Suleiman Nabulsi adalah seorang tokoh politik sayap kiri Yordania yang menjabat sebagai Perdana Menteri Yordania ke-12 pada tahun 1956–1957.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Suleiman Nabulsi | |
|---|---|
Suleiman Nabulsi dalam studinya | |
| Perdana Menteri Yordania ke-12 | |
| Masa jabatan 29 Oktober 1956 – 13 April 1957 | |
| Penguasa monarki | Hussein |
| Menteri Keuangan Yordania | |
| Masa jabatan 1947–1947 | |
| Penguasa monarki | Hussein |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 1908 (1908) Salt, Provinsi Damaskus, Kekaisaran Ottoman |
| Meninggal | 14 Oktober 1976(1976-10-14) (umur 67–68) Amman, Jordan |
| Kebangsaan | Yordania |
| Partai politik | Partai Nasional Sosialis |
Suleiman Nabulsi (Arab: سليمان النابلسيcode: ar is deprecated ;– 14 Oktober 1976)[1] adalah seorang tokoh politik sayap kiri Yordania yang menjabat sebagai Perdana Menteri Yordania ke-12 pada tahun 1956–1957.
Kemenangan Partai Sosialis Nasional pimpinan Nabulsi dalam pemilihan umum Yordania pada Oktober 1956, di mana mereka berhasil meraih 16 dari 40 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat, menjadi tonggak sejarah. Setelah kemenangan ini, Raja Hussein menunjuk Nabulsi sebagai perdana menteri, memimpin pembentukan pemerintahan terpilih pertama yang pernah ada di Yordania.
Masa jabatan Perdana Menteri Nabulsi tidak berlangsung lama karena kebijakannya sering bertentangan langsung dengan visi Raja Hussein. Konflik utama adalah mengenai kebijakan luar negeri: Nabulsi berupaya membawa Yordania lebih dekat kepada Mesir di bawah Gamal Abdel Nasser, sementara Raja Hussein bersikeras agar Yordania tetap mempertahankan aliansi dengan negara-negara Barat. Ketegangan antara monarki dan kabinet sayap kiri tersebut mencapai puncaknya setelah Nabulsi menyerahkan daftar yang lebih ekstensif berisi perwira militer yang ingin ia berhentikan. Akibat dari perselisihan ini, ditambah dengan tuduhan adanya upaya kudeta terhadap Raja Hussein, Nabulsi akhirnya dipaksa mengundurkan diri pada April 1957.
Nabulsi lahir di Salt, Yordania pada tahun 1908, ketika wilayah tersebut masih di bawah kekuasaan Ottoman.[2] Leluhur keluarga Nabulsi awalnya berasal dari Arab Suriah tengah dan bertugas dalam unit sipahi (kavaleri elit Ottoman) yang dikirim dalam ekspedisi tahun 1657 untuk menempatkan Jabal Nablus di bawah kendali pusat Ottoman. Keluarga tersebut kemudian menetap di Nablus, dan dengan cepat berasimilasi ke dalam kelas pedagang di kota itu, sehingga mereka mendapatkan nama keluarga Nabulsi, yang secara harfiah berarti "dari Nablus."
Suleiman Nabulsi menyelesaikan studi sarjana di bidang hukum dan studi sosial dari Universitas Amerika di Beirut pada awal tahun 1930-an.[2] Setelah lulus, ia mengajar sebentar di Karak di mana ia berhasil membangkitkan sentimen persatuan Arab dan memimpin demonstrasi pertama di kota itu yang mengecam Deklarasi Balfour. Karena tindakan ini, otoritas Inggris memindahkannya ke sekolah menengah di Salt, kota asalnya.[3] Pada tahun 1932, ia pindah keAmman.[4] Nabulsi kemudian memulai karier di pegawai negeri dan naik jabatan menjadi direktur Bank Pertanian milik negara, posisi yang ia pegang hingga tahun 1946. [2] Pada tahun 1945, ia dituduh oleh otoritas Inggris menghasut perlawanan di Yerusalem terhadap konsesi yang diberikan kepada sebuah perusahaan Yahudi. Saat kembali ke Yordania, ia ditangkap di Jembatan Allenby dan kemudian diasingkan secara paksa ke Shoubak di Yordania selatan.[4]

Suleiman Nabulsi memulai karier menteri pertamanya sebagai Menteri Keuangan pada tahun 1947, dan kembali menjabat posisi itu dari 1950 hingga 1951.[5] Meskipun ia dipenjara selama sembilan bulan di Penjara Amman karena mengkritik perjanjian Inggris-Yordania tahun 1948 dalam sebuah artikel, oposisinya ini tidak menghentikan kemajuan politiknya, seperti halnya banyak politisi lain saat itu.[4] Faktanya, ketika ia kembali menjadi menteri keuangan pada tahun 1950, Raja Abdullah menganugerahinya gelar "Pasha."[6] Pada tahun 1953, Nabulsi diangkat sebagai Duta Besar Yordania untuk Inggris, sebuah jabatan yang dipegangnya hingga ia kembali ke Amman dari London pada tahun 1954. Pengalamannya di London memperkuat keyakinannya, menjadikannya seorang nasionalis Arab dan anti-Zionis yang gigih. Pandangan nasionalisnya yang kuat membuatnya berselisih dengan Raja Hussein yang kemudian mengasingkannya dari Amman ke kota provinsi. Pada masa inilah ia mendirikan dan terpilih sebagai pemimpin Partai Sosialis Nasional (PSN).[2] Berkat aktivismenya, ia dengan cepat dihormati oleh para pendukungnya sebagai Za'im al-Watani ("Pemimpin Nasionalis").[7] Pada bulan Juli 1956, Nabulsi secara terbuka memuji Gamal Abdel Nasser atas nasionalisasi Terusan Suez di Mesir, sekaligus menyoroti pentingnya kepemimpinan Nasser bagi dunia Arab.[8]
Nabulsi menggabungkan partainya ke dalam sebuah aliansi pemilu yang dikenal sebagai Front Nasional (FN), bersama dengan Cabang Regional Yordania dari Partai Ba'ath dan Partai Komunis Yordania. Tujuan utama FN adalah:
Dalam pemilihan parlemen Yordania yang beranggotakan 40 kursi, FN tidak berhasil meraih mayoritas, meskipun ada dugaan kecurangan pemilu oleh pihak yang bersekutu dengan Raja Hussein. Namun, mereka tetap memenangkan dua belas kursi, menjadikannya blok terbesar di parlemen. Sebagai pemimpin FN, Nabulsi menggunakan pengaruhnya untuk mencapai dua kemenangan politik penting:


Dalam pemilihan parlemen pada Oktober 1956, Front Nasional (FN) berhasil memenangkan 16 kursi. Sebagai pemimpin blok mayoritas, Nabulsi diminta oleh Raja Hussein untuk membentuk pemerintahan, dan dengan demikian ia menjadi Perdana Menteri Yordania.
Salah satu tindakan pertamanya adalah menggabungkan Legiun Arab dengan Garda Nasional (yang sebagian besar terdiri dari warga Palestina), membentuk Tentara Yordania dengan total kekuatan 35.000 tentara.[2] Dua hari setelah Nabulsi menjabat, Mesir diserbu oleh aliansi tiga pihak yang terdiri dari Inggris, Prancis, dan Israel(Krisis Suez). Meskipun Raja Hussein awalnya marah dan mendukung pengiriman bantuan militer ke Mesir, Nabulsi meminta untuk menunda keputusan tersebut sambil menunggu perkembangan invasi. Pada akhirnya, Raja Hussein setuju untuk tidak memberikan bantuan militer.[10] Konflik tersebut berakhir dengan kemenangan politik bagi Mesir dan penarikan pasukan koalisi dari Suez. Yordania tidak ikut campur dalam konflik tersebut karena sikap kehati-hatian yang diambil oleh Perdana Menteri Nabulsi.[11]
Sebagai Perdana Menteri, Nabulsi mengambil langkah signifikan dengan memutuskan untuk membangun hubungan diplomatik dengan Uni Soviet dan mengizinkan Partai Komunis menerbitkan surat kabar mingguan.[2] Namun, tindakan ini mendapat tentangan keras dari Raja Hussein. Pada tanggal 2 Februari 1957, Raja menyampaikan teguran publik kepada Nabulsi melalui pidato, menegaskan bahwa ia ingin Yordania "tidak dapat diakses oleh propaganda Komunis dan teori Bolshevik." Menanggapi keberatan Raja Hussein, Nabulsi kemudian memerintahkan pelarangan publikasi surat kabar Partai Komunis tersebut.[2] Nabulsi juga dikenal sebagai pengagum Gamal Abdel Nasser dan mengajukan usulan agar Yordania bergabung dalam federasi Arab bersama Mesir dan Suriah.[12] Tujuan dari langkah ini adalah untuk mengecilkan peran Raja Hussein menjadi figur seremonial saja.