Tehri atau tahri adalah hidangan nasi kuning pedas dari wilayah Awadh di Uttar Pradesh, India. Orang menambah bumbu pada nasi putih untuk memberi rasa dan warna lalu menambah sayuran dan kacang. Dalam salah satu variasi, kentang dicampur ke dalam nasi.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Tehri atau tahri adalah hidangan nasi kuning pedas dari wilayah Awadh di Uttar Pradesh, India. Orang menambah bumbu pada nasi putih untuk memberi rasa dan warna lalu menambah sayuran dan kacang. Dalam salah satu variasi, kentang dicampur ke dalam nasi.[1][2]
Menurut Monier Williams Sanskrit English Dictionary, istilah Awadhi tehri memiliki akar etimologis dari kata Sanskerta tāpaharī. Istilah tersebut merujuk pada hidangan berbahan dasar nasi yang berkembang dalam tradisi kuliner Awadhi di India utara. Tehri biasanya menggunakan beras sebagai komponen utama lalu dipadukan dengan potongan dal atau badi serta berbagai sayuran.
Proses memasaknya menggunakan ghee sebagai medium utama sehingga menghasilkan aroma yang kuat. Bumbu yang digunakan mengikuti pola rempah khas kawasan tersebut. Kunyit menjadi elemen penting karena memberikan warna kuning dan karakter rasa yang khas. Tehri kemudian berkembang sebagai makanan rumah tangga yang mudah dibuat dan dapat disesuaikan dengan ketersediaan bahan di berbagai daerah yang memiliki pengaruh kuliner Awadhi.[3]
Resep tahari muncul dengan nama Tapahari dalam naskah pengobatan Ayurveda yang ditulis dalam bahasa Sanskerta sebagai olahan nasi yang dimasak dengan sayuran dan bahan lain. Pakadarpana dari tahun 1200 Masehi juga menyebut hidangan ini dan memakai daging ayam betina. Bhojanakutuhala dari tahun 1675 Masehi mencatat hidangan nasi tahari yang disantap dengan gorengan kacang lentil bernama vatakas.[4] Bahan untuk membuat tapahari dalam dua teks tersebut berbeda tetapi tekniknya sama. Hidangan ini dibuat dari nasi yang dibumbui campuran Trikatu dan Trijataka dengan ghee, kunyit, jahe basah, asafetida, air dan garam. Pakadarpana menambah daging ayam ke dalamnya. Dalam Bhojanakutuhala, hidangan ini disantap dengan vatakas yang dibuat dari tepung kacang hitam dan tepung beras dicampur kunyit lalu digoreng dengan ghee. Hidangan ini disebut tahari atau tapahari. Resepnya juga muncul dalam Bhavaprakasha Nighantu, teks pengobatan abad ke-16.[5][6]
Tahari makin populer saat Perang Dunia Kedua ketika harga daging naik dan kentang menjadi pengganti biryani. Di keluarga Muhajir di Pakistan yang berasal dari Uttar Pradesh, hidangan ini dianggap sebagai hidangan tradisional. Beberapa variasi memakai daging kambing, sapi atau ayam terutama saat disajikan dalam jamuan.