Prof. Sutiman Bambang Sumitro adalah seorang ilmuwan dan akademisi terkemuka Indonesia yang dikenal atas kontribusinya dalam bidang biologi sel dan nanoteknologi, khususnya terkait penelitian inovatif dalam teknologi hydro oxy dan nano bubble, serta perannya yang signifikan dalam RAHO Club. Beliau lahir sebagai anak ke-9 dari 10 bersaudara dari pasangan Bapak Ngadiman dan Ibu Siti di Yogyakarta. Keluarganya, yang kemudian dikenal dengan nama Sastrosoedirdjo, hidup dalam kesederhanaan. Ayah beliau, Pak Sastrosoedirdjo, bekerja sebagai pejabat Kantor Pos, sementara ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Keduanya memiliki latar belakang pendidikan formal dari era kolonial Belanda dan fasih berbahasa Belanda.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Mei 2025) |
Kontributor utama artikel ini tampaknya memiliki hubungan dekat dengan subjek. (Mei 2025) |
| Sutiman Bambang Sumitro | |
|---|---|
Potret tahun 2016 | |
| Lahir | 11 Maret 1954 Yogyakarta, Indonesia |
| Kebangsaan | Indonesian |
| Pendidikan |
|
| Pekerjaan |
|
| Tempat kerja | Universitas Brawijaya |
| Organisasi |
|
| Dikenal atas | Nanobiology, Cell Biology, Hydro Oxy, Nano Bubble, RAHO Club, Divine Cigarette |
| Penghargaan |
|
Prof. Sutiman Bambang Sumitro adalah seorang ilmuwan dan akademisi terkemuka Indonesia yang dikenal atas kontribusinya dalam bidang biologi sel dan nanoteknologi, khususnya terkait penelitian inovatif dalam teknologi hydro oxy dan nano bubble, serta perannya yang signifikan dalam RAHO (Reverse Aging and Homeostasis) Club. Beliau lahir sebagai anak ke-9 dari 10 bersaudara dari pasangan Bapak Ngadiman dan Ibu Siti di Yogyakarta. Keluarganya, yang kemudian dikenal dengan nama Sastrosoedirdjo, hidup dalam kesederhanaan. Ayah beliau, Pak Sastrosoedirdjo, bekerja sebagai pejabat Kantor Pos, sementara ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Keduanya memiliki latar belakang pendidikan formal dari era kolonial Belanda dan fasih berbahasa Belanda.[1]
Masa kecil Prof. Sutiman diwarnai oleh kondisi ekonomi keluarga yang sederhana. Meskipun demikian, beliau mendapatkan inspirasi dari ayahnya yang mengajarkan kesabaran dan arti perjuangan, ibunya yang menanamkan nilai ketulusan, serta dua pamannya yang memberikan wawasan spiritual dan pengalaman internasional.[1] Pengalaman masa kecil dan dukungan keluarga, terutama dari ibunya yang menganggap biologi sebagai bagian penting dari perjalanan hidup, turut membentuk ketekunannya dalam menempuh pendidikan.[2]
Prof. Sutiman memulai pendidikan formalnya di SD Pakualaman 1, Yogyakarta, dan melanjutkan ke SMPN 3 Yogyakarta. Beliau kemudian berhasil masuk ke SMAN 1 Yogyakarta, yang dikenal sebagai SMA Teladan.[1]
Setelah sempat mengalami kegagalan saat tes masuk Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) karena kurangnya rasa percaya diri, Prof. Sutiman akhirnya diterima di Fakultas Biologi UGM pada tahun 1973. Di sinilah beliau menemukan kembali kepercayaan dirinya dan menunjukkan prestasi akademik yang baik. Beliau menjalani masa orientasi mahasiswa baru yang cukup menantang pada masanya dan menempuh perkuliahan dengan fasilitas yang sederhana di area Kraton Yogyakarta.[2] Beliau menyelesaikan program Sarjana Muda (B.Sc.) dalam waktu empat tahun, yang dilanjutkan dengan penyusunan dua karya skripsi untuk meraih gelar Doktorandus (Drs.) pada tahun 1978, dengan total masa studi S1 selama enam tahun.[1][3]
Setelah lulus, Prof. Sutiman tidak langsung berkarier sebagai pengajar, melainkan mencari berbagai pengalaman kerja. Pada tahun 1980, beliau mulai tertarik untuk menjadi dosen dan diterima di Universitas Brawijaya (UB), Malang, yang saat itu sedang dalam proses pendirian Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).[1]
Untuk meningkatkan kualifikasinya, Prof. Sutiman melanjutkan studi Magister (S.U. - Sarjana Utama) di UGM dan menyelesaikannya pada tahun 1984. Beliau kemudian meraih gelar Doctor of Science (D.Sc.) dalam bidang Biologi Sel dari Universitas Nagoya, Jepang, pada tahun 1989.[3][4] Setelah itu, beliau menjalani program postdoctoral selama satu tahun di Fakultas Kedokteran, Universitas Mie, Jepang, sebelum akhirnya kembali mengajar di Universitas Brawijaya.[1]
Prof. Sutiman Bambang Sumitro adalah seorang Guru Besar (Profesor) dalam bidang Biologi Sel dan Nano Biologi di Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya.[3][5] Sepanjang kariernya, beliau telah memberikan kontribusi signifikan dalam dunia akademik dan penelitian di Indonesia. Minat penelitian utamanya meliputi biologi sel, nano biologi, biologi molekuler, dan mikroskopi.[4][5]
Salah satu fokus utama penelitiannya yang paling menonjol adalah pengembangan teknologi nano bubble hidrogen untuk aplikasi kesehatan. Prof. Sutiman memimpin penelitian di Institut Molekul Indonesia (IMI) terkait aplikasi teknologi nano dalam produksi gelembung hidrogen untuk peningkatan kesehatan. Penelitian ini, yang didanai oleh RAHO (Reverse Aging and Homeostasis) Club, merupakan yang pertama di Indonesia dan dunia, dengan melibatkan anggota RAHO Club sebagai subjek uji secara sukarela.[6] Teknologi nano bubble hidrogen ini diyakini memiliki keunggulan dalam menembus pembuluh kapiler hingga mencapai organ target secara lebih efektif, sehingga meningkatkan efektivitas terapi dan meminimalkan efek samping.[7]
Penelitian ini bertujuan mengatasi masalah kekurangan suplai oksigen ke sel darah merah akibat penyumbatan pembuluh darah. Gelembung nano hidrogen berperan menembus kapiler, memungkinkan sel mendapatkan kembali unsur penting yang dibutuhkan dan bekerja lebih optimal. Manfaat jangka panjang bagi anggota RAHO Club yang mengikuti terapi ini termasuk peningkatan sirkulasi darah, sehingga mengurangi risiko stroke, penyakit jantung koroner, dan berbagai penyakit degeneratif lainnya.[6][7]
Kolaborasi antara IMI, RAHO Club, dan berbagai institusi seperti Universitas Brawijaya dan UPN "Veteran" Jawa Timur, serta Lakesla (Lembaga Kesehatan Kelautan TNI AL), terus dikembangkan untuk meneliti lebih lanjut efek terapi infus nano bubble hidrogen dalam meningkatkan metabolisme sel dan kualitas hidup pasien dengan penyakit degeneratif.[8] Penelitian juga dilakukan terkait inovasi gelembung nano untuk terapi Parkinsonisme, yang menunjukkan potensi sebagai antioksidan, anti-inflamasi, dan neuroprotektif.[9]
Selain itu, Prof. Sutiman juga dikenal melalui karyanya "Nano Sutiman", yang merujuk pada kontribusinya dalam bidang nanoteknologi, termasuk penelitian partikel nano pada asap rokok.[10]

Prof. Sutiman Bambang Sumitro memiliki rekam jejak publikasi ilmiah yang signifikan. Berdasarkan data Google Scholar per Mei 2025, beliau memiliki lebih dari 2300 sitasi, dengan h-index 26 dan i10-index 70.[5] Beberapa publikasi penting beliau antara lain:
Prof. Sutiman telah menerima berbagai penghargaan dan pengakuan atas dedikasinya dalam bidang akademik, penelitian, dan inovasi teknologi, di antaranya: