Sungai Buriganga adalah sungai kecil sepanjang 27 km yang mengalir di selatan dan barat kota Dhaka. Sungai ini menghubungkan Dhaka melalui saluran-saluran lain di wilayah Benggala dan sekitarnya, dan faktor inilah yang menjadi pertimbangan utama pemilihan Dhaka sebagai ibu kota Benggala oleh Dinasti Mughal. Berasal dari Sungai Dhaleswari di Kalatia, sungai ini bertemu dengan Sungai Turag di Kamrangir Char. Pelabuhan sungai Dhaka merupakan pelabuhan sungai tersibuk di negara ini. Setiap hari, sekitar 200 kapal motor besar dan kecil serta ratusan perahu mengangkut sekitar 30.000 penumpang dan barang dagang ke dan dari berbagai penjuru negeri. Istana bersejarah Ahsan Manzil, Benteng Lalbagh, dan Gereja Armenia abad ke-18 terletak di tepi Sungai Buriganga. Anda juga dapat mencicipi hidangan lezat Dhaka kuno di sini.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Sungai Buriganga বুড়িগঙ্গা নদী (Bengali) | |
|---|---|
Sebuah perahu motor berlayar dari Sadarghat di Buriganga | |
| Lokasi | |
| Negara | Bangladesh |
| Kota | Dhaka |
| Ciri-ciri fisik | |
| Hulu sungai | Sungai Dhaleshwari |
| - lokasi | dekat Kalatia |
| Muara sungai | Sungai Dhaleshwari |
| - lokasi | sekitar 3 km (2 mi) barat daya Fatullah |
| Panjang | 27 km (17 mi)[1] |
Sungai Buriganga adalah sungai kecil sepanjang 27 km yang mengalir di selatan dan barat kota Dhaka. Sungai ini menghubungkan Dhaka melalui saluran-saluran lain di wilayah Benggala dan sekitarnya, dan faktor inilah yang menjadi pertimbangan utama pemilihan Dhaka sebagai ibu kota Benggala oleh Dinasti Mughal. Berasal dari Sungai Dhaleswari di Kalatia, sungai ini bertemu dengan Sungai Turag di Kamrangir Char. Pelabuhan sungai Dhaka merupakan pelabuhan sungai tersibuk di negara ini. Setiap hari, sekitar 200 kapal motor besar dan kecil serta ratusan perahu mengangkut sekitar 30.000 penumpang dan barang dagang ke dan dari berbagai penjuru negeri. Istana bersejarah Ahsan Manzil, Benteng Lalbagh, dan Gereja Armenia abad ke-18 terletak di tepi Sungai Buriganga. Anda juga dapat mencicipi hidangan lezat Dhaka kuno di sini.[2]
Buriganga (Bengali: বুড়িগঙ্গা; harfiah: 'Gangga Tua') merupakan sungai di Bangladesh yang mengalir melewati pinggiran barat daya ibu kota, Dhaka. Sungai ini termasuk di antara sungai-sungai paling tercemar di negara ini.[3][4] Buriganga secara ekonomi sangat penting bagi Dhaka. Kapal-kapal dan perahu-perahu desa menyediakan koneksi ke wilayah lain di Bangladesh, yang sebagian besar merupakan negara yang dilalui sungai. Pada abad ke-20, muka air tanah dan sungai tercemar oleh limbah polietilen dan zat berbahaya lainnya dari bangunan-bangunan yang dihancurkan di dekat tepi sungai.[3][4]
Sungai Buriganga termasuk di antara sungai-sungai paling tercemar di negara ini. Limbah kimia dari pabrik dan kilang, limbah rumah tangga, limbah medis, limbah cair, bangkai hewan, plastik, dan minyak merupakan beberapa dari sekian banyak polutan di Buriganga. Kota Dhaka membuang sekitar 4.500 ton limbah padat setiap hari, dan sebagian besar dibuang ke Sungai Buriganga.[5] Menurut Departemen Lingkungan Hidup Bangladesh, 21.600 meter kubik (5,7 juta galon AS) limbah beracun dibuang ke sungai oleh pabrik-pabrik penyamakan kulit setiap hari.[6] Para ahli mengidentifikasi sembilan kawasan industri di dalam dan sekitar ibu kota sebagai sumber utama pencemaran sungai: Tongi, Tejgaon, Hazaribagh, Tarabo, Narayanganj, Savar, Gazipur, Zona Pemrosesan Ekspor Dhaka, dan Ghorashal. Sebagian besar unit industri di kawasan ini tidak memiliki instalasi pengolahan air limbah industri sendiri.[7]
Menurut Otoritas Air dan Limbah Dhaka (WASA), sekitar 12.000 meter kubik (420.000 kaki kubik) air limbah yang belum diolah dibuang ke danau dari kawasan industri Tejgaon, Badda, dan Mohakhali setiap hari. Air limbah tersebut sebagian besar berasal dari pabrik pencucian dan pewarnaan pakaian. Industri tekstil setiap tahun membuang sebanyak 56 juta ton limbah dan 0,5 juta ton lumpur. Limbah juga dibuang ke Sungai Buriganga. Dhaka sangat bergantung pada transportasi sungai untuk barang, termasuk makanan. Sehingga Buriganga menerima jumlah sampah makanan yang sangat tinggi karena bagian buah, sayur, dan ikan yang tidak dapat digunakan atau membusuk dibuang ke sungai..[8]
Menurut R. C. Majumdar, di masa lampau, aliran Sungai Gangga kemungkinan mencapai Teluk Benggala melalui Sungai Dhaleshwari. Sungai Buriganga berasal dari Dhaleshwari di selatan Savar, dekat Dhaka. Ketika Mughal menjadikan Dhaka sebagai ibu kota mereka pada tahun 1610, tepian Sungai Buriganga sudah menjadi lokasi utama untuk perdagangan. Sungai ini juga merupakan sumber air minum utama kota tersebut.[9]