Terites adalah makanan khas suku Karo yang berasal dari Sumatera Utara, Indonesia. Kuliner ini sering diberi label sebagai makanan ekstrem karena bahan dasarnya yang tidak biasa, yaitu tumbuh-tumbuhan yang ada di usus besar atau lambung (rumen) sapi atau kerbau. Meski terkesan tidak lazim bagi sebagian orang, Terites adalah bagian tak terpisahkan dari identitas kuliner suku Karo dan simbol kekuatan budaya serta warisan nenek moyang mereka yang masih hidup dan berkembang hingga saat ini. Nama lain dari Terites adalah pagit-pagit, yang dalam bahasa lokal Karo berarti "agak pahit".
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Terites (sering juga disebut Pagit-Pagit) adalah makanan khas suku Karo yang berasal dari Sumatera Utara, Indonesia. Kuliner ini sering diberi label sebagai makanan ekstrem karena bahan dasarnya yang tidak biasa, yaitu tumbuh-tumbuhan yang ada di usus besar atau lambung (rumen) sapi atau kerbau.[1] Meski terkesan tidak lazim bagi sebagian orang, Terites adalah bagian tak terpisahkan dari identitas kuliner suku Karo dan simbol kekuatan budaya serta warisan nenek moyang mereka yang masih hidup dan berkembang hingga saat ini. Nama lain dari Terites adalah pagit-pagit, yang dalam bahasa lokal Karo berarti "agak pahit".[2]
Bahan dasar utama Terites adalah air perasan dari tumbuh-tumbuhan yang ada di lambung (rumen) sapi atau kerbau. Tumbuh-tumbuhan ini masih segar dan layak dikonsumsi karena sapi atau kerbau tidak langsung mencerna sepenuhnya. Dokter hewan Mangku Sitepu, seorang tokoh Karo, menjelaskan bahwa Terites berasal dari isi rumen, yang merupakan bagian dari perut hewan pemamah biak yang mengandung bahan makanan yang telah dicerna oleh bakteri menjadi protein dan berbagai jenis vitamin, khususnya vitamin B12. Ia membantah dugaan bahwa masakan ini berasal dari kotoran sapi, menegaskan bahwa dugaan tersebut tidak pernah terbukti kebenarannya. Sebagai makanan berkuah, Terites sering disebut "Soto Karo", meskipun berbeda dari soto pada umumnya karena kaldunya berasal dari sari rumput. Tampilannya seperti soto berkuah kuning.[3]
Terites tergolong makanan langka. Hidangan ini secara khusus disajikan pada acara-acara besar dan perayaan adat, seperti pesta panen (merdang merdem), upacara adat, hari besar keagamaan, pesta perkawinan, acara memasuki rumah baru (mengket rumah mbaru), dan acara adat lainnya.[1] Karena bahan dasarnya yang tidak mudah didapat dan proses memasaknya yang memakan waktu, Terites jarang ditemukan sebagai santapan sehari-hari. Bagi suku Karo, Terites memiliki nilai-nilai filosofis yang dalam. Penelitian oleh Harvina mencatat bahwa Terites menggambarkan rasa kebersamaan dan tolong-menolong yang tinggi dalam kehidupan etnis Karo. Secara simbolis, menikmati Terites berarti menikmati rasa persaudaraan dan gotong royong yang lebih erat dalam hajatan adat, mengingat pembuatannya membutuhkan partisipasi banyak orang.[3]
Bagi orang-orang di luar suku Karo, Terites sering kali dianggap sebagai makanan yang aneh atau bahkan menjijikkan karena penggunaan rumput dari lambung sapi sebagai bahan utama. Hendrik Cornelis Kruyt, seorang misionaris Belanda yang datang ke Tanah Karo pada tahun 1890, bahkan merasa muak saat pertama kali melihat proses pengolahannya. Terites juga acap mendapat cap "makanan kotor" karena berasal dari jeroan hewan, khususnya organ pencernaan yang dianggap mengandung banyak bibit penyakit. Namun, seperti yang dijelaskan oleh dokter hewan Mangku Sitepu, anggapan ini dapat diperdebatkan secara ilmiah karena Terites diambil dari rumen yang berisi bahan makanan yang telah dicerna secara enzimatik dan mengandung nutrisi.[3] Selain rasanya yang lezat, Terites dipercaya memiliki khasiat untuk mengobati sakit perut.[1]