Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Suhu swasulut

Suhu swasulut (suhu penyalaan otomatis, temperatur autosulutan, suhu swanyala, ataupun suhu penyalaan sendiri dari suatu zat kimia adalah batas suhu terendah zat tersebut akan terbakar di atmosfer normal tanpa adanya sumber pembakaran dari luar, seperti api dsb. Pada suhu ini, sebagian besar energi kinetik gas telah mencapai energi aktivasi dari reaksi pembakaran. Suhu swasulut pada keadaan non-atmosfer turun jika tekanan meningkat atau konsentrasi oksigen meningkat. Hal ini biasanya diterapkan pada campuran bahan bakar.

batas suhu terendah di mana suatu zat dapat menyala dengan sendirinya
Diperbarui 19 Juni 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Suhu swasulut (suhu penyalaan otomatis, temperatur autosulutan, suhu swanyala, ataupun suhu penyalaan sendiri [1] (Bahasa Inggris: autoignition temperature) dari suatu zat kimia adalah batas suhu terendah zat tersebut akan terbakar di atmosfer normal tanpa adanya sumber pembakaran dari luar, seperti api dsb. Pada suhu ini, sebagian besar energi kinetik gas telah mencapai energi aktivasi dari reaksi pembakaran. Suhu swasulut pada keadaan non-atmosfer turun jika tekanan meningkat atau konsentrasi oksigen meningkat. Hal ini biasanya diterapkan pada campuran bahan bakar.

Suhu swasulut bahan kimia cair biasanya diukur menggunakan labu kimia berukuran 500 mililiter yang diletakkan pada pemanas (yang suhunya dapat diatur) sesuai dengan prosedur yang dijelaskan dalam ASTM E659.[2]

Persamaan swasulut

Waktu t i g {\displaystyle t_{ig}\,} {\displaystyle t_{ig}\,} yang dibutuhkan suatu bahan untuk mencapai suhu swasulut T i g {\displaystyle T_{ig}\,} {\displaystyle T_{ig}\,} jika diekspos pada suatu aliran panas q ″ {\displaystyle q''\,} {\displaystyle q''\,} dihitung menurut persamaan berikut

t i g = ( π 4 ) ( k ρ c ) [ T i g − T o q ″ ] 2 {\displaystyle t_{ig}=\left({\frac {\pi }{4}}\right)\left(k\rho c\right)\left[{\frac {T_{ig}-T_{o}}{q''}}\right]^{2}} {\displaystyle t_{ig}=\left({\frac {\pi }{4}}\right)\left(k\rho c\right)\left[{\frac {T_{ig}-T_{o}}{q''}}\right]^{2}}[3]

di manak = konduktivitas termal (W/(m·K)), ρ = densitas (kg/m³), dan c = kapasitas panas spesifik (J/(kg·K)) dari bahan tersebut. T o {\displaystyle T_{o}\,} {\displaystyle T_{o}\,} adalah suhu, dalam satuan Kelvin, suhu awal bahan (atau suhu bahan bulk), dan q ″ {\displaystyle q''\,} {\displaystyle q''\,} adalah heat flux (W/m²) yang dikenakan pada bahan.

Titik swasulut sejumlah bahan

Dalam literatur tercatat variasi suhu yang luas dan hanya dipakai sebagai perkiraan. Faktor-faktor yang menyebabkan variasi ini termasuk tekanan parsial oksigen, ketinggian, kelembapan, dan panjang waktu yang dibutuhkan untuk penyulutan. Umumnya suhu swasulut bagi campuran hidrokarbon/udara turun seiring dengan meningkatkan berat molekul dan bertambahnya panjang rantai. Suhu swasulut juga lebih tinggi pada hidrokarbon berantai cabang daripada hidrokarbon berantai lurus.[4]

BahanTitik swasulut (°C)Titik swasulut (°F)Catatan
Trietilborana−20 °C−4 °F
Silana21 °C70 °Fatau lebih rendah
Fosfor putih34 °C93 °FTersulut ketika bersentuhan dengan bahan organik, kalau tidak, meleleh
Karbon disulfida90 °C194 °F
Dietil eter160 °C320 °F[5]
Diesel atau Jet A-1210 °C410 °F
Bensin (Petrol)247–280 °C477–536 °F[6]
Etanol363 °C685 °F[6]
Butana405 °C761 °F[7]
Kertas218–246 °C424–475 °F[8]
Magnesium473 °C883 °F
Hidrogen536 °C997 °F[9]

Untuk kertas, ada variasi luas antara sumber-sumbernya, terutama karena ada banyak variabel fisika pada berbagai jenis kertas, seperti ketebalan, densitas dan komposisi; lagipula, lebih lama untuk kertas mengalami combustion pada suhu rendah.[10]

Lihat pula

  • Pirolisis
  • Titik nyala

Referensi

  1. ↑ Glosarium Pusat Bahasa[pranala nonaktif permanen]
  2. ↑ Chen, Chan-Cheng; Liaw, Horng-Jang; Shu, Chi-Min; Hsieh, Yen-Cheng (2010-11-11). "Autoignition Temperature Data for Methanol, Ethanol, Propanol, 2-Butanol, 1-Butanol, and 2-Methyl-2,4-pentanediol". Journal of Chemical & Engineering Data. 55 (11): 5059. doi:10.1021/je100619p. ISSN 0021-9568. Moreover, it was believed that in the literature most AITs of liquid chemicals were measured by a now-discontinued procedure of the ASTM D2155 method, which used a 200 mL flask as the ignition container. The now-existing ASTM method of ASTM E659 uses a spherical 500 mL flask instead of a 200 mL one.
  3. ↑ Principles of Fire Behavior. ISBN 0-8273-7732-0. 1998.
  4. ↑ Zabetakis, M.G. (1965), Flammability characteristics of combustible gases and vapours, U.S. Department of Mines, Bulletin 627.
  5. ↑ "Diethyl Ether - Safety Properties". Wolfram|Alpha.
  6. 1 2 Fuels and Chemicals - Autoignition Temperatures, engineeringtoolbox.com
  7. ↑ "Butane - Safety Properties". Wolfram|Alpha.
  8. ↑ Tony Cafe. "Physical Constants for Investigators". Journal of Australian Fire Investigators. (Reproduced from "Firepoint" magazine)
  9. ↑ "Hydrogen - Safety Properties". Wolfram|Alpha.
  10. ↑ Forest Products Laboratory (1964). "Ignition and charring temperatures of wood" (PDF). Forest Service U. S. Department of Agriculture. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2020-02-18. Diakses tanggal 2015-01-05.

Pranala luar

  • Analysis of Effective Thermal Properties of Thermally Thick Materials.
  • Autoignition Temperature of 100 Common Organic Chemical Compounds.
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
  • GND

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Persamaan swasulut
  2. Titik swasulut sejumlah bahan
  3. Lihat pula
  4. Referensi
  5. Pranala luar

Artikel Terkait

Pewarna piroteknik

zat yang ditambahkan pada komposisi piroteknik untuk menghasilkan api berwarna

Minyak bumi

cairan kental yang mudah terbakar

Oksigen

unsur kimia dengan lambang O dan nomor atom 8

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026