Dalam teori bilangan, teorema Lagrange adalah teorema yang menyatakan seberapa sering suatu polinomial atas bilangan bulat menghasilkan kelipatan dari suatu konstanta prima
. Lebih tepatnya, teorema ini menyatakan bahwa untuk setiap polinomial bilangan bulat
, maka berlaku salah satu dari dua kemungkinan berikut:
- setiap koefisien dari
merupakan kelipatan dari
, atau
- terdapat paling banyak
nilai
pada himpunan
sedemikian sehingga
merupakan kelipatan
,
dengan
menyatakan derajat polinomial
.
Teorema Lagrange dapat dinyatakan ulang menggunakan aritmetika modular sebagai berikut:
Jika
bukan bilangan prima, maka banyaknya penyelesaian dari kekongruenan
mungkin saja lebih dari
. Misalnya, kekongruenan polinomial
memiliki 4 penyelesaian dalam
(yaitu
,
,
, dan
).
Teorema ini dinamai berdasarkan Joseph-Louis de Lagrange.
Bukti
Diambil sembarang bilangan prima
dan misalkan
adalah polinomial dengan koefisien bilangan bulat. Didefinisikan
sebagai polinomial yang kongruen dengan
, tetapi dengan koefisien bilangan bulat modulo
. Untuk setiap bilangan bulat
, perhatikan bahwa

sehingga berdasarkan sifat dasar dari aritmetika modular, maka berlaku

Akibatnya, kedua versi dari teorema Lagrange (yaitu atas himpunan
dan atas himpunan
) setara. Akan dibuktikan versi kedua dari teorema Lagrange menggunakan induksi matematika beserta pembuktian kasus demi kasus.
- Diambil sembarang polinomial linier
, dengan
,
. Oleh karena
adalah bilangan prima, maka akan ditinjau dua kasus berikut:
- Jika
, maka kekongruenan linier
tidak memiliki penyelesaian. Akibatnya, jelas bahwa pernyataan teorema Lagrange benar.
- Jika
, maka berdasarkan identitas Bézout, kekongruenan linier
memiliki penyelesaian tunggal. Akibatnya, pernyataan teorema Lagrange juga benar.
- Asumsikan bahwa teorema Lagrange benar untuk setiap polinomial berderajat
.
- Diambil sembarang polinomial berderajat
, yaitu
dengan
untuk setiap
. Terdapat dua kasus yang perlu ditinjau:
- Jika kekongruenan
tidak memiliki penyelesaian, maka jelas bahwa pernyataan teorema Lagrange benar.
- Jika kekongruenan
memiliki setidaknya satu penyelesaian (sebut saja
, yang berarti bahwa
), maka perhatikan bahwa
Jelas bahwa
. Oleh karena
, maka
Dengan kata lain, mencari penyelesaian dari kekongruenan
sama saja dengan mencari penyelesaian dari kekongruenan
. Diketahui bahwa
merupakan bilangan prima, maka berdasarkan lema Euclid, berlaku
atau
. Berdasarkan hipotesis induktif, maka
memiliki paling banyak
penyelesaian. Akibatnya,
memiliki paling banyak
penyelesaian dalam himpunan
.