Taman Hutan Raya Lapak Jaru adalah taman yang terletak di Kabupaten Gunung Mas, provinsi Kalimantan Tengah, lebih tepatnya di wilayah Kecamatan Kuala Kurun. Kawasan ini berdiri di atas luas ± 4.117,30 hektar. Penetapan resmi sebagai taman hutan raya berlangsung melalui keputusan pemerintah, ketika statusnya diubah dari kawasan hutan lindung menjadi kawasan konservasi. Secara geografis, batas koordinat kawasan berada di antara 113°50′00″ sampai 113°57′00″ BT dan 0°59′00″ sampai 1°04′00″ LS. Keliling kawasan mencakup garis batas sekitar 29.103,49 meter.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Taman Hutan Raya Lapak Jaru adalah taman yang terletak di Kabupaten Gunung Mas, provinsi Kalimantan Tengah, lebih tepatnya di wilayah Kecamatan Kuala Kurun. Kawasan ini berdiri di atas luas ± 4.117,30 hektar. Penetapan resmi sebagai taman hutan raya berlangsung melalui keputusan pemerintah, ketika statusnya diubah dari kawasan hutan lindung menjadi kawasan konservasi. Secara geografis, batas koordinat kawasan berada di antara 113°50′00″ sampai 113°57′00″ BT dan 0°59′00″ sampai 1°04′00″ LS. Keliling kawasan mencakup garis batas sekitar 29.103,49 meter.[1]
Tahura Lapak Jaru menyimpan keragaman hayati yang kaya. Hutan ini didominasi pepohonan seperti ulin, meranti, keruing, tengkawang, dan kayu besar lain, serta tumbuhan khas hutan tropis seperti jelutung dan beragam anggrek. Survei ekologi menunjukkan keberadaan 422 spesies tumbuhan, dengan 113 di antaranya berupa flora endemik Kalimantan yang dilindungi. Selain itu, kawasan ini juga menjadi habitat bagi 88 spesies burung, sejumlah mamalia, serta berbagai reptil dan satwa liar lainnya. Keanekaragaman ini menjadikan Lapak Jaru sebagai kawasan penting bagi konservasi dan penelitian keanekaragaman hayati.[2]
Tak hanya flora dan fauna, Tahura ini juga menyimpan keindahan alam berupa air terjun, seperti Air Terjun Bawin Kameloh, sekitar 20 meter tinggi, yang menawarkan panorama hutan tropis dan sungai jernih sebagai daya tarik wisata alam. Ada juga gua peninggalan masa kolonial Belanda serta situs sejarah dan religi seperti area Batu Salib, yang menambah nilai sejarah dan budaya kawasan.[3]
Sejak penetapan sebagai taman hutan raya, Lapak Jaru dirancang untuk menjadi ruang konservasi flora-fauna endemik sekaligus kawasan resapan air yang mendukung ekosistem di sekitarnya. Misinya meliputi pelestarian keanekaragaman hayati, penyediaan habitat alami, dan jasa lingkungan seperti perlindungan DAS (Daerah Aliran Sungai) Kahayan dan Kapuas.[1]
Di sisi lain, sejak tahun 2020–2024 pengelola kawasan bersama pemerintah Kabupaten Gunung Mas aktif mempromosikan Tahura Lapak Jaru sebagai objek wisata unggulan. Upaya ini meliputi pembangunan fasilitas pendukung, pemetaan tapak wisata, serta rencana penyediaan jaringan listrik dan sarana publik untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung.[4]
Berkat kombinasi keindahan alam, kemudahan akses dari pusat kota Kuala Kurun, dan inisiatif ekowisata, seperti jalur trekking, kunjungan ke air terjun, spot fotografi, dan studi alam, kawasan ini mulai menarik minat masyarakat lokal maupun wisatawan dari luar daerah. Beberapa pihak bahkan menilai Lapak Jaru berpotensi menyumbang pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui model smart tourism.[4]
Meski memiliki potensi besar, Tahura Lapak Jaru tidak lepas dari tantangan, terutama terkait tekanan terhadap kawasan konservasi. Pada awal 2018, terdapat laporan aktivitas pertambangan emas rakyat di beberapa bagian kawasan. Tambang tersebut membuka jalan baru sepanjang sekitar 11 km, dengan pelebaran jalan hingga 6 meter, serta aktivitas alat berat dan penggalian tanpa izin resmi. Hal ini sempat mengancam keutuhan ekosistem kawasan.[2]
Sebagai respons, pemerintah daerah dan instansi kehutanan melakukan patroli, dan menghentikan sementara aktivitas tambang tersebut karena belum mengantongi izin resmi (IPPKH). Regulasi yang mengatur kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian diterapkan, untuk menjaga agar Tahura terus berfungsi sebagai taman konservasi alam.[5]
Sejak 2024, pengelola dan pemerintah setempat merencanakan berbagai inisiatif untuk pengembangan Tahura Lapak Jaru dengan tetap menjaga nilai konservasi dan keberlanjutan ekologis. Rencana tersebut termasuk restrukturisasi tapak wisata, pelibatan masyarakat lokal, misalnya kelompok tani hutan dan pelaku wisata berbasis komunitas, serta pembentukan Unit Pengelola TAHURA (UPTD) agar pengelolaan lebih profesional dan transparan[4]