepercayaan Gereja Henrician. Pasal-pasal tersebut memiliki struktur dua bagian. Lima pasal pertama menunjukkan pengaruh dari para reformator dengan mengakui hanya tiga dari tujuh sakramen yang sebelumnya diakui: baptisan, perjamuan kudus, dan tobat. Lima pasal terakhir membahas mengenai peran dari gambar-gambar, orang kudus, ritual dan upacara, dan api penyucian, dan pasal-pasal ini mencerminkan pandangan dari kaum tradisionalis. Dua draf awal dokumen tersebut masih bertahan hingga saat ini dan memperlihatkan kontribusi dari kelompok teolog yang berbeda. Persaingan antara kubu konservatif dan kubu reformator tampak jelas dalam berbagai koreksi editorial yang saling bertentangan antara Thomas Cranmer dan Cuthbert Tunstall, Uskup Durham. Hasil akhirnya memuat poin-poin yang memuaskan dan mengecewakan kedua belah pihak.[45] Pada tanggal 11 Juli, Cranmer, Cromwell, serta Konvokasi, sidang raya kaum klerus, telah menandatangani Sepuluh Pasal.[46]
In late 1536, the north of England was convulsed in a series of uprisings collectively known as the Pilgrimage of Grace, the most serious opposition to Henry's policies. Cromwell and Cranmer were the primary targets of the protesters' fury. Cromwell and the King worked furiously to quell the rebellion, while Cranmer kept a low profile.[47] After it was clear that Henry's regime was safe, the government took the initiative to remedy the evident inadequacy of the Ten Articles. The outcome after months of debate was The Institution of a Christian Man informally known from the first issue as the Bishops' Book. The book was initially proposed in February 1537 in the first vicegerential synod, ordered by Cromwell, for the whole Church. Cromwell opened the proceedings, but as the synod progressed, Cranmer and Foxe took on the chairmanship and the co-ordination. Foxe did most of the final editing and the book was published in late September.[48]
Even after publication, the book's status remained vague because the King had not given his full support to it. In a draft letter, Henry noted that he had not read the book, but supported its printing. His attention was most likely occupied by the pregnancy of Jane Seymour and the birth of the male heir, Edward, that Henry had sought for so long. Jane died shortly after giving birth and her funeral was held on 12 November. That month Henry started to work on the Bishops' Book; his amendments were sent to Cranmer, Sampson, and others for comment. Cranmer's responses to the King were far more confrontational than his colleagues' and he wrote at much greater length.[49] They reveal unambiguous statements supporting reformed theology such as justification by faith or sola fide (faith alone) and predestination. His words did not convince the King. A new statement of faith was delayed until 1543 with the publication of the King's Book.[50]
In 1538, the King and Cromwell arranged with Lutheran princes to have detailed discussions on forming a political and religious alliance. Henry had been seeking a new embassy from the Schmalkaldic League since mid-1537. The Lutherans were delighted by this and they sent a joint delegation from various German cities, including a colleague of Martin Luther's, Friedrich Myconius. The delegates arrived in England on 27 May 1538. After initial meetings with the King, Cromwell, and Cranmer, discussions on theological differences were transferred to Lambeth Palace under Cranmer's chairmanship. Progress on an agreement was slow partly owing to Cromwell being too busy to help expedite the proceedings and partly because the negotiating team on the English side was evenly balanced between conservatives and reformers. The talks dragged on with the Germans becoming weary despite the Archbishop's strenuous efforts. The negotiations were fatally neutralised by an appointee of the King. Cranmer's colleague, Edward Foxe, who sat on Henry's Privy Council, had died earlier in the year. The King chose as his replacement Cranmer's conservative rival, Cuthbert Tunstall, who was told to stay near Henry to give advice. On 5 August, when the German delegates sent a letter to the King regarding three items that particularly worried them (compulsory clerical celibacy, the withholding of the chalice from the laity, and the maintenance of private masses for the dead), Tunstall was able to intervene for the King and to influence the decision. The result was a thorough dismissal by the King of many of the Germans' chief concerns. Although Cranmer begged the Germans to continue with the negotiations, using the argument "to consider the many thousands of souls in England" at stake, they left on 1 October without any substantial achievements.[51]