Tanjungpunak sering juga ditulis Tanjung Punak adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Rupat Utara, kabupaten Bengkalis, provinsi Riau, Indonesia. Adapun wilayahnya berada di sebelah utara pulau yang wilayah utaranya berhadapan langsung dengan selat malaka. Secara geografis wilayah ini berbatasan sebagai berikut:
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Tanjungpunak | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Riau | ||||
| Kabupaten | Bengkalis | ||||
| Kecamatan | Rupat Utara | ||||
| Kode pos | 28783 | ||||
| Kode Kemendagri | 14.03.11.2003 | ||||
| Luas | 13,63 km² | ||||
| Jumlah penduduk | 1.380 jiwa | ||||
| Kepadatan | 101 jiwa/km² | ||||
| |||||
Tanjungpunak sering juga ditulis Tanjung Punak (disingkat menjadi Tg. Punak atau Tj. Punak) adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Rupat Utara,[1] kabupaten Bengkalis, provinsi Riau, Indonesia. Adapun wilayahnya berada di sebelah utara pulau yang wilayah utaranya berhadapan langsung dengan selat malaka. Secara geografis wilayah ini berbatasan sebagai berikut:
| Bagian | Batas Wilayah |
|---|---|
| Utara | Selat Malaka |
| Selatan | Desa Kadur, Desa Puteri Sembilan, dan Desa Titi Akar |
| Timur | Desa Puteri Sembilan |
| Barat | Desa Telukrhu |
Selain itu, dalam perencanaan akan dibangun Penginapan beberapa homestay baru yang bernuansa Budaya Melayu disekitaran Jl. Sukajadi Tanjungpunak. Cafe juga akan dibangun diarea ini untuk dijadikan sebagai wisata malam bagi para wisatawan.
Desa Tanjung Punak dibentuk pada Tahun 1918 M. Pada awalnya Desa ini hanya terdiri dari hutan saja dan pada saat itu Desa ini belum bernama. Pada zaman dahulu ditempat ini bertanjung ( daratan yang menjorok kelaut ) dan disekitar Tanjung itu tumbuhlah pohon kayu yang sangat besar dan rindang, Pohon kayu itu bernama Pohon Punak . Makanya Orang Tua-tua dahulu memberikan nama Desa ini dengan nama Desa Tanjung Punak. Pohon tersebut sudah jauh lepas ditengah laut dan hanya menyisakan tunggulnya saja lagi. Sampai sekarang ditengah laut tersebut masih ada tunggul pohon Punak.Jadi apabila para Nelayan yang sedang pergi melaut apabila hilang kendali maka jaring nelayan tersebut sering tersangkut dipohon Punak ini. Pada saat itu desa ini dipimpin oleh seorang penghulu yang bernama JANTAN. Beliau adalah penghulu yang pertama yang dipilih oleh Orang Tua-tua dahulu. pada saat itu Mata Pencaharian penduduk adalah Nelayan yang dibantu oleh Ibu-ibu yang bekerja sebagai membuat Anyaman Tikar dan membuat Tudung Saji dari Pandan untuk dijual.[2]
Desa Tanjungpunak terdiri dari 3 Dusun/Lingkungan.
Beberapa potensi unggulan sebagai kontribusi secara nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Tanjungpunak Adalah: (1) Pertanian, Potensi unggulan yang ada di Tanjungpunak untuk meningkatkan pendapatan penduduk perkapita pada dasarnya adalah petani, dikarenakan lahan yang masih sangat luas dan subur. (2) Nelayan, Potensi unggulan yang ada di Tanjungpunak untuk meningkatkan pendapatan penduduk perkapita pada dasarnya adalah nelayan yang dikarenakan potensi perikanan masih lumayan . (3) Potensi Industri, Keterampilan industri rumahan seperti Anyaman Tikar, kerajinan tangan berupa makanan kecil dan lain-lain. (4) Pariwisata,[3] Dalam bidang pariwisata, Tanjungpunak memiliki potensi wisata yang berbasis alam dan berbasis budaya. Dalam bidang budaya sendiri, Tanjungpunak memiliki berbagai kegiatan seperti acara Mandi Shafar yang diadakan setahun sekali pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar, Kesenian Zapin, dan lainnya sebagainya yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan. Sedangkan pada bidang yang berbasis alam sendiri dikarenakan Tanjungpunak memiliki wilayah pantai dan hutan, maka daya tarik wisatanya antara lain wisata hutan yang saat ini belum terjamah sehingga belum begitu dikenal oleh wisatawan dari luar daerah.
Tanjungpunak memiliki:
yang diresmikan oleh Bupati Bengkalis pada September 2024.
Wisata Budaya masih tetap dilestarikan di Tanjungpunak, seperti ritual mandi safar[4] yang dilakukan setiap hari rabu terakhir dibulan shafar, Ritual Mandi Shafar tersebut dihadiri dan diikuti oleh ratusan bahkan ribuan warga masyarakat, laki-laki maupun perempuan, orang tua maupun orang muda yang datang dari desa-desa sekitar maupun dari luar pulau. Upacara mandi safar ini dimulai sejak tahun 1950 mandi belimau petang megang yang masih tetap dilaksanakan di antara 10 hari terakhir dibulan sya'ban. terdapat beberapa penginapan di desa Tanjungpunak, ada Penginapan Sri Lapin, Homestay Pantai Cemara, Dicken Homestay , Villa Zapin, Villa anting putri, Penginapan Atah Zahar, Villa Nurstana, dan dalam perencanaan akan dibangun lagi sebuah penginapan di kawasan Pantai Cemara.
pekerjaan warga didominasi oleh wiraswasta. selain itu ada juga yang merupakan nelayan, petani, guru, tenanga medis, pegawai negri sipil (PNS), TKI/TKW, dan pekerjaan kantoran lainya.