Surak Ibra sendiri adalah sebutan yang keluar dari pelaksanaan seni tari yang mengeluarkan suara senggak dan sorak sorai. Walaupun telah lama berkembang kesenian ini masih banyak diminati oleh berbagai macam golongan di Garut. Kesenian Surak Ibra diciptakan oleh Rd. Djajadiwangsa bin Rd. Wangsa Muhamad sejak tahun 1910 dengan tujuan agar masyarakat Desa Cinunuk tetap semangat dan mau berjuang melawan penjajahan yang dituangkan lewat kesenian. Kedua, peran Disparbud Kabupaten Garut terhadap pelestarian Kesenian Surak Ibra adalah dengan melestarikan pertunjukan Surak Ibra, memberi bantuan dana untuk perkembangan juga kemajuan Surak Ibra serta melakukan pertukaran budaya Surak Ibra dengan daerah lain.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Surak Ibra sendiri adalah sebutan yang keluar dari pelaksanaan seni tari yang mengeluarkan suara senggak dan sorak sorai. Walaupun telah lama berkembang kesenian ini masih banyak diminati oleh berbagai macam golongan di Garut. Kesenian Surak Ibra diciptakan oleh Rd. Djajadiwangsa bin Rd. Wangsa Muhamad sejak tahun 1910 dengan tujuan agar masyarakat Desa Cinunuk tetap semangat dan mau berjuang melawan penjajahan yang dituangkan lewat kesenian. Kedua, peran Disparbud Kabupaten Garut terhadap pelestarian Kesenian Surak Ibra adalah dengan melestarikan pertunjukan Surak Ibra, memberi bantuan dana untuk perkembangan juga kemajuan Surak Ibra serta melakukan pertukaran budaya Surak Ibra dengan daerah lain.
Surak Ibra, yang juga dikenal dengan nama Boboyongan Eson, merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Kampung Sindang Sari dan telah ada sejak tahun 1910. Kesenian ini diciptakan oleh Raden Djajadiwangsa, putra dari Raden Wangsa Muhammad, yang lebih dikenal dengan sebutan Raden Papak.[1]
Surak Ibra lahir sebagai bentuk perlawanan masyarakat terhadap pemerintah kolonial Belanda atas tindakan sewenang-wenang yang terjadi pada masa itu, serta sebagai ekspresi nilai kegotongroyongan dan semangat kemandirian. Oleh karena itu, pertunjukan Surak Ibra melibatkan sedikitnya 40 hingga 100 orang pemain. Instrumen musik yang digunakan dalam pertunjukan ini meliputi obor dari bambu, seperangkat dogdog, angklung, seperangkat gendang pencak, keprak, dan kentongan bambu.
Sekitar tahun 1910, seorang tokoh masyarakat bernama Bapak Eson mengembangkan kesenian Boboyongan, yang kemudian dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Surak Eson. Setelah wafatnya Bapak Eson, sebutan Surak Eson tidak lagi populer dan kembali dikenal sebagai Boboyongan, dengan penyebutan masyarakat sebagai Surak Ibra.[2]
Pada masa lalu, Surak Ibra dipertunjukkan dalam berbagai pesta di wilayah Garut, yang dikenal sebagai "pesta Raja", yakni hajatan yang diselenggarakan oleh para dalem (bupati) Garut. Dalam perkembangannya, Surak Ibra kerap ditampilkan dalam upacara hari-hari besar, khususnya peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Di Desa Cinunuk, Garut, tradisi ini juga dikaitkan dengan kegiatan ziarah ke makam Cinunuk sebagai upaya memperkuat solidaritas dan persatuan antarwarga. Pada 30 Mei 1910, masyarakat Kasepuhan Cinunuk membentuk organisasi bernama Himpunan Dalem Emas (HDE) yang bertugas melestarikan Surak Ibra. Namun, pada tahun 1948, HDE dibubarkan dengan alasan bahwa Surak Ibra merupakan bagian dari kekayaan budaya negara, sehingga pengelolaannya dilanjutkan oleh aparat desa hingga saat ini.[1]
Dewasa ini, Bapak Amo dikenal sebagai tokoh pewaris dan pemimpin pertunjukan Surak Ibra dari Garut, serta dihormati oleh masyarakat pendukung kesenian tersebut sebagai sesepuh. Surak Ibra telah berkembang menjadi seni pertunjukan khas Garut yang tidak ditemukan di daerah lain, dengan karakter kolosal yang fleksibel sebagai seni kemasyarakatan. Hal ini dibuktikan melalui partisipasinya dalam Pesta Seni ITB tahun 2000, di mana puluhan penari Surak Ibra menampilkan pertunjukan membawa patung Ganeca dan berhasil memukau penonton pada perhelatan tersebut.
Hingga kini, Surak Ibra secara rutin ditampilkan dalam upacara-upacara peringatan hari besar nasional, seperti Hari Kemerdekaan Republik Indonesia maupun Hari Jadi Kabupaten Garut.