Stasiun Lamaran (LMR) adalah Stasiun kereta api nonaktif kelas II yang terletak di Palumbonsari, Karawang Timur, Karawang. Stasiun yang memiliki percabangan menuju Rengasdengklok ini termasuk dalam Wilayah Penjagaan Aset I Jakarta dan dahulu stasiun ini juga bisa dibilang stasiun penting karena memiliki percabangan menuju Rengasdengklok yang salah satu distriknya menjadi daerah dengan penggilingan padi terbanyak.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Stasiun Lamaran (LMR) adalah Stasiun kereta api nonaktif kelas II yang terletak di Palumbonsari, Karawang Timur, Karawang. Stasiun yang memiliki percabangan menuju Rengasdengklok ini termasuk dalam Wilayah Penjagaan Aset I Jakarta dan dahulu stasiun ini juga bisa dibilang stasiun penting karena memiliki percabangan menuju Rengasdengklok yang salah satu distriknya menjadi daerah dengan penggilingan padi terbanyak.[1]
Stasiun Lamaran
| ||
|---|---|---|
| Lokasi |
| |
| Koordinat | {{WikidataCoord}} – missing coordinate data | |
| Operator | ||
| Letak | ||
| Layanan | Tidak ada layanan. | |
| Konstruksi | ||
| Jenis struktur | Atas tanah | |
| Informasi lain | ||
| Kode stasiun |
| |
| Klasifikasi | II[3] | |
| Sejarah | ||
| Dibuka | 15 Juni 1919[butuh rujukan] | |
| Ditutup | 2 September 1981 | |
| Lokasi pada peta | ||
| Lua error in Modul:Mapframe at line 382: Unable to get latitude from input '<span style="font-size:100%" class="error"><span style="font-size:100%" class="error"><span style="font-size:100%" class="error">{{WikidataCoord}} – missing coordinate data</span> – missing coordinate data</span> – missing coordinate data</span>'.. | ||
Pada zaman kolonial, Karawang memiliki peran sebagai lumbung padi terbesar di Jawa bagian barat. Selain menyediakan infrastruktur kereta api, juga menyediakan infrastruktur irigasi, yakni Bendung Walahar dan Bendung Leuweung Seureuh.[4] Rengasdengklok, salah satu distriknya, menjadi daerah dengan penggilingan padi terbanyak dengan mencatatkan 30 penggilingan. Meskipun kereta api di jalur utama sudah mendukung fungsi logistik, wilayah pelosok Kabupaten Karawang masih belum dijangkau, sehingga SS memilih untuk membangun trem dengan sepur 600 mm (1 ft 11+5⁄8 in) karena lebih murah.[1]
Trem yang dijalankan di lintas ini terdiri dari sebuah lokomotif uap yang menarik dua wagon (dapat berupa kereta atau gerbong). Wagon (baik berupa kereta atau gerbong), memiliki dimensi yang lebih kecil dibandingkan dengan kereta api untuk lintas utama/1.067 mm. Kapasitas penumpangnya juga tidak terlalu banyak dan mampu mengangkut penumpang maupun hasil panen. Rel yang digunakan menggunakan bantalan kayu, dan hanya dapat berjalan hingga maksimum 20 kilometer per jam (12 mph) bahkan ada masyarakat sekitar jalur yang mengatakan bahwa trem Karawang hanya secepat laju sepeda. Sistem tiket yang masih berpusat pada kondektur menyebabkan banyak Penumpang gelap berkeliaran sepanjang perjalanan.[5]
Jalur trem Cikampek–Wadas ditutup tanggal 1 Januari 1984 yang disebabkan oleh banyaknya Penumpang yang tidak membayar tiket. Akibatnya, PJKA mengalami kerugian dan bocor pendapatan, yang membuat PJKA tak mampu menghidupi Jalur cabang dan Jalur sekunder, sehingga perbaikan yang seharusnya dialokasikan untuk sarana-prasana lintas cabang dialihkan untuk perbaikan sarana-prasana di jalur utama. Selain itu, kecepatan kereta api yang melambat tak kunjung diperbaikinya prasarana yang ada membuat kereta api menjadi kalah bersaing dengan kendaraan pribadi maupun angkutan jalan raya.[6]
| Stasiun sebelumnya | Stasiun berikutnya | |||
|---|---|---|---|---|
| Cinango menuju Karawang |
Trem Karawang Karawang–Cikampek Sepur 600 mm |
Plawad menuju Cikampek | ||
| Trem Karawang Karawang–Rengasdengklok Sepur 600 mm |
Tegalsawah menuju Rengasdengklok | |||