Suku Korowai (Koroway) atau Kolufo-yanop adalah suku di pedalaman Papua Pegunungan dan Papua Selatan, Indonesia dan populasi sekitar 3.000 orang. Suku ini hidup di rumah yang dibangun di atas pohon dengan ketinggian 4,5–9 meter yang disebut khaim (xaim).
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kolufo-yanop, Klufo-fyumanop | |
|---|---|
| Jumlah populasi | |
| 3.000 | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
| Bahasa | |
| Korowai (Klufo-auf), Indonesia | |
| Agama | |
| Kristen, Animisme, Dinamisme, Totemisme | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Kombai, Awyu, Momuna |

Suku Korowai (Koroway) atau Kolufo-yanop (Klufo, Karufo, Klufwo) adalah suku di pedalaman Papua Pegunungan dan Papua Selatan, Indonesia dan populasi sekitar 3.000 orang. Suku ini hidup di rumah yang dibangun di atas pohon dengan ketinggian 4,5–9 meter yang disebut khaim (xaim).[1][2]
Nama korowai merupakan pelafalan dari orang Belanda dari nama aslinya kolufo dengan variasi ejaan klufo, klufwo, atau karufo yang berarti "orang". Nama lengkapnya adalah klufo fyumanop atau kolufo yanop artinya "orang yang biasa berjalan kaki" untuk membedakan dengan suku Citak dan Mitak yang biasa menggunakan sampan. Orang luar membagi suku Korowai menjadi dua; Korowai Batu, yaitu kelompok yang masih menggunakan peralatan tradisional dari batu dan Korowai Besi, yang sudah menggunakan peralatan dari besi.[3]
Suku Korowai memiliki beberapa bahasa atau dialek yang kebanyakan merupakan anggota rumpun bahasa Sungai Digul (Papua tenggara) atau dalam klasifikasi lama disebut Awyu-Dumut dan merupakan bagian dari filum Trans-Nugini. Kata auf (aup) berarti "bahasa" sehingga klufo-auf berarti bahasa Korowai.

Suku Korowai memiliki pembagian tugas sama seperti Suku Kombai. Kaum pria bertugas menebang pohon dan pergi ke hutan untuk berburu, mulai dari kus-kus, babi hutan hingga burung kasuari. Sementara itu kaum wanita dari suku ini bertugas mengasuh anak dan mencari sagu. Ciri khas dari kaum wanita suku ini adalah mereka biasa memakai rok pendek yang bahannya didapatkan dari kayu dan serat sagu.[10]

Perempuan suku Korowai menggunakan rok rumput yang disebut sekh yang dibuat dari dedaunan sagu atau cawat dari sagu kering disebut lamip. Laki-laki umumnya menggunakan daun sagu untuk menutup kemaluan mereka disebut denoptabul atau dutamon, walau dalam acara tradisional mereka bisa menggunakan mbayap atau khawisip (koteka) dari paruh burung khawil (Julang papua). Selain itu mereka juga menggunakan lilitan rotan yang disebut lonoptabul. Perhiasan lain berupa kalung dari taring babi (basam), taring babi juga digunakan pada hidung (lekh). Selain itu suku Korowai juga membakar kulitnya untuk membuat luka bakar sebagai dekorasi pada kulit yang disebut nggawalun, sebuah tradisi yang jarang ditemukan di suku sekitarnya.[11]
Beberapa jabatan atau pemangku dalam adat Korowai adalah:[12]

Mayoritas orang Korowai tinggal pada wilayah adat yang dibagi menjadi wilayah klan (lamol) atau Bolup. Dalam satu wilayah bisa terdapat dua klan, dalam situasi ini, kedua nama klan tersebut digabungkan menjadi nama wilayah adat tersebut. Pembagian wilayah tersebut berdasarkan keputusan leluhur (mbolombolop), tradisi rakyat (wakhatum), dan cerita totem (laibolekha mahuon). [13]
Dalam pembagiannya hutan dulobul, terdapat:[12]
Orang-orang Korowai awalnya tinggal di rumah pohon di wilayah klan mereka. Namun sejak tahun 1980 sebagian telah pindah ke desa-desa (khambom dari kampung, atau kelaja dari kerja). Dalam satu kampung bisa juga ada suku lainnya, walau terbagi menjadi RT antar suku. Kampung Yaniruma di tepi Sungai Becking dan Yafufla (1988, suku Korowai-Kombai), Kampung Basman (suku Korowai-Citak). Sedangkan Manggél di tepi Sungai Becking (1988), Mabül di tepi Sungai Pulau (1989), dan Khaiflambolüp (1998) merupakan kampung Korowai saja.[14][13]

Serupa dengan tetangga mereka suku Kombai di Kabupaten Mappi dan juga suku Momuna di Kabupaten Yahukimo, orang Korowai membangun rumah pada pohon yang memiliki tinggi hingga 30 meter yang disebut luop, walau pada umumnya rumah untuk tempat tinggal memiliki tinggi 8-10 meter.[11] Rumah pohon ini disebut khaim (xaim), dan dalam satu bukaan hutan terdapat 2 hingga 3 rumah. Rumah ini biasanya bertahan lima tahun, walaupun atapnya akan terus memerlukan perawatan. Rumah yang ditinggalkan bisa digunakan untuk meninggalkan jenazah, walau pada umumnya dikubur di dekat atau di bawah rumah pohon.[15]
Terbuat dari pohon banyan (baul) atau pohon matoa (wambon) yang dahannya dipotong sebagai pilar tengah (khokul). Lalu lantai dibangun dengan dukungan 4-10 tiang (khaim-fenop) dari batang pohon. Lubang untuk tiang ini ditutup dahulu menggunakan rumput khakhlakh. Ini dipercaya untuk mencegah masuknya setan (laleo) atau dukun laki-laki (khakhua) masuk kedalam rumah melalui tiang.[15]

Lantai (bulan) dibuat menggunakan batang horizontal, strukturnya menggunakan terdapat balok melintang (dil), dan balok paling bawah (lal). Bagian atasnya dilapisi kulit kayu (khal) dari pohon nibung (betel) atau pohon dal. Akses menuju rumah menggunakan tangga yang terbuat dari tiang kayu yang bertakuk sebagai pijakan disebut yafin, yang diikat pada ujung bulan dan beranda lambiakh dengan rotan.[15]
Dinding (damon) terbuat dari tangkai/batang daun sagu yang diikat membentuk dinding depan dan belakang (bon-damon) dan dinding samping (leam-damon). Atap rumah (lel) dibuat menggunakan daun sagu membentuk dua tembereng dengan sudut bentangan 70 derajat.[15]
Setelah suku Korowai mulai tinggal di kampung-kampung, rumah yang dihuni merupakan rumah panggung yang disebut khau (xaum). Struktur rumah ini dibangun diatas tiang-tiang setinggi 1,5 m. Lantainya (bulan) berbentuk persegi panjang yang dibagi menjadi tiga ruangan. Lantai tersebut dilapisi dari kulit kayu pohon nibung atau akar udara (makhil). Kerangka rumah ini terbuat dari potongan kayu (dongop), dan dinding rumah dibuat dari gaba-gaba (bunggul) dan atapnya dibuat dari daun sagu. Pada bagian belakang terdapat pelataran yang terhubung dengan rumah yang digunakan untuk memasak.[15]