Sumpit atau sumpitan adalah senjata yang digunakan untuk berburu maupun dalam pertempuran terbuka atau sebagai senjata rahasia untuk pembunuhan diam diam. Sumpit biasanya berbentuk tabung yang memungkinkan panah kecil yang ditembak melesat ke sasaran dan digunakan dengan cara ditiup.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Sumpit atau sumpitan (bahasa di Kalimantan Tengah: sipet) adalah senjata yang digunakan untuk berburu maupun dalam pertempuran terbuka atau sebagai senjata rahasia untuk pembunuhan diam diam. Sumpit biasanya berbentuk tabung yang memungkinkan panah kecil yang ditembak melesat ke sasaran dan digunakan dengan cara ditiup.
Dari segi penggunaannya sumpit memiliki keunggulan tersendiri karena dapat digunakan sebagai senjata jarak jauh dan tidak merusak alam karena bahan pembuatannya yang alami, dan salah satu kelebihan dari sumpit adalah memiliki akurasi tembak yang dapat mencapai 200 meter.[1]

Banyak masyarakat adat memiliki sumpit misalnya di suku Dayak Indonesia dan suku suku pribumi di Amerika Selatan.[butuh rujukan]
Di Jepang, Sumpit disebut fukiya digunakan samurai digunakan sebagai senjata untuk mematikan musuh yang anak sumpitnya diracuni dengan racun dari ikan buntal.[butuh rujukan]
Pada zaman penjajahan di Kalimantan dahulu kala, serdadu Belanda bersenjatakan senapan dengan teknologi mutakhir pada masanya, sementara prajurit Dayak umumnya hanya mengandalkan sumpit. Akan tetapi, serdadu Belanda lebih takut terkena anak sumpit ketimbang prajurit Dayak diterjang peluru. Hal yang membuat pihak penjajah gentar adalah anak sumpit yang beracun. Hal ini dikarenakan sebelum berangkat berperang, prajurit Dayak mengolesi mata anak sumpit dengan getah pohon ipuh atau pohon iren. Dalam suasana senyap, mereka melepaskan anak sumpit yang disebut damek.[butuh rujukan]
Sumpit tradisional terdiri tabung bambu atau kayu yang panjangnya 1–3 m, Sumpit dilengkapi dengan anak sumpit dengan bentuk bulat kira-kira diameternya kurang dari 1 cm. Anak sumpit (damek) dapat terbuat dari bambu yang salah satu ujungnya berbentuk seperti kerucut yang terbuat dari kayu yang massanya ringan (dari kayu pelawi). Ini berfungsi supaya anak sumpit dapat melesat dengan lurus atau sebagai penyeimbang saat lepas dari buluh. Sedangkan ujung yang lain runcing dan biasanya diberi racun yang sangat mematikan binatang buruan. Racun terbuat dari getah tumbuh-tumbuhan hutan dan sampai saat ini masih belum ada penawar racunnya.[2] Sumpit digunakan dengan cara ditiup. Kuat tidaknya napas penyumpit akan menentukan sejauh mana jarak anak sumpit dapat melesat ke sasarannya

Bagian pangkal sumpit biasanya lebih besar dan pada bagian inilah anak sumpit dimasukkan lalu ditiup. Antara Buluh sumpit dan anak sumpit memiliki ketergantungan yang tinggi (saling mendukung). Walaupun buluhnya bagus tetapi anak sumpit dibuat sembarangan maka hasilnya juga kurang memuaskan serta sebaliknya. Artinya kedua saling beperan penting dalam ketepatan mengenai sasaran/mangsa walaupun juga napas penyumpit serta kemahiran juga sangat berperan penting di sini.
Untuk mencapai sasaran yang tepat dan kuat bernapas, panjang sumpit harus sesuai dengan tinggi badan orang yang menggunakannya, Bagian yang paling penting dari sumpitan, selain batang sumpit, yaitu pelurunya atau anak sumpitnya yang disebut damek. Ujung anak sumpit runcing, sedang bagian pangkal belakang ada semacam gabus dan sejenis dahan pohon agar anak sumpit melayang saat menuju sasaran. Racun damek oleh etnis Dayak Lundayeh disebut parir. Racun yang sangat mematikan ini merupakan campuran dari berbagai getah pohon, ramuan tumbuhan serta bisa binatang seperti ular. anak sumit ada bermacam-macam bentuk, salah satunya adalah Langan Adang (Peluru Terbang) anak sumpit yang satu ini digunakan untuk menyumpit buruan yang jaraknya jauh atau tinggi, bentuknya pun unik dengan daun sang di bagian belakang anak sumpit,,,daya jelajah anak sumpit ini lumayan jauh bisa mencapai antara 50 dan 70 meter. kalajengking.[3]

Fungsi sumpit bukan lagi untuk berburu atau untuk berperang melainkan diperlombakan pada olahraga-olahraga daerah dan menjadi nomor olahraga yang diperhitungkan pada setiap pertandingan yang selenggarakan di daerah. Olahraga sumpit tidak jauh berbeda dengan olahraga yang lainnya seperti olahraga tembak atau olahraga panah. Biasanya untuk sasarannya dibuat lingkaran dari karton atau kertas. Peserta lomba berlomba-lomba untuk mengenai lingkaran yang telah dibuat dengan jarak yang telah ditentukan oleh panitia lomba.[butuh rujukan]
Di Jepang olahraga sumpit dibina oleh International Fukiyado Association (IFA).[butuh rujukan]
Dalam proses pembuatan sumpit dilakukan dengan dua cara. Cara pertama adalah tergantung keterampilan tangan dari sang pembuat. Cara kedua, yaitu dengan menggunakan tenaga dari alam dengan memanfaatkan kekuatan arus air riam yang dibuat menjadi semacam kincir penumbuk padi.[butuh rujukan] Harga jual sumpit telah ditentukan oleh hukum adat, yaitu sebesar jipen ije atau due halamaung taheta.[butuh rujukan]
Menurut kepercayaan suku Dayak, sumpit tidak boleh digunakan untuk membunuh sesama. Sumpit hanya dapat dipergunakan untuk keperluan sehari-hari, seperti berburu. Sipet tidak diperkenankan atau pantang diinjak-injak apalagi dipotong dengan parang karena jika hal tersebut dilakukan artinya melanggar hukum adat, yang dapat mengakibatkan pelakunya akan dituntut dalam rapat adat.[butuh rujukan]