Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Atmaja dari Kasepuhan

Atmaja menggantikan Sultan Sepuh Jayawikarta sebagai penguasa kesultanan Kasepuhan pada tahun 1880 dengan gelar Sultan Sepuh Atmaja Rajaningrat

Wikipedia article
Diperbarui 19 Juni 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Atmaja menggantikan Sultan Sepuh Jayawikarta sebagai penguasa kesultanan Kasepuhan pada tahun 1880 dengan gelar Sultan Sepuh Atmaja Rajaningrat

Sultan Sepuh
Atmaja Rajaningrat
Ke-12
Masa jabatan
1880 – ?
Sebelum
Pendahulu
Sultan Sepuh Jayawikarta
Pengganti
Sultan Sepuh Aluda
Sebelum
Informasi pribadi
KebangsaanCirebon - Kasepuhan
Suami/istriRatu Ayu Adimah
Anak-
Orang tua-
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Bantuan penggunaan templat ini

Kesenian di Kasepuhan kemudian pertumbuhannya mulai baik , ialah ketika keraton Kasepuhan dipimpin oleh Sultan Sepuh Atmaja ( 1880 - 1885[1])[2]

Hubungan dengan Syekh Trusmi

Artikel utama: Geger Cilegon 1888

Pada tahun 1872 - 1876 Syekh Abdul Karim berdakwah di Banten, pada tahun 1876 beliau ditunjuk sebagai pengganti syekh Chatib Sambas pemimpin tertinggi tarekat Qadiriyah di Mekah. Syekh Chatib Sambas juga merupakan guru dari syekh Tolhah dari Trusmi, Cirebon[3]

Pada tahun 1883 gunung Krakatau meletus, penduduk Anyer yang selamat mengungsi ke Cilegon[4]

Pada tahun 1885 di Banten terjadi peristiwa penyakit ternak yang menyerang kerbau, Belanda memerintahkan agar menembaki kerbau-kerbau jika di antara kawanan itu terdapat kerbau yang sakit[4]

Pada 18 November 1887, ditengah bencana akibat meletusnya gunung Krakatau dan wabah penyakit ternak, Belanda kemudian menyinggung rasa keagamaan masyarakat Banten dengan membawa seorang seorang ulama Banten yang bernama Wasid dan mendendanya sebesar 7.5 Gulden atau 3 ringgit akibat perbuatannya memotong pohon keramat pada suatu lahan yang dijadikan sebagai tempat sesajen dikarenakan masyarakat percaya jika menaruh sesajen pada pohon tersebut maka bencana yang terjadi dapat segera hilang. Denda yang dijatuhkan kepada Kyai Wasid dikarenakan pemilik lahan yang merasa diuntungkan dengan adanya pemujaan pohon keramat tersebut melaporkan kerugian yang diakibatkan dari rusaknya pohon tersebut, kyai Wasid lantas dilaporkan dengan tuduhan memasuki lahan milik orang lain tanpa izin dan merusak pohoh milik orang lain,[4] setelah ini ada pula perintah larangan azan dengan suara keras di menara masjid, akibatnya para ulama Banten mengadakan perlawanan kepada Belanda.

Pada 9 Juli 1888 para ulama memulai serangannya, pertama yang diserang adalah rumah juru tulis asisten residen Banten yang bernama Henri Francois Dumas[5]

Terlibatnya murid-murid dari syekh Abdul Karim di Banten pada peristiwa Geger Cilegon membuat syekh Tolhah yang merupakan satu perguruan dengan syekh Abdul Karim dicurigai dan dimata-matai oleh Belanda, syekh Tolhan kemudian dimasukan ke dalam penjara dan kemudian dilepaskan karena tidak cukup bukti. Pada masa sebelumnya syekh Abdul Karim lah yang menunjuk dirinya sebagai khalifah bagian timur jawa barat. Pada tahun 1876 setelah belajar agama Islam dibawah bimbingan syekh Chatib Sambas di Mekah, beliau ditunjuk sebagai khalifah tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyyah di Cirebon setelah kepulangannya.[3]

Syekh Tolhah di Trusmi kemudian bergerak dengan mengatasnamakan tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyyah untuk menghindari konflik, di Trusmi syekh Tolhah juga menjaga hubungan baik dengan Sultan Sepuh Atmaja Rajaningrat yang kemudian menetapkan beliau sebagai penasehat pribadi sultan.[3]

Pada tahun 1935 syekh Tolhah wafat, beliau kemudian dikebumikan di pemakaman Astana Gunung Jati.[6]

Referensi

  1. ↑ List of Monarch of Java
  2. ↑ Rusliana, Iyus. 2002. Wayang wong Priangan : kajian mengenai pertunjukan dramatari tradisional di Jawa Barat. Bandung : Kiblat Buku Utama
  3. 1 2 3 Mulyati. Sri. 2010. Peran Edukasi Tarekat Qadariyyah Naqsabandiyyah Dengan Referensi Utama Suryalaya. Jakarta : Prenada Media
  4. 1 2 3 Hamka, Buya. 2020. Kisah Hamka Soal Pemberontakan Petani Banten Tahun 1888. Jakarta : Republika
  5. ↑ Isnaeni, Hendri F. 2016. Jalannya Pemberontakan Petani Banten 1888. Jakarta : Historia
  6. ↑ Millie, Julian Patrick. 2006. Splashed by the Saint: Ritual Reading and Islamic Sanctity in West Java. Leiden : University of Leiden

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Hubungan dengan Syekh Trusmi
  2. Referensi

Artikel Terkait

Kesultanan Kasepuhan

kesultanan di Jawa

Aluda dari Kasepuhan

tahun 1979 Kesenian di Kasepuhan kemudian pertumbuhannya mulai baik ketika keraton Kasepuhan dipimpin oleh Sultan Sepuh Atmaja ( 1880 - 1899 ) dan Sultan

Jayawikarta dari Kasepuhan

Satria Pengganti Sultan Sepuh Atmaja Informasi pribadi Meninggal Cirebon, Hindia Belanda Kebangsaan Cirebon - Kasepuhan Orang tua Sultan Sepuh Sulaeman

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026