Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Teori Kognitif Sosial

Teori Kognitif Sosial merupakan perkembangan dari teori belajar sosial yang dikemukakan oleh Albert Bandura. Penamaan teori kognitif sosial mulai digunakan pada tahun 1986 ketika Bandura menekankan peran proses kognitif dalam pembelajaran sosial. Pemikiran Bandura juga merupakan pengembangan dari teori Dollard dan Miller mengenai belajar melalui peniruan. Dalam publikasinya, Bandura mengelaborasi proses belajar sosial dengan memasukkan faktor-faktor kognitif dan perilaku yang memengaruhi individu dalam proses tersebut. Teori ini banyak digunakan untuk mempelajari efek dari isi media massa pada khalayak, khususnya pada tingkat individu.

Wikipedia article
Diperbarui 6 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Teori Kognitif Sosial merupakan perkembangan dari teori belajar sosial yang dikemukakan oleh Albert Bandura. Penamaan teori kognitif sosial mulai digunakan pada tahun 1986 ketika Bandura menekankan peran proses kognitif dalam pembelajaran sosial. Pemikiran Bandura juga merupakan pengembangan dari teori Dollard dan Miller mengenai belajar melalui peniruan.[1] Dalam publikasinya, Bandura mengelaborasi proses belajar sosial dengan memasukkan faktor-faktor kognitif dan perilaku yang memengaruhi individu dalam proses tersebut. Teori ini banyak digunakan untuk mempelajari efek dari isi media massa pada khalayak, khususnya pada tingkat individu.

Konsep-konsep utama

Belajar observasional

Teori kognitif sosial menekankan belajar observasional, yaitu proses belajar melalui pengamatan terhadap orang lain. Model dapat berasal dari lingkungan pribadi, seperti teman atau keluarga, atau dari lingkungan publik seperti tokoh publik di bidang berita dan hiburan. Perilaku baru sering muncul melalui proses peniruan, yakni reproduksi perilaku model secara langsung dan mekanis.[2] Contohnya, seorang anak belajar mengikat sepatu setelah melihat ibunya mempraktikannya berulang kali.

Peniruan juga terjadi melalui model di media massa. Misalnya, penonton dapat meniru cara memasak dari acara kuliner televisi. Namun, tidak semua model efektif memengaruhi khalayak. Dalam hal ini, teori kognitif sosial kembali pada konsep dasar penguatan (rewards and punishments/imbalan dan hukuman) dalam konteks belajar sosial.

Baranowski, Perry, dan Parcel menekankan bahwa proses penguatan merupakan mekanisme utama dari belajar sosial.[3] Dalam teori kognitif sosial, penguatan bekerja melalui proses efek menghalangi dan efek membiarkan.

  • Efek menghalangi, terjadi ketika seseorang melihat model menerima hukuman atas perilaku tertentu, sehingga mengurangi kecenderungan untuk meniru perilaku tersebut. Misalnya, kasus penangkapan dan vonis terhadap seorang artis karena terlibat video porno dapat menurunkan minat orang untuk meniru perilaku serupa.
  • Efek membiarkan, terjadi ketika model menerima penghargaan atau imbalan untuk perilaku tertentu. Contohnya, sekelompok pengamen jalanan yang memenangi hadiah besar dalam sebuah kontes bakat lalu mendapat tawaran iklan dan sinetron dapat mendorong orang lain meniru langkah mereka.

Efek-efek tersebut tidak bergantung pada imbalan atau hukuman yang dialami pengamat secara langsung, melainkan pada apa yang dicapai atau dialami model. Jenis penguatan ini disebut penguatan perwakilan. Penguatan perwakilan dipengaruhi oleh dua konsep, yakni pengharapan hasil dan harapan hasil.[1]

Pengharapan hasil merujuk pada keyakinan bahwa seseorang akan menerima konsekuensi yang sama dengan model jika melakukan perilaku yang sama. Baranowski menyatakan bahwa individu mengembangkan pengharapan mengenai situasi dan hasil perilakunya bahkan sebelum mengalaminya secara langsung.[3] Selanjutnya, individu menilai apakah konsekuensi yang diamati dipandang sebagai imbalan atau hukuman. Misalnya, meskipun perilaku artis dalam video porno dipandang pantas dihukum, mungkin saja orang lain dalam video yang sama menerima simpati publik atau tidak dituntut karena dianggap korban. Penilaian seperti ini akan memengaruhi proses belajar sosial.

Konsep-konsep tersebut merupakan dasar pembelajaran dalam teori kognitif sosial. Teori ini juga menekankan konsep identifikasi dengan model, yaitu kecenderungan seseorang untuk merasakan hubungan psikologis dengan model tertentu. Ketika identifikasi kuat, proses belajar sosial lebih mungkin terjadi. White menyatakan bahwa identifikasi muncul dari keinginan menjadi seperti model, termasuk meniru kualitas tertentu. Misalnya, seorang anak yang mengidolakan atlet sepak bola mungkin meniru dengan memakai kostum yang sama atau mengonsumsi makanan yang sama dengan atlet tersebut.[4]

Selain itu, teori kognitif sosial mempertimbangkan kemampuan pengamat untuk memeragakan suatu perilaku serta keyakinannya bahwa ia mampu melakukannya. Keyakinan ini disebut efikasi diri dan merupakan prasyarat penting dalam perubahan perilaku.[5] Misalnya, seseorang yang terbiasa membeli kue bika siap saji mungkin merasa bahwa membuat kue sendiri tidak perlu dan terlalu sulit. Dalam kasus ini, individu tersebut memiliki efikasi diri yang rendah sehingga kecil kemungkinan ia akan belajar membuat kue bika dari tayangan televisi.

Teori kognitif sosial dan media komunikasi

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa asumsi dari teori kognitif sosial adalah bahwa proses belajar akan terjadi jika seseorang mengamati seorang model yang menampilkan suatu perilaku dan mendapatkan imbalan atau hukuman karena perilaku tersebut. Melalui pengamatan ini, orang tersebut akan mengembangkan harapan-harapan tentang sesuatu yang akan terjadi jika ia melakukan perilaku yang sama dengan model tersebut.

Harapan-harapan ini akan memengaruhi proses belajar perilaku dan jenis perilaku berikutnya yang akan muncul. Namun, proses belajar ini akan dipandu oleh sejauh mana orang tersebut mengidentifikasi dirinya dengan model itu dan sejauh mana ia merasakan efikasi diri tentang perilaku-perilaku yang dicontohkan model tersebut.

Melalui dasar pemikiran ini, aplikasi dari teori kognitif sosial dengan penelitian di media massa perlu diperjelas. Di dalam masyarakat masa kini, banyak model yang kita pelajari adalah model yang kita lihat, dengar, atau baca di media massa. Model-model ini dapat dikatakan sebagai orang-orang yang kita amati dalam siaran berita atau program dokumenter. Mereka juga dapat berupa karakter-karakter yang kita lihat dalam program-program drama/sinetron/film layar lebar atau televisi atau juga karakter dalam buku novel dan para penyanyi atau penari yang kita dengar dan lihat melalui radio atau CD dan VCD musik. Oleh karena itu, begitu banyaknya model yang ditampilkan media akan dapat mengubah perilaku baik anak-anak maupun orang dewasa karena mereka mengamati media.

Dampak terbesar dari teori kognitif sosial adalah dalam penelitian tentang kekerasan dalam media. Gunter melakukan tinjauan atas riset tentang dampak dari kekerasan yang ditampilkan di media pada anak-anak dan orang dewasa, dan ia menyimpulkan bahwa terdapat bukti-bukti campuran yang kuat yang menghubungkan efek dari penggambaran kekerasan melalui media pada perilaku, sikap dan kognisi dari penonton.[6]

Teori kognisi sosial, yang amat menekankan efek pada perilaku, mengatakan bahwa penggambaran kekerasan itu memicu baik peningkatan maupun penurunan dalam perilaku kekerasan, tergantung pada perilaku yang mendapatkan imbalan maupun hukuman, dan juga tergantung pada sejauh mana penonton mengidentifikasi diri mereka pada model kekerasan dalam media. Tentu saja, riset awal mendukung hubungan mendasar antara menonton perilaku kekerasan dan pemodelan perilaku dalam interaksi.[1] Bagaimanapun, riset terakhir telah menambahkan kompleksitas untuk persamaan ini, dengan alasan bahwa isu-isu seperti kecenderungan perilaku agresif yang sudah ada, proses kognitif media, realitas yang digambarkan media, dan bahkan diet bisa memengaruhi sejauh mana seseorang "belajar" tentang kekerasan dari media.

Aplikasi dari teori kognitif sosial pada studi tentang kekerasan melalui televisi mempertimbangkan bagaimana media dapat memiliki konsekuensi yang tak diinginkan pada khalayak pemirsanya. Bagaimanapun, para sarjana komunikasi dan peneliti riset aksi juga mempertimbangkan aplikasi yang lebih berguna dari teori kognitif sosial ini. Makin banyak saja para sarjana komunikasi yang menggunakan konsep hiburan dan pendidikan dalam mempertimbangkan bagaimana pesan-pesan program hiburan bisa digunakan untuk menimbulkan perubahan perilaku dan sosial. Misalnya penelitian tentang bagaimana telenovela yang disiarkan di banyak negara, selain dapat menghibur juga dapat menyampaikan isu tentang keluarga berencana, persamaan hak pria dan wanita, dan reformasi pertanian. Banyak juga opera sabun Amerika yang memang dibuat dalam kerangka kognitif sosial yaitu dengan menggunakan karakter-karakter yang menarik yang mendapatkan penghargaan atau hukuman sebagai pemodelan dari perilaku secara nyata.[7]

Teori Kognitif Sosial juga digunakan dalam aplikasi komunikasi kesehatan masyarakat. Misalnya untuk kampanye tentang demam berdarah, atau flu burung digunakan artis terkenal atau tokoh yang menarik yang karena mengikuti anjuran pemerintah untuk pencegahan, bisa terhindar dari penyakit tersebut. Pemakaian artis terkenal atau tokoh yang menarik akan memicu orang untuk lebih waspada terhadap kedua penyakit tersebut.

Ringkasan

Teori Kognitif Sosial memberikan sebuah penjelasan tentang bagaimana perilaku dapat dibentuk melalui pengamatan pada model-model yang ditampilkan oleh media massa. Efek dari pemodelan ini meningkat melalui pengamatan tentang imbalan dan hukuman yang dijatuhkan pada model, identifikasi dari khalayak pada model tersebut, dan sejauh mana khalayak memiliki efikasi diri tentang perilaku yang dicontohkan di media. Meskipun berdasarkan bidang studi psikologi sosial, teori ini memiliki efek yang kuat untuk pemahaman tentang efek kekerasan melalui media baik untuk anak-anak maupun orang dewasa dan perencanaan kampanye yang ditujukan untuk mengubah perilaku masyarakat melalui media.

Referensi

  1. 1 2 3 Nebraska Symposium on Motivation (1964). Nebraska Symposium on Motivation. [Papers]. Internet Archive. - Lincoln : University of Nebraska Press.
  2. ↑ Baran, S.J & D.K. Davis. 2000. Mass Communication Theory: Foundations, Ferment, and Future. 2nd edition. Belmon, CA: Wadsworth
  3. 1 2 Baranowsky, T, C.L. Perry & G.S. Parecel. 1997. How Individuals, environments, and health behavior interact: Social Cognitive Theory. Dalam K. Glanz, F.M. Lewis, & BK Rimer, Health Behavior abd Health Education: Theory, Research, and Practice. 2nd edition. San Francisco: Jossey-Bass
  4. ↑ White, R. W. (1959). Motivation reconsidered: The concept of competence. Psychological Review, 66(5), 297–333
  5. ↑ Bandura, A. 1977. Self-Efficacy: Toward a unifying theory of behavior change. Psychological Review, 84, hal. 191-215
  6. ↑ Gunter, B. (1985). Dimensions of television violence. Gower.
  7. ↑ Miller, K. (2005). Communication Theories: Perspective, Processes, and Contexts. 2nd Edition. International Edition. Singapore: McGraw-Hill

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Konsep-konsep utama
  2. Belajar observasional
  3. Teori kognitif sosial dan media komunikasi
  4. Ringkasan
  5. Referensi

Artikel Terkait

Teori perkembangan kognitif

Teori perkembangan kognitif dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam

Psikologi sosial

suatu studi tentang hubungan antara manusia dan kelompok sosial. Para ahli dalam bidang interdisipliner ini pada umumnya adalah para ahli psikologi atau sosiologi

Disonansi kognitif

sebuah teori dalam psikologi sosial yang membahas mengenai perasaan ketidaknyamanan seseorang akibat sikap, pemikiran, dan perilaku yang saling bertentangan dan memotivasi seseorang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan tersebut.

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026