Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Sunan Lawu

Sunan Lawu adalah cerita rakyat yang berkaitan dengan dunia Gaib. Nama Sunan Lawu berasal dari nama Gunung yang menjulang tinggi di sebelah timur wilayah Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Pada malam satu Suro gunung itu sangat ramai dikunjungi para penziarah dari berbagai kota, ada pula yang meminta pertolongan kepada roh penghuni yang biasa mereka sebut Sunan Lawu. Legenda Sunan Lawu berkaitan dengan Sejarah Raja terakhir Kerajaan Majapahit, Raja Brawijaya V.

Wikipedia article
Diperbarui 30 Juni 2020

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Raden Gugur
GelarSunan Lawu
Nasabbin Dyah Singhanegara Wijayakusuma
NisbahDinasti Rajasa
LahirRaden Gugur
Kerajaan Majapahit
Meninggal Kesultanan Demak
Nama lain
  • Sunan Lawu Sepuh
Kebangsaan- Kerajaan Majapahit
- Kesultanan Demak
Keturunan
  • Ki Ageng Hargasanten I
  • Ki Ageng Wonotoro I
  • Rara Alit
Orang tuaDyah Singhanegara Wijayakusuma (ayah)
Dewi Amarawati (ibu)

Susuhunan Lawu atau Sinuhun Lawu merupakan putra bungsu Prabu Brawijaya terakhir dari permaisurinya, Daran Awanti atau Dewi Andharawati.[1] Sebelumnya, Sunan Lawu bernama Raden Gugur. Gelar Sunan merupakan bentuk singkat dari 'susuhunan' yang kata dasarnya yaitu 'suhun' atau 'diangkat di atas kepala', menunjukkan penghormatan yang teramat tinggi. Sedangkan nama Lawu berasal dari nama gunung yang menjulang tinggi di sebelah timur wilayah Karanganyar, Jawa Tengah.[2] Adalah sosok yang keberadaannya sangat penting dalam mitologi Jawa dan begitu dihormati oleh kerajaan-kerajaan Mataram Islam selain Kanjeng Ratu Kidul di Pantai Selatan.

Asal-usul dan kisahnya

Menurut naskah-naskah Jawa-Surakarta, Sunan Lawu merupakan putra Prabu Brawijaya V yang lahir dari permaisuri dan bernama asli Raden Gugur.[3]

Ketika Majapahit dikepung musuh dari Demak, Raden Gugur turut berperang dalam sebuah pertempuran yang akhirnya dimenangkan oleh pihak Demak. Karena menolak ajakan musuh (termasuk Walisongo) untuk merasuk agama Islam, Raden Gugur memilih untuk kabur ke barat dan berdiam di Dukuh Lawu di lereng gunung Mahendra (gunung Lawu). Setelah kehancuran Majapahit tersebut, Raden Gugur yang selalu ingat nasihat-nasihat luhur ayahandanya, menjadi pribadi yang sangat tekun dalam bersemadi dan disiplin melatih diri hingga dapat mencapai moksa. Setelah moksa, Raden Gugur menjadi dewata penguasa gunung tersebut bergelar Susuhunan (Sunan) Lawu.[4]

Menurut Babad Tanah Jawi, pada sekitar abad 18 Sunan Pakubuwono II (pendiri Karaton Surakarta) yang kebingungan setelah istananya di Kartasura berhasil diduduki musuh, dikisahkan menyepi di gunung Lawu dan menjalankan puasa-puasa tertentu. Setelah beberapa hari menjalankan lelaku tersebut, Pakubuwono II ditemui oleh sosok yang digambarkan berbadan sangat besar, memakai kampuh megah bermotif poleng bang bintulu, dan mengaku bernama Sunan Lawu. Di sana, Sunan Lawu merestui Pakubuwono II untuk membangun dinastinya kembali, yang kita kenal sebagai Keraton Surakarta sekarang. [4]

Di lain waktu, Pangeran Sambernyawa yang sedang bertempur memperjuangkan kedaulatannya melawan Belanda dan paman-pamannya sendiri, juga diceritakan sempat menyepi di gunung Lawu. Saat itu, Pangeran Sambernyawa bersama ketiga abdinya menahan/mengurangi tidur dan makan selama 7 hari 7 malam. Puncaknya—kabut muncul secara tak wajar hingga matahari sama sekali tak terlihat, Pangeran Sambernyawa ditemui Sunan Lawu dan diberi 2 pusaka berbentuk bendera bernama "Kyai Dhudha" dan tambur bernama "Kyai Slamet". Kedua pusaka inilah yang hingga sekarang menjadi pusaka utama Kadipaten Mangkunagaran yang berhasil didirikan oleh Pangeran Sambernyawa. Adapun tempat Pangeran Sambernyawa (Mangkunagara I) menerima anugerah pusaka dari Sunan Lawu tersebut, adalah di bukit Mangadeg. Tempat di mana Beliau dimakamkan sesuai wasiatnya sendiri.[5]

Serat Pustakaraja Purwa menyebut, sebelum Raden Gugur menguasai gunung Lawu, gunung tersebut adalah tempat bertahtanya Sri Maharaja Dewa Buda yang tak lain adalah Bathara Guru yang mengejawantah.

Referensi

  1. ↑ Padmosoesastro, author (1902). "Sajarah Dalem Pangiwa lan Panengen" (dalam bahasa Javanese). Diakses tanggal 2024-12-08. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  2. ↑ Raharjanti, Daniel Maryanto, Liestyaning. Cerita Rakyat Dari Karanganyar. Grasindo. ISBN 9789790811683. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  3. ↑ Anonim, Author (1865). Babad Pajajaran Dumugi Demak. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. 1 2 Van Dorp, Author (1923). Babad Tanah Jawi. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ↑ Hardjono, Marto (1912). Kulapratama. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Daftar pustaka

  • Adam, Lucien (2021). "Gunung Keramat Lawu dan Wilis, Masa Klasik Madiun Raya dalam Kacamata Arkeologi dan Sejarah". Dalam Reinhart, Christopher (ed.). Antara Lawu dan Wilis (dalam bahasa Indonesia). Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 978-602-481-644-5. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Ikon rintisan

Artikel bertopik mitologi, mitos, atau legenda ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Asal-usul dan kisahnya
  2. Referensi
  3. Daftar pustaka

Artikel Terkait

Gunung Lawu

gunung di Indonesia

Brawijaya

gelar yang dianggap sebagai gelar penguasa Majapahit

Sunan

Duwur Sunan Tembayat atau Sunan Pandanaran II, bupati kedua Semarang Sunan Wilis Sunan Lawu, Raden Gugur, putra Brawijaya-V Orang Sunda memakai "sunan" untuk

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026