Suhu swasulut (suhu penyalaan otomatis, temperatur autosulutan, suhu swanyala, ataupun suhu penyalaan sendiri dari suatu zat kimia adalah batas suhu terendah zat tersebut akan terbakar di atmosfer normal tanpa adanya sumber pembakaran dari luar, seperti api dsb. Pada suhu ini, sebagian besar energi kinetik gas telah mencapai energi aktivasi dari reaksi pembakaran. Suhu swasulut pada keadaan non-atmosfer turun jika tekanan meningkat atau konsentrasi oksigen meningkat. Hal ini biasanya diterapkan pada campuran bahan bakar.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Suhu swasulut (suhu penyalaan otomatis, temperatur autosulutan, suhu swanyala, ataupun suhu penyalaan sendiri [1] (Bahasa Inggris: autoignition temperature) dari suatu zat kimia adalah batas suhu terendah zat tersebut akan terbakar di atmosfer normal tanpa adanya sumber pembakaran dari luar, seperti api dsb. Pada suhu ini, sebagian besar energi kinetik gas telah mencapai energi aktivasi dari reaksi pembakaran. Suhu swasulut pada keadaan non-atmosfer turun jika tekanan meningkat atau konsentrasi oksigen meningkat. Hal ini biasanya diterapkan pada campuran bahan bakar.
Suhu swasulut bahan kimia cair biasanya diukur menggunakan labu kimia berukuran 500 mililiter yang diletakkan pada pemanas (yang suhunya dapat diatur) sesuai dengan prosedur yang dijelaskan dalam ASTM E659.[2]
Waktu yang dibutuhkan suatu bahan untuk mencapai suhu swasulut jika diekspos pada suatu aliran panas dihitung menurut persamaan berikut
di manak = konduktivitas termal (W/(m·K)), ρ = densitas (kg/m³), dan c = kapasitas panas spesifik (J/(kg·K)) dari bahan tersebut. adalah suhu, dalam satuan Kelvin, suhu awal bahan (atau suhu bahan bulk), dan adalah heat flux (W/m²) yang dikenakan pada bahan.
Dalam literatur tercatat variasi suhu yang luas dan hanya dipakai sebagai perkiraan. Faktor-faktor yang menyebabkan variasi ini termasuk tekanan parsial oksigen, ketinggian, kelembapan, dan panjang waktu yang dibutuhkan untuk penyulutan. Umumnya suhu swasulut bagi campuran hidrokarbon/udara turun seiring dengan meningkatkan berat molekul dan bertambahnya panjang rantai. Suhu swasulut juga lebih tinggi pada hidrokarbon berantai cabang daripada hidrokarbon berantai lurus.[4]
| Bahan | Titik swasulut (°C) | Titik swasulut (°F) | Catatan |
|---|---|---|---|
| Trietilborana | −20 °C | −4 °F | |
| Silana | 21 °C | 70 °F | atau lebih rendah |
| Fosfor putih | 34 °C | 93 °F | Tersulut ketika bersentuhan dengan bahan organik, kalau tidak, meleleh |
| Karbon disulfida | 90 °C | 194 °F | |
| Dietil eter | 160 °C | 320 °F[5] | |
| Diesel atau Jet A-1 | 210 °C | 410 °F | |
| Bensin (Petrol) | 247–280 °C | 477–536 °F[6] | |
| Etanol | 363 °C | 685 °F[6] | |
| Butana | 405 °C | 761 °F[7] | |
| Kertas | 218–246 °C | 424–475 °F[8] | |
| Magnesium | 473 °C | 883 °F | |
| Hidrogen | 536 °C | 997 °F[9] |
Untuk kertas, ada variasi luas antara sumber-sumbernya, terutama karena ada banyak variabel fisika pada berbagai jenis kertas, seperti ketebalan, densitas dan komposisi; lagipula, lebih lama untuk kertas mengalami combustion pada suhu rendah.[10]
Moreover, it was believed that in the literature most AITs of liquid chemicals were measured by a now-discontinued procedure of the ASTM D2155 method, which used a 200 mL flask as the ignition container. The now-existing ASTM method of ASTM E659 uses a spherical 500 mL flask instead of a 200 mL one.