Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia adalah taman yang berlokasi di Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan. Lokasi ini dapat ditempuh dari Kota Banjarbaru sekitar 6 km, yang terletak di Kawasan Perkantoran Provinsi Kalimantan Selatan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (September 2025) |
Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia adalah taman yang berlokasi di Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan. Lokasi ini dapat ditempuh dari Kota Banjarbaru sekitar 6 km, yang terletak di Kawasan Perkantoran Provinsi Kalimantan Selatan.[1]
Saat diresmikan pada tahun 2019 tempat ini bernama Miniatur Hutan Hujan Tropika, kemudian pada tahun 2020 berubah nama menjadi Taman Hutan Hujan Topis Indonesia saat diresmikan Oleh Presiden Indonesia, merupakan gagasan dari Pemerintah Kalimantan Selatan, sebagai bentuk konservasi pohon khas, khususnya Kalimantan Selatan (Ulin dan Meranti), sehingga untuk melihat pohon khas Kalimantan Selatan tidak perlu ke hutan dan cukup di kota di kawasan Perkantoran Provinsi Kalimantan Selatan.[1]
Area seluas 86,85 hektar ini dibagi menjadi empat blok, dimana tanaman inti di blok I yaitu pohon rimba campuran dan HHBK, Blok II pohon Ulin, Blok III pohon Meranti, dan Blok IV pohon Mahoni. Saat ini, area tersebut telah didominasi oleh tanaman sengon dan jabon sebagai peneduh tanaman inti.[2]
Terdapat 23 orang penjaga Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia yang terbagi dalam empat blok kawasan, tugas mereka memastikan agar pohon tumbuh subur sejak ditanam. Setiap hari kondisi pohon harus dipantau dalam proses pemeliharaan, mulai pemupukan, penyiraman, hingga pembersihan rumput liar yang terus mengganggu, termasuk munculnya hama penyakit yang mengancam kesuburan tanaman.[2]
Taman ini ditumbuhi ratusan jenis tanaman meranti, termasuk pohon ulin sebagai jenis endemik hutan Kalimantan. Ada juga tanaman spesies yang tumbuh cepat, seperti mahoni, trembesi, jabon, dan sengon. Beragam jenis tanaman buah langka juga dibudidayakan, termasuk pohon kayu manis yang terkenal banyak diproduksi masyarakat pedalaman Suku Dayak Loksado di Pegunungan Meratus, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, hingga aneka pohon dari berbagai daerah di Nusantara.[2]
Pembangunan hutan kota Miniatur Hutan Hujan Tropika (M2HT) yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dengan dukungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mulai dirancang dan dibangun sejak 2017. Keberadaan M2HT yang kemudian ditetapkan sebagai Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia (TH2TI) di tahun 2018 kini menjadi ruang terbuka hijau (RTH) yang tidak hanya bermanfaat untuk mengurangi peningkatan suhu udara di perkotaan dan mengurangi pencemaran udara, tetapi dapat menjadi sarana konservasi eksitu bagi jenis-jenis tumbuhan langka di luar habitat aslinya.[2]