Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiSunan Geseng
Artikel Wikipedia

Sunan Geseng

Sunan Geseng, atau sering pula disebut Eyang Cakrajaya/Ki Ageng Cokrojoyo, adalah murid Sunan Kalijaga.

Wikipedia article
Diperbarui 22 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Tulisan tanpa sumber dapat dipertanyakan dan dihapus sewaktu-waktu.
Cari sumber: "Sunan Geseng" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR

Sunan Geseng, atau sering pula disebut Eyang Cakrajaya/Ki Ageng Cokrojoyo, adalah murid Sunan Kalijaga.

Menurut Babad Jalasutra, Ki Cakrajaya juga adalah murid dari R. Wasiwara /Sunan Panggung.

yang dimakamkan di dusun Kutan, Desa Jatirejo, Kecamatan Lendah, Kulonprogo. Makamnya terletak di bukit pinggir sungai Progo. Beberapa orang menganggap antara Ki Cakrajaya dan Sunan Panggung adalah orang yang sama.

Menurut hikayat, pada suatu saat ia mengikuti anjuran Sunan Kalijaga untuk mengasingkan diri di suatu hutan untuk konsentrasi beribadah kepada Allah. Di tengah lelakunya itu, hutan tersebut terbakar, tetapi ia tidak mau menghentikan tapanya, sesuai pesan sang guru untuk jangan memutus ibadah, apapun yang terjadi, sampai sang guru datang menjenguknya. Demikianlah, ketika kebakaran berhenti dan Sunan Kalijaga datang menjenguknya, dia dapati Cakrajaya telah menghitam hangus, meskipun tetap sehat wal afiat. Maka digelarilah ia dengan Sunan Geseng.

Makam Sunan Geseng terletak di Dusun Jolosutro, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Letaknya kira-kira 2 km di sebelah kanan Jalan Yogyakarta-Wonosari Km. 14 (kalau datang dari Yogyakarta). Setiap tahun ada perayaan dari warga setempat untuk menghormati Sunan Geseng. Selain di dekat Pantai Parangtritis, Jogjakarta, makam Sunan Geseng juga dipercaya terdapat di sebuah desa yang bernama Desa Tirto, di kaki Gunung Andong-dekat Gungung Telomoyo-secara administratif di bawah Kecamaan Grabag, Kabupaten Magelang Jawa Tengah.

Masyarakat sekitar makam khususnya, dan Grabag pada umumnya, sangat memercayai bahwa makam yang ada di puncak bukit dengan bangunan cungkup dan makam di dalamnya adalah sarean (makam) Sunan Geseng.[butuh rujukan]

Pada Bulan Ramadhan, pada hari ke-20 malam masyarakat banyak yang berkumpul di sekitar makam untuk bermunajat. Selain itu, di Desa Kleteran (terletak di bawah Desa Tirt) juga terdapat sebuah Pondok Pesantren yang dinamai Ponpes Sunan Geseng.[butuh rujukan]

Ada sebuah makam yang konon juga makam Sunan Geseng, tepatnya dihutan di atas bukit kapur kurang lebih 10 km disebelah timur kota tuban jawa timur, yang konon juga sunan geseng bertapa di sana sampai akhirnya hutan tersebut terbakar habis, dan pada saat beliau wafat beliau dimakamkan disana, karena di dusun geseng tersebut terdapat sebuah makam yang di atasnya terdapat batu nisan, dan banyak di ziarahi orang, dan dari situlah para peziarah yang pada umumnya berziarah di makam sunan Bonang di tuban, atau di makam Syeh Maulana Ibrahim Asmoro Qondi, selalu menyempatkan untuk berziarah ke makam Sunan Geseng tersebut.

Masjid Sunan Geseng terdapat di Bagelen, Purworejo. Beberapa cerita rakyat menyebutkan bahwa setelah lulus menjadi wali, Sunan Geseng kembali ke Purworejo. Dalam perjalanannya melewati Pegunungan Menoreh, salah satunya adalah di daerah Teganing, dekat Waduk Sermo. Beliau meninggalkan jejak "batur" atau pondasi calon pondok pesantren yang sedianya akan ia bangun.[1]

Sang Prabu juga berguru ilmu kesempurnaan pada SUNAN GESENG, sampai pada tingkat penguasaan yang tinggi atas segala galanya (jawa : widagdo waskitho ing samudayanipun) Sunan Geseng juga menguasai ilmu Ajian Cokro Joyo yang merupakan warisan doa atau hijib dari Sunan Bonang yang digunakan untuk menghancurkan hal-hal negatif gaib dan pernah digunakan Sunan Bonang. Atas jasanya, SUNAN GESENG kemudian dianugerahi sebidang tanah jabatan (jawa : lenggah siti) dengan nama KYAI AGENG JOLOSUTRO, yang membuat semakin tenar namanya hingga wafatnya.[1]

Dalam Hikayat disebutkan Setelah SINUWUN ANYAKRAWATI wafat, maka kedudukannya digantikan oleh putranya RADEN MAS JATMIKA, dengan gelar KANGJENG SINUWUN SULTAN AGUNG HANYOKROKUSUMO, bertahta pada tahun 1613 sampai dengan tahun 1645.[1]

Lalu salah satu keturunan Raden Mas Cokrojoyo yaitu R.T. Nasuto (R. Ng. Wirosuto) akan menikahi B.R.Ayu Danuredja, Kartosuro/B.R.Ay Tungle salah satu putri Amangkurat Agung I (Raja Ke-4 Mataram) dan lahir R.M. Kertojudo, dari sini mulai banyak tersebar keturunan dari Raden Mas Cokrojoyo, yang nantinya tersebar di berbagai daerah, terutama jawa tengah

Referensi

  1. 1 2 3 "Trah Panembahan Wongsopati Ing Klero". Diakses tanggal 2025-08-27.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Referensi
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026