Pada 24 Januari 2026, sebuah tanah longsor besar terjadi di Cisarua, Bandung Barat pada sekitar 02.30 WIB saat hujan deras terus menerus turun. Setidaknya 80 orang tewas, dan 20 lainnya hilang, sekitar 53 rumah rusak berat dan tertimbun material longsor.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Korpasgat mengevakuasi korban longsor di Cisarua, Bandung Barat | |
![]() | |
| Tanggal | 24 Januari 2026 (2026-01-24) |
|---|---|
| Waktu | 02:30 WIB |
| Lokasi | Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Indonesia |
| Koordinat | 6°47′38″S 107°32′10″E / 6.794°S 107.536°E / -6.794; 107.536[[Sistem koordinat geografis|Koordinat]]: <templatestyles src=\"Module:Coordinates/styles.css\"></templatestyles><span class=\"plainlinks nourlexpansion\">[https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Tanah_longsor_Bandung_Barat_2026¶ms=6.794_S_107.536_E_ <span class=\"geo-nondefault\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\"><span class=\"latitude\">6°47′38″S</span> <span class=\"longitude\">107°32′10″E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\"> / </span><span class=\"geo-default\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\">6.794°S 107.536°E</span><span style=\"display:none\"> / <span class=\"geo\">-6.794; 107.536</span></span></span>]</span>[[Category:Pages using gadget WikiMiniAtlas]]</span>"},"html":"<span id=\"coordinates\"><a rel=\"mw:WikiLink\" href=\"./Sistem_koordinat_geografis\" title=\"Sistem koordinat geografis\" id=\"mwBg\">Koordinat</a>: <link rel=\"mw-deduplicated-inline-style\" href=\"mw-data:TemplateStyles:r28112010\" about=\"#mwt5\" typeof=\"mw:Extension/templatestyles\" data-mw='{\"name\":\"templatestyles\",\"attrs\":{\"src\":\"Module:Coordinates/styles.css\"},\"body\":{\"extsrc\":\"\"}}' id=\"mwBw\"/><span class=\"plainlinks nourlexpansion\" id=\"mwCA\"><a rel=\"mw:ExtLink\" href=\"https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Tanah_longsor_Bandung_Barat_2026&params=6.794_S_107.536_E_\" class=\"external text\" id=\"mwCQ\"><span class=\"geo-nondefault\" id=\"mwCg\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwCw\"><span class=\"latitude\" id=\"mwDA\">6°47′38″S</span> <span class=\"longitude\" id=\"mwDQ\">107°32′10″E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\" id=\"mwDg\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwDw\"></span> / <span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwEA\"></span></span><span class=\"geo-default\" id=\"mwEQ\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwEg\">6.794°S 107.536°E</span><span style=\"display:none\" id=\"mwEw\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwFA\"></span> / <span class=\"geo\" id=\"mwFQ\">-6.794; 107.536</span></span></span></a></span><link rel=\"mw:PageProp/Category\" href=\"./Kategori:Pages_using_gadget_WikiMiniAtlas\" id=\"mwFg\"/></span>"}' id="mwFw"/> |
| Penyebab | Hujan lebat |
| Tewas | 80 |
| Hilang | 20 |
| Kerugian harta benda | 53 rumah rusak berat akibat longsor |
Pada 24 Januari 2026, sebuah tanah longsor besar terjadi di Cisarua, Bandung Barat pada sekitar 02.30 WIB saat hujan deras terus menerus turun. Setidaknya 80 orang tewas, dan 20 lainnya hilang, sekitar 53 rumah rusak berat dan tertimbun material longsor.[1]
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan, peristiwa tanah longsor tersebut dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi dan terjadi pada hari Sabtu, sekitar pukul 02.30 WIB di Kecamatan Cisarua, tepatnya di Desa Pasirlangu.[2] Sejumlah warga menyebut kejadian berlangsung sangat cepat, diawali suara dentuman keras dari arah perbukitan sebelum material longsor menerjang permukiman. Tanah dan bebatuan kemudian bergerak dari lereng kaki Gunung Burangrang, dan langsung menimbun rumah-rumah warga yang berada di bagian bawah.[3] Selain curah hujan yang tinggi, alih fungsi lahan di Gunung Burangrang diduga memicu longsor tersebut. Dekat lokasi tersebut, terdapat tempat wisata pegunungan Bukit Mentari, serta banyak ditemukan kebun sayur. Batu besar dan pohon tumbang juga terlihat bersama gundukan tanah longsor tepat di atas kawasan yang dahulu permukiman.[4]

Operasi penyelamatan dilakukan pasca longsor termasuk Polri bersama TNI, Basarnas, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah, serta relawan.[5] Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, sebanyak 53 unit rumah rusak dan terkubur, satu di antaranya rusak berat.[6] Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, menyampaikan, setidaknya 10 orang tewas, dan 82 lainnya masih dalam proses pencarian.[7] Ia menyatakan, sekitar 113 warga yang tertimpa longsor, 23 diantaranya selamat dan telah dievakuasi ke tenda darurat.[8] Sementara itu lebih dari 400 orang mengungsi akibat bencana longsor tersebut.[9] Pada 25 Januari, Tim SAR Gabungan menemukan 14 jenazah tambahan, sehingga total korban jiwa akibat longsor ini menjadi 25 orang, dan 65 lainnya masih hilang.[10] Pada hari yang sama, tim Disaster Victim Identification (DVI) menerima 11 jenazah tambahan yang teridentifikasi, 10 korban di antaranya teridentifikasi dalam kondisi utuh, sedangkan satu korban lainnya dikenali melalui potongan tubuh melalui pencocokan data antemortem.[11][12] Pada 26 Januari, operasi pencarian hari ke-tiga, korban jiwa akibat longsor bertambah menjadi 38 orang, dengan setidaknya 20 jenazah berhasil teridentifikasi oleh DVI.[13][14]
Pada 27 Januari, Tim SAR gabungan menyatakan sebanyak 50 korban jiwa telah ditemukan, jumlah warga terdampak longsor bertambah menjadi 158 jiwa, dengan rincian 75 orang selamat dan terdapat 30 orang yang hingga kini dalam proses pencarian.[15] Pada 28 Januari, Tim SAR Gabungan menyatakan total 53 korban jiwa akibat longsor ditemukan.[16] Pada 31 Januari, jumlah korban jiwa akibat longsor meningkat menjadi 70 orang, dengan 10 lainnya masih hilang, 52 jenazah telah berhasil teridentifikasi oleh tim DVI Polri.[17][18] Pada 3 Februari, menurut data dari Tim SAR, seluruh korban jiwa akibat longsor telah ditemukan dengan total 80 orang.[19] Pada 3 Februari, Tim SAR mencatat setidaknya 85 korban jiwa ditemukan.[20] Meskipun jumlah korban hilang telah ditemukan seluruhnya, saat peristiwa terjadi, kemungkin ada sejumlah di luar warga setempat, dan hal tersebut terjadi karena ada korban yang ternyata tidak termasuk ke dalam daftar pencarian orang yang dilaporkan Incident Commander.[21] Pada 10 Februari, Tim SAR mencatat setidaknya 80 korban jiwa, dengan seluruh jenazah berhasil teridentifikasi oleh tim DVI.[22][23] Pada 14 Februari, operasi pencarian longsor ditutup dengan diperkirakan 20 orang lainnya masih hilang dan tertimbun longsor.[24]


Setelah bencana tersebut, operasi pencarian besar-besaran dilakukan dengan melibatkan lebih dari 2.100 personel menggunakan tangan kosong, pompa air, drone, dan sembilan ekskavator.[25] Tim penyelamat menggali berton-ton lumpur, bebatuan, dan pohon tumbang akibat tanah longsor yang membentang lebih dari 2 kilometer (1,2 mil). Menurut Yudhi Bramantyo, direktur operasi Badan Nasional Pencarian dan Penyelamatan (Basarnas), pihaknya juga menambah kekuatan personel dari luar daerah Jawa Barat.[26] Ia juga mengatakan bahwa di beberapa tempat lumpur akibat longsor mencapai kedalaman hingga 8 meter (26 kaki).[27] Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos) mengirimkan bantuan logistik, bantuan tersebut dikirim dari Gudang Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat ke lokasi pengungsian di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua. Bantuan berupa 1 unit tenda serbaguna, 5 unit tenda keluarga, 50 lembar tenda gulung, 200 lembar kasur, 200 lembar selimut, 500 paket makanan siap saji, 400 paket lauk pauk siap saji, 100 paket makanan anak, 100 paket family kit, 100 paket kidsware, serta bantuan sandang anak dan dewasa masing-masing sebanyak 50 paket.[28] Dinas Sosial dan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Bandung Barat mendirikan dapur umum lapangan yang berlokasi di SDN 1 Pasirlangu, tidak jauh dari Kantor Desa Pasirlangu.[29] Sementara Pemprov Jabar menyiapkan kompensasi sebesar Rp25 juta bagi keluarga korban meninggal dunia akibat bencana longsor.[30]
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi meninjau langsung proses evakuasi korban bencana longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat. Dedi menyoroti adanya alih fungsi lahan di kawasan tersebut. Menurutnya, kawasan sekitar longsor merupakan kebun yang menggunakan plastik mulsa dan telah dibuka hingga ke puncak bukit.[31] Ia akan merelokasi seluruh rumah warga di sekitar lokasi bencana. Dedi menilai kawasan tersebut tidak lagi layak huni karena potensi bencana susulan sangat tinggi.[32][33][34]