Telepuk serasah, Serasah, atau Seresah merujuk kepada jenis kain katun yang dicetak atau diwarnai dengan pola rumit dan berwarna cerah, yang berasal-usul dari Asia Selatan dan kemudian diadaptasi di Indonesia dan Jepang disebabkan kolonialisme Belanda. Serasah secara khusus merujuk pada kain cita Asia Selatan yang diimpor dan diapresiasi karena warnanya yang kaya dan desainnya yang eksotis. Serasah berkaitan erat dengan Kalamkari, tekstil katun Asia Selatan lainnya yang sering diduga sebagai bentuk murni atau asal dari Serasah itu sendiri.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Mei 2025) |
Kain dagang (serasah) untuk pasar Nusantara dari Pesisir Koromandel di tenggara Asia Selatan, abad ke-18 (koleksi Honolulu Museum of Art aksesi 10860.1) | |
| Jenis | Seni tekstil |
|---|---|
| Bahan | Kapas |
| Tempat asal | Asia Selatan |
Telepuk serasah, Serasah, atau Seresah (/s͡rasaʰ/)[a] merujuk kepada jenis kain katun yang dicetak atau diwarnai dengan pola rumit dan berwarna cerah, yang berasal-usul dari Asia Selatan dan kemudian diadaptasi di Indonesia (secara historis di beberapa bagian Jawa, Sumatra, dan Sulawesi) dan Jepang disebabkan kolonialisme Belanda.[1] Serasah secara khusus merujuk pada kain cita Asia Selatan yang diimpor dan diapresiasi karena warnanya yang kaya dan desainnya yang eksotis. Serasah berkaitan erat dengan Kalamkari, tekstil katun Asia Selatan lainnya yang sering diduga sebagai bentuk murni atau asal dari Serasah itu sendiri.[1]
Diyakini bahwa istilah serasah berakar dari kata bahasa Gujarati saras (सरस), yang berarti "indah" atau "menarik".[1]
Di Indonesia,[1] serasah merupakan salah satu mata rantai sejarah utama antara Asia Selatan dan Indonesia, yang melambangkan pertukaran seni dan dampak mendalam perdagangan Samudra Hindia terhadap budaya tekstil regional. Serasah merupakan salah satu barang ekspor Asia Selatan yang paling berharga dan tidak hanya digunakan sebagai hiasan tetapi juga memiliki nilai sosial dan simbolis, sering digunakan dalam ritual, mas kawin, dan sebagai pusaka. Secara historis, serasah di Indonesia sebagian besar diimpor dari Pesisir Koromandel (bagian dari negara India modern).
Di Jepang,[1] serasah digunakan sebagai lapisan kimono, selempang obi, kain pembungkus furoshiki, dan dekorasi interior. Selain mode, serasah bagi masyarakat Jepang melambangkan keterbukaan Jepang terhadap pengaruh global, membentuk warisan tekstilnya dengan motif eksotis dan keahlian inovatif yang terus menginspirasi desainer modern.