Studi perang merupakan salah satu studi dalam ilmu Hubungan Internasional yang berfokus pada sebab, dinamika, dan dampak konflik antarnegara maupun aktor non negara. Menurut Waltz (1979), penyebab perang dapat dianalisis melalui three level of analysis: individu, negara, dan sistem internasional. Pendekatan ini menegaskan bahwa perang bukan hasil dari perilaku pemimpin, tetapi dipengaruhi struktur politik domestik serta anarki dalam sistem internasional. Selain itu, pandangan realisme menyebut perang sebagai unavoidable dalam politik global. Morgenthau (1948) berpendapat bahwa konflik dan perang muncul karena perebutan kekuasaan yang bersifat abadi dalam hubungan antarnegara. Namun, pandangan liberalisme menawarkan sudut pandang berbeda dengan menekankan peran institusi internasional dalam mencegah konflik. Doyle (1986) misalnya, menyoroti teori democratic peace yang berargumen bahwa negara demokratis menghindari perang antar sesama negara.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Studi perang merupakan salah satu studi dalam ilmu Hubungan Internasional yang berfokus pada sebab, dinamika, dan dampak konflik antarnegara maupun aktor non negara. Menurut Waltz (1979), penyebab perang dapat dianalisis melalui three level of analysis: individu, negara, dan sistem internasional. Pendekatan ini menegaskan bahwa perang bukan hasil dari perilaku pemimpin, tetapi dipengaruhi struktur politik domestik serta anarki dalam sistem internasional. Selain itu, pandangan realisme menyebut perang sebagai unavoidable dalam politik global. Morgenthau (1948) berpendapat bahwa konflik dan perang muncul karena perebutan kekuasaan yang bersifat abadi dalam hubungan antarnegara. Namun, pandangan liberalisme menawarkan sudut pandang berbeda dengan menekankan peran institusi internasional dalam mencegah konflik. Doyle (1986) misalnya, menyoroti teori democratic peace yang berargumen bahwa negara demokratis menghindari perang antar sesama negara.[1]
Dalam kajian kontemporer, perang juga mengaitkan isu non-tradisional seperti terorisme, dan konflik etnis. Kaldor (2012) menyebut fenomena ini sebagai new wars yang lebih kompleks karena melibatkan actor transnasional dan motivasi identitas, bukan sekadar perebutan wilayah. Perang saat ini sering kali berkaitan dengan perebutan sumber daya alam, perubahan iklim, serta informasi digital Dengan demikian, studi perang tidak hanya relevan untuk memahami dinamika kekerasan antarnegara, tetapi juga penting dalam merumuskan strategi perdamaian global. Analisis interdisipliner yang menggabungkan teori klasik dan isu kontemporer memberikan pemahaman lebih utuh mengenai mengapa perang terjadi dan bagaimana mencegahnya.[butuh rujukan]