Sudjana Kerton adalah seorang pelukis asal Indonesia. Tempat tinggal Sudjana Kerton terletak di Dago Pakar, Kota Bandung. Masa mudanya dilalui pada masa transisi politik negara dari Hindia Belanda menjadi Republik Indonesia yang merdeka. Karena itu, lukisan Kerton menunjukkan era revolusioner Indonesia. Dia adalah seorang seniman dari sebuah generasi yang sadar global, politik aktif, dan sangat terlibat dengan pertanyaan estetika dan formal. Kerton diakui sebagai salah satu seniman Indonesia yang paling asli dan kontroversial.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Sudjana Kerton | |
|---|---|
| Lahir | Sudjana Kerton |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Pekerjaan | Pelukis |
| Situs web | http://www.kertonart.com |
Sudjana Kerton (22 November 1922[1] - 6 April 1994[2]) adalah seorang pelukis asal Indonesia.[3] Tempat tinggal Sudjana Kerton terletak di Dago Pakar, Kota Bandung.[4] Masa mudanya dilalui pada masa transisi politik negara dari Hindia Belanda menjadi Republik Indonesia yang merdeka. Karena itu, lukisan Kerton menunjukkan era revolusioner Indonesia. Dia adalah seorang seniman dari sebuah generasi yang sadar global, politik aktif, dan sangat terlibat dengan pertanyaan estetika dan formal. Kerton diakui sebagai salah satu seniman Indonesia yang paling asli dan kontroversial.
Sebagai seorang pemuda, Kerton telah banyak berinteraksi baik dengan warga Indonesia maupun Belanda. Setelah Indonesia merdeka, Kerton bergabung dengan seniman lain yang bekerja dengan pemerintahan nasional Soekarno yang baru.[butuh rujukan] Pada periode tahun 1945 hingga 1949, ia bekerja sebagai jurnalis gambar untuk Harian Patriot.[5] Gambarnya mendokumentasikan upaya kemerdekaan Indonesia di medan perang, di meja perundingan dan dalam pertemuan rahasia bawah tanah.
Selama periode revolusi Indonesia, ideologi Kerton yang berjalan bersama dengan gerakan anti-Belanda dan dia harus pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Melalui sketsa dan gambar, ia mengabadikan beberapa acara sejarah yang penting, termasuk perpindahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia pada tahun 1949. Rasa nasionalisme kerasnya terbawa ke dalam karyanya dan banyak dari lukisannya menyampaikan rasa bangga kepada negaranya.
Pada awal 1950-an, Kerton belajar seni dan hidup dalam budaya yang sangat berbeda.[butuh rujukan] Ia melakukan perjalanan ke Belanda, Paris, Amerika Serikat, dan Meksiko.[6] Di Meksiko, ia mempelajari peran seniman selama revolusi Meksiko.[butuh rujukan]Kerton kemudian belajar di Art Students League di Kota New York.[7] Lukisan buatannya dinilai oleh Yasuo Kuniyoshi sebagai pengkritiknya selama menjadi murid.[8] Selain itu, ia dibimbing oleh Harry Sternberg.[butuh rujukan] Salah satu ukiran kayu buatan Kerton dipilih oleh UNICEF untuk kartu Natal pada tahun 1964.[9] Ukiran tersebut berjudul Homeward. Ukiran kayu yang menggambarkan sebuah keluarga pulang dari pekerjaan sehari-hari di ladang.
Kerton menetap di salah satu kota di Amerika Serikat yaitu Kota New York hingga tahun 1976 untuk bekerja sebagai seniman.[10] Selama di Amerika Serikat, ia menikah dngan seorang wanita berkebangsaan Amerika Serikat dan memiliki seorang putri bernama Candra.[11] Kehidupan sehari-hari setelah kembali ke Indonesia menjadi tema tetapnya, di mana ia menempatkan nada ke warna-warna berani serta pemandangan hidup.