Tan Shot Yen merupakan dokter, ahli gizi, penulis, dan intelektual publik Indonesia. Ia dikenal sebagai pakar kesehatan yang vokal membahas isu-isu kesehatan dan gaya hidup. Tan sering membagikan pemikirannya mengenai gizi dan kesehatan melalui beragam media, seperti forum dan diskusi ilmiah, media massa, media sosial, hingga menulis kolom kesehatan di harian Kompas dan menerbitkan beberapa buku.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

(2023) | |
| Biografi | |
|---|---|
| Kelahiran | 17 September 1964 Beijing |
| Data pribadi | |
| Pendidikan | Universitas Indonesia - kedokteran (1991–) Universitas Tarumanagara - Pendidikan kedokteran (1983–1990) Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta (–2009) Universitas Indonesia - Gizi manusia (–2014) |
| Kegiatan | |
| Pekerjaan | dokter, ahli gizi |
Tan Shot Yen (lahir 17 September 1964) merupakan dokter, ahli gizi, penulis, dan intelektual publik Indonesia. Ia dikenal sebagai pakar kesehatan yang vokal membahas isu-isu kesehatan dan gaya hidup.[1] Tan sering membagikan pemikirannya mengenai gizi dan kesehatan melalui beragam media, seperti forum dan diskusi ilmiah, media massa, media sosial, hingga menulis kolom kesehatan di harian Kompas[2] dan menerbitkan beberapa buku.[1]
Tan Shot Yen lahir pada 17 September 1964 di Beijing dan besar di Jakarta.[2] Ia menempuh pendidikan S1 kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara dari tahun 1983 hingga 1990. Selanjutnya, ia melanjutkan profesi kedokteran melalui program Profesi Kedokteran Negara di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada tahun 1991.[1] Ia juga mengambil program pendidikan S2 dalam bidang Instructional Physiotherapy di Perth, Australia (1992) dan program diploma dalam bidang Penyakit Menular Seksual dan HIV-AIDS di Thailand (1996).[3] Selain pendidikan terkait kesehatan, Tan juga tertarik dengan ilmu filsafat. Ia menyelesaikan pendidikan magister filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, pada 2009.[1] Sejak kuliah filsafat, ia menjadi tertarik dengan aspek masyarakat dari ilmu gizi. Pada 2014, ia meraih gelar doktor di bidang Ilmu Gizi dari Universitas Indonesia setelah menempuh studi selama empat tahun.[2]
Dalam audiensi dengan Komisi IX DPR RI pada Rabu, 24 September 2025, ia mengkritik menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurutnya tidak memenuhi standar gizi dan tidak sesuai dengan kebutuhan anak.[3][4] Ia dihadirkan di sana sebagai ahli gizi untuk mengkaji pelaksanaan MBG bersama dengan sejumlah organisasi nirlaba bidang kesehatan, yaitu Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA), CISDI, dan JPPI.[3] Ia meminta pemerintah untuk memastikan menu yang disajikan telah mengikuti standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian.[2]
Secara spesifik, ia menyebut hamburger dan spageti yang pernah menjadi menu MBG dalam pidato kritiknya. Dua makanan tersebut dipandang tidak memenuhi gizi seimbang dan merupakan makanan olahan tinggi yang berpotensi buruk bagi kesehatan. Ia juga tidak setuju dengan pemberian susu untuk anak karena sebagian besar orang Indonesia yang intoleransi laktosa.[2] Ia juga menyoroti menu MBG yang tidak mengangkat pangan lokal yang lebih bergizi. Tan meminta pemerintah Indonesia untuk lebih memperhatikan keamanan makanan karena makanan yang disimpan di bawah 60 derajat rentan terkontaminasi bakteri.[1] Kebijakan mempekerjakan ahli gizi lulusan baru (fresh graduate) untuk program MBG juga tak luput dari sorotannya. Menurutnya, mereka masih kurang pengalaman dan pengetahuan untuk menangani proyek besar ini. Ia menyebut para ahli gizi muda tersebut kurang memahami "Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP), metode ilmiah yang digunakan untuk menjamin keamanan pangan dengan mengendalikan titik kritis di setiap tahap produksi."[2]
Tan menikah dengan Henry Remanlay, ahli akupunktur dan pengobatan herbal. Ia bersama suaminya mendirikan klinik Dr Tan & Remanlay Institute.[2]
Pada 16 Oktober 2025, Tan menerima penghargaan Anugerah Perempuan Hebat Liputan 6 2025 untuk kategori Kesehatan. Ia dipandang telah berkontribusi mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pangan lokal dan pola makan sehat untuk anak-anak.[7]