Soemantri Praptokoesoemo adalah seorang aktivis, pekerja sosial, akademikus, sosiolog dan teknokrat asal Indonesia yang turut serta dalam Revolusi Nasional Indonesia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Soemantri Praptokoesoemo | |
|---|---|
| Lahir | (1912-06-12)12 Juni 1912 Kranggan, Temanggung, Hindia Belanda |
| Meninggal | 13 Maret 1992(1992-03-13) (umur 79) Jakarta, Indonesia |
| Almamater | Rechtshoogeschool te Batavia |
| Pekerjaan | pekerja sosial, akademikus, sosiolog, teknokrat |
| Tahun aktif | 1945-1969 |
| Dikenal atas | Sekretaris Jenderal Departemen Sosial R.I. |
| Karya terkenal | Pencipta lambang pembangunan sosial (Adicita Pekerjaan Sosial) pada tanggal 20 Desember 1949, Penggagas Organisasi Karang Taruna, Pendiri DNIKS |
| Suami/istri | RA. Yuliani Martohadinegoro (I) / Soerti Utami (II) |
| Anak | 3 |
Soemantri Praptokoesoemo (EYD: Sumantri Praptokusumo; 12 Juni 1912 – 13 Maret 1992) adalah seorang aktivis, pekerja sosial, akademikus, sosiolog dan teknokrat asal Indonesia yang turut serta dalam Revolusi Nasional Indonesia.
Soemantri Praptokoesoemo lahir di Kranggan, Temanggung pada tanggal 12 Juni 1912. Ia merupakan anak tertua dari tiga bersaudara. Ketika ayahnya meninggal dunia pada saat ia masih kecil, keluarga pindah ke Madiun dan diserahkan kepada pamannya yang seorang Bupati Wonosobo yang bernama Raden Mas Toemenggong Adipati Aryo Tjokrohadisoerjo.[1][2]
Ia kemudian disekolahkan di Inlandsche School selama satu tahun, sebelum ia kemudian pindah ke Blora untuk mengikuti pamannya yang seorang Adjunct Djaksa. Di sana, ia dimasukkan ke HIS dan tamat pada tahun 1926.[1][2]
Ketika ia melihat pamannya yang harus menyembah dan mlaku ndhodhok di hadapan salah seorang residen Belanda supaya ia dapat izin masuk sekolah tersebut, ia memutuskan untuk tidak menjadi pamong praja dan masuk OSVIA. Ia kemudian memutuskan untuk melanjutkan sekolah di MULO di Surabaya supaya ia dapat menjadi hakim. Cita-cita ini timbul karena ia melihat bahwa kedudukan hakim tidak berada di bawah residen sehingga tidak perlu menyembah residen.[2]
Sejak bersekolah di MULO, ia telah mendapat pengaruh dari berbagai tokoh nasionalis melalui pidato-pidato mereka. Ia juga merasakan adanya diskriminasi terhadap murid-murid yang masuk MULO dari HIS, yang mendapat perlakuan yang berbeda dengan murid-murid dari ELS. Pengaruh itu membawa ia dan kawan-kawan mendirikan perkumpulan anak-anak Indonesia dengan nama Indonesische MULO Vereeniging (IMV), di mana ia menjabat sebagai wakil ketuanya. Selain itu, ia juga bergabung dalam organisasi lainnya seperti Jong Java.[2]
Setamatnya dari MULO, ia pindah ke Bandung dan bersekolah di AMS. Ketika ia di Bandung, ia bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa Rechtshoogeschool te Batavia yang datang ke Bandung, terutama dari Mohammad Yamin, yang menyampaikan ide-ide mengenai nasionalisme. Setelah lulus dari MULO, ia kemudian menjadi anggota Pengurus Indonesia Moeda di Bandung.[2]
Soemantri sempat berkeinginan untuk melanjutkan studi di Prancis dan Belanda untuk memperdalam studi bahasa Prancis, namun ia gagal mendapatkan beasiswa untuk membawanya ke sana. Karena itu, ia kemudian melanjutkan sekolahnya ke Rechtshoogeschool te Batavia dengan jurusan sosiologi dan ekonomi. Ia lulus pada tahun 1942. Ketika ia menjadi mahasiswa, ia juga bergabung dalam organisasi Unitas Studiosorum Indonesiesis (USI), juga Jong Java dan Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia (PPPI).[2]
Ia menyelesaikan studinya ketika Jepang mulai menduduki Hindia Belanda. Ia kemudian bekerja di Bagian Sosial Kantor Perburuhan, Departemen Dalam Negeri di Jakarta. dengan tugas dalam Transmigrasi Petani ke Lampung dan juga urusan dalam Rōmusha dan bantuan untuk fakir miskin.[2][3]
Ketika Indonesia mendeklarasikan kemerdekaanya, kantor tempat Soemantri bekerja diubah menjadi kantor Kementerian Sosial di bawah pimpinan menteri Iwa Koesoemasoemantri. Ia kemudian bertugas sebagai pengibar bendera di kantor tersebut, meski ia sempat mendapat ancaman dari Kempeitai.[2]

Setelahnya, Soemantri Praptokoesoemo tetap bekerja di dalam kantor tersebut dan menjabat sebagai Sekretaris Jenderal di Departemen Sosial. Ia merupakan salah seorang penyusun organisasi Departemen Sosial dalam kementerian. Ia juga membentuk bimbingan sosial untuk membentuk anak-anak menjadi kurir untuk membantu menghubungi para gerilyawan Indonesia dan merampas senjata-senjata Belanda. Ia juga menciptakan lambang pembangunan sosial (Adicita Pekerjaan Sosial) pada tanggal 20 Desember 1949, yang kemudian diadopsi menjadi lambang Departemen Sosial, Pembimbing Pekerja Sosial, Pekerja Sosial Masyarakat dan selanjutnya digunakan menjadi dasar Lambang Satyalancana Kebaktian Sosial[4] Hari pembuatan lambang tersebut diadopsi pula sebagai Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN).[5][6][7]

Pada Tanggal 10 Oktober 1950, Soemantri Praptokoesoemo menemukan ide yang kemudian di rumuskan nama "Sikap Sosiawan" sebagai SUSPENSOS: Teladan bersahabat dan produktif.[8]
Pada tahun 1952, Soemantri menjadi pengacara dan memimpin delegasi Indonesia pada Konferensi Internasional Pekerja Sosial Ke-6, yang di selenggarakan di Madras, India.[9][10] Ia juga mewakili Kementerian Sosial Indonesia dalam berbagai konferensi sosial internasional seperti Konferensi Internasional Pekerja Sosial ke-13 (di Washington, Amerika Serikat, 1966)[11] dan The Interregional Expert Meeting on Social Welfare Organization and Administration, (di Jenewa, Swiss, 1967). Pada konfrensi ini Soemantri di angkat sebagai Agence of International of Social Services untuk Indonesia.[12]
Pada masa Menteri Muljadi Djojomartono, ia mendirikan berbagai lembaga dalam kementerian sosial seperti Balai Persiapan Pekerjaan Sosial/Balai Penyelidikan dan Penyanderaan Sosial (BPPS), Balai Penelitian Kesejahteraan Sosial (BPKS), serta Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (B2P3KS) di Yogyakarta pada tahun 1952.[13][14][15] Ia juga menerapkan moto Tat Twam Asi dalam Kementerian Sosial pada tahun 1958.[5] Ia juga merupakan pencetus pelaksanaan Lembaga Sosial Desa (LSD) pada tanggal 5 Mei 1952. Pada tanggal 7 Mei 1962 dalam Musyawarah Pendewasaan LSD Lembaga Sosial Desa Djawa Tengah di Kota Semarang, Soemantri Praptokoesoemo di beri gelar "Bapak L.S.D.".[16][17][18][19]
Soemantri merupakan salah satu penggagas organisasi Karang Taruna pada 26 September 1960 untuk menampung kegiatan para remaja.[2] Ia juga merupakan salah satu penggagas dari Sekolah Pekerja Sosial Tingkat Atas, yang dioperasikan di Bandung, Yogyakarta dan Malang, juga pendidikan lanjutannya berupa Akademi Pendidikan Pekerja Sosial. Kedua lembaga tersebut diresmikan pada tahun 1964 oleh Menteri Sosial saat itu, Rusiah Sardjono.[20]
Setelah terjadinya Gerakan 30 September, ia membekukan Sarekat Sekerdja Sosial dan sebagai gantinya, ia mendirikan Ikatan Keluarga Sosial. Ia kemudian pensiun dari Kementerian Sosial pada tahun 1969.
Pada tahun 1952, Soemantri menjadi salah satu pengurus Yayasan Guna Dharma, yayasan penggalangan dana bagi pendirian asrama-asrama mahasiswa Universitas Gadjah Mada.[21] Empat tahun kemudian, ia menjabat sebagai dosen luar biasa di Fakultas Sosial Politik di kampus tersebut.[22]
Pada tanggal 18 November 1961, Soemantri Praptokoesoemo berperan dalam mendirikan Fakultas Kesejahteraan Sosial (saat ini Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) di Universitas Muhammadiyah Jakarta, yang didukung oleh Muljadi Djojomartono sebagai menteri sosial. Ia kemudian menjabat sebagai guru besar dan dekan di sana dari tahun 1961 hingga 1985.[23][24]
Selain itu, ia juga berperan dalam pendirian dan pengembangan Fakultas Ilmu Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia. Pada tahun 1978, ia diangkat menjadi guru besar luar biasa di fakultas tersebut.[2][25][26] Soemantri Praptokoesoemo juga aktif menjabat sebagai guru besar di berbagai universitas seperti Politeknik STIA LAN Jakarta, Universitas Atmajaya, Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian, Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Politeknik Kesejahteraan Sosial, dan Universitas Padjajaran.[2] [27][28]
Soemantri Praptokoesoemo merupakan salah satu pelopor berdirinya Panti Rehabilitasi Penderita Cacat Netra "Wisma Tan Miyat" (sekarang Panti Sosial Bina Netra "Tan Miyat") yang diresmikan pada tanggal 20 Desember 1959.[29][30] Dan pada tahun 1961, panti rehabilitasi tersebut dikembangkan menjadi Sekolah Luar Biasa "Tan Miyat" bagi anak-anak tunanetra. Ia juga merupakan pendiri Taman Kanak-Kanak An-Nur pada tahun 1987, yang menerima anak-anak terlantar dan tidak memungut biaya pendidikan.[butuh rujukan]
Pada masa Orde Baru, ia bersama rekan-rekannya mendirikan Komite Nasional untuk Kesejahteraan Sosial, sebuah organisasi sosial nonpemerintah, pada 17 Juli 1967. Kemudian organisasi tersebut diubah menjadi Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), di mana ia menjabat sebagai sekretaris jenderalnya.[31][32][33][34][35] Ia juga menjabat sebagai pimpinan berbagai yayasan yang bergerak di bidang sosial, seperti Yayasan Bunga Kemboja yang bergerak dalam pemulasaran jenazah dimana Soemantri Praptokoesoemo adalah salah seorang pendirinya dan Yayasan Dana Bantuan yang bergerak dalam pemberian dana bantuan bagi siswa miskin.[36]
Pada tahun 2002, ia dianugerahi penghargaan Perintis Pendidikan Pekerjaan/Kesejahteraan Sosial dalam Konferensi Nasional Pekerja Sosial Profesional Indonesia tahun 2002 di Bandung.[37]
Soemantri Praptokoesoemo meninggal pada tanggal 13 Maret 1992 di Jakarta. Ia dikuburkan di tanah makam milik Yayasan Wredatama "Giri Tama" di Tonjong, Tajurhalang, Kabupaten Bogor.[butuh rujukan]
Soemantri Praptokoesoemoe telah menerima berbagai penghargaan atas kariernya dalam bidang sosial. Ia telah menerima Satyalencana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan, Satyalencana Dwidya Sistha, dan Satyalencana Kebaktian Sosial.[38] Selain menerima penghargaan sebagai Perintis Pendidikan Pekerjaan/Kesejahteraan Sosial Indonesia, ia juga sempat dinominasikan sebagai penerima Anugrah Hamengkubuwono IX pada tahun 1991, tetapi karena ia tidak dapat menghadiri kegiatan tersebut akibat sakit, ia tidak mendapatkannya.[butuh rujukan]